31. Degeun Degeun (Hayfa)

4.5K 781 22
                                        

AKU menoleh kearah samping kananku dan menatap bingung kearah Zhang Yi. Ya dia terlihat lelah bahkan nafasnya terdengar memburu, kurasa pria itu tadi berlari. Zhang Yi berhenti disampingku. Kebetulan aku duduk di kursi halte, sekarang hanya bisa menatap bingung padanya.

Tak lama Zhang Yi tersenyum disela-sela nafas memburunya sampai deretan giginya terlihat.

"Kau benar-benar menungguku. Syukurlah," ucapnya.

Aku menghela nafas. "Kau yang memohon padaku, dan aku juga tidak mungkin meninggalkanmu, Sunbae-nim."

Zhang Yi tersenyum semakin lebar. "Kenapa? Apa karena kau sudah mencintaiku? Kata-katamu terdengar ambigu."

Aku tersenyum pahit. "Apa kau memang sepercaya diri ini?"

Zhang Yi terkekeh lalu duduk tepat disampingku. Aku menggeser posisiku agar ada jarak diantara kami. Kebetulan halte bus disini sepi, tumben. Biasanya halte bus disini selalu ramai atau mungkin ini masih jam kerja? Entahlah.

Kami menunggu bus datang, biasanya 15 menit lagi bus akan sampai. Aku menatap kearah jalanan yang penuh kendaraan berlalu lalang. "Bagaimana?" tanyaku membuka suara.

"Mwo?" tanyanya.

Aku menoleh kearah Zhang Yi. Zhang Yi juga sedang menatapku penuh tanya. "Bagaimana tadi? Apa kau sudah mengerti kondisi ibumu?"

Zhang Yi menunduk, kulihat dia juga tersenyum. "Ya, kau benar. Harusnya aku mengerti kondisi ibuku, bagaimana selama ini jika aku berada diposisinya. Aku terlalu egois, aku hanya peduli pada rasa sakitku saja, tanpa aku ketahui bahkan ibuku jauh lebih sakit dari pada aku," jawabnya.

Aku tersenyum mendengar jawaban Zhang Yi, akhirnya dia sadar juga. Aku menghela nafas, aku jadi teringat pada Ummiku sendiri. Aku sedikit menundukkan kepalaku.

Aku bahkan tidak berada disisinya saat detik-detik terakhirnya. Mengingat ini membuatku sesak, aku menghela nafas. Sudahlah Hayfa, jangan ingat lagi. Rindu boleh, tapi jangan sampai rindu itu membuatmu lupa bahwa sejatinya kau sudah mengikhlaskannya.

"Terima kasih." Aku menoleh kearah Zhang Yi. Pria itu tersenyum hangat kearahku.

Deg

"K-Kenapa?" Aku mengalihkan pandanganku kedepan.

Terdengar helaan nafas dari mulut Zhang Yi. Aku sedikit melirik Zhang Yi, pria itu tetap tersenyum seperti tadi. Dengan sekali hentakan aku melihat kearah depan kembali seraya beristighfar. Apa yang terjadi padaku? Kenapa jantungku berdetak cepat saat Zhang Yi tersenyum seperti itu. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu melepaskannya perlahan, mencoba melepas detak an tidak normal dari jantungku.

"Terima kasih. Berkatmu aku bisa membuka mataku, aku kembali bisa merasakan kasih sayang ibuku, terima kasih," ucapnya.

Aku tersenyum. "Jangan berterima kasih padaku, ibumu-lah yang berusaha keras untuk kembali menjadi ibumu."

Tidak ada respon. Aku melirik kerah Zhang Yi, pria itu kembali menunduk. Tak lama Zhang Yi menatapku sesaat lalu menatap kearah depan.

"Bolehkan aku berdoa untuk ibumu?" Aku terdiam lalu menatap bingung kearahnya. Zhang Yi tersenyum tanpa melihat kearahku. "Meskipun aku tidak percaya pada Tuhan, tapi kali ini aku ingin berdoa kepada-Nya untuk menyampaikan salamku untuk ibumu. Aku ingin berterima kasih pada ibumu yang sudah melahirkan bidadari secantik dan sebaik dirimu," lanjutnya.

Deg Deg Deg

Aku membeku seraya memegang dadaku, aku hanya bisa mengalihakan pandanganku dan beristighfar. Untung saja busnya sudah datang, dengan terburu-buru aku masuk kedalam tanpa membalas ucapan Zhang Yi. Bus hampir terisi penuh, hanya tersisa dua kursi dibarisan kelima.

Islammu Maharku (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang