"TADI siapa kak?"
Aku yang masih menatap pintu apartemen menoleh ke asal suara, disana sudah ada Hafidz dan Kak Hamish yang memandangiku penuh tanya.
"Ah tadi itu Zhang Yi tetangga sekaligus senior aku di kampus," jawabku.
"Ga lebih kan?" tanya Kak Hamish menatapku penuh selidik.
Aku hanya mengangguk lirih. Sejujurnya aku tidak tahu kenapa aku menjadi ragu seperti ini? Apalagi Zhang Yi jelas sekali jika ia marah, dan kenapa aku terlihat panik? Dan kenapa aku buru-buru menjelaskan kepadanya?
Kak Hamish dan Hafidz adalah kakak dan adikku. Kak Hamish adalah anak dari tanteku, Sofia. Sedangkan Hafidz adalah adikku alias saudara kandungku. Dan kak Hamish adalah saudara sepersusuan karena saat aku lahir, aku beberapa kali pernah disusui oleh tanteku sendiri. Karena itu secara tidak langsung aku dan Kak Hamish seperti saudara kandung atau mahramku, itulah kenapa kak Hamish bisa menyentuh kulitku tanpa takut kami berdosa.
"Bang, tadi tuh cowok marah-marah mulu sama kak Hayfa," ucap Hafidz. "Mana di lift pake acara senggol-senggol gue segala terus bilang gue noisy. Yaiyalah gue noisy, orang gue ga ngerti dia ngomong apaan," lanjutnya.
"Tadi dia juga nanya hubungan gue sama Hayfa. Gue kerjain aja sekalian, kepo banget jadi cowok," sambung Kak Hamish.
Aku menghela nafas. Memang ya mereka ini, tidak ada habis-habisnya. Perlakuan mereka kepadaku memang begitu protektif dan juga perhatian. Dulu teman sekolahku bahkan mengira bahkan aku dan Hafidz ataupun Kak Hamish seperti sepasang kekasih.
"Udah-udah, kita makan aja ya?" Aku langsung berjalan menuju dapur, untung aku tadi sempat mematikan kompor sebelum berdebat dengan Zhang Yi. Jadi tidak ada acara makanan menjadi gosong lagi.
"Lah cowok tadi gimana kak?" tanya Hafidz.
"Gatau. Katanya udah kenyang," jawabku tanpa menoleh ke arah Hafidz.
"Dih caper pasti tuh cowok."
"Bener kata cowok tadi, lu tuh noisy banget Fidz. Cowok jangan suka nyinyir, dower tuh bibir kelar lo!" ejek Kak Hamish.
"Dih paan lu bang," sewot Hafidz.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Sudah lama aku tidak melihat percekcokan antara kakak dan adikku ini, benar-benar membuatku rindu. Dengan sedikit terkekeh aku kembali melanjutkan aktivitas memasakku.
***
"Mencintai seseorang yang bukan untuk kita atau kita mencintai seseorang yang tidak mencintai kita adalah satu perkara yang sangat pedih untuk hati kita."
"Namun cinta itu tidak pernah salah karena cinta itu anugerah dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Jadi apa yang bisa kita lakukan? Kita harus bimbing perasaan kita, kita harus didik hati kita. Doa kepada Allah supaya hati kita tidak jatuh cinta kepada orang yang bukan untuk kita."
"To fall in love itu adalah hak kita. But, to make people terima cinta kita adalah suatu perkara yang bukan milik kita. Jadi, jika kita mempunyai perasaan kepada 'somebody', kita mempunyai rasa ketertarikan kepada seseorang, apa yang harus kita buat ialah cari cinta Allah Subhanahu wa ta'ala."
"Bukankah pernah terjadi pada kisah Nabi Yusuf As.? Ketika Zulaikha mengejar cinta Nabi Yusuf Allah menjauhkan Nabi Yusuf dari Zulaikha. Tetapi ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah dekatkan Nabi Yunsuf untuk Zulaikha."
Aku menghela nafas lalu melepaskan earphone dari telingaku. Aku menatap lelah ke taman didepanku. Hari ini aku ada kelas siang. Jadi selesai memasakkan makanan untuk kakak dan adikku, aku langsung berangkat untuk mengikuti kelas. Dan kali ini karena jam kelasku sudah selesai, aku hanya ingin duduk menikmati indahnya siang hari di taman depan fakultasku. Aku tidak bersama teman-temanku karena sekarang kami beda jam kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Islammu Maharku (Sudah Terbit)
SpiritualVersi Revisi ada dibuku **** "Aku mencintaimu, tapi kenapa kau menolakku? Aku tampan, pintar, populer dan aku bisa melakukan apa pun dengan mudah. Apa yang kurang dariku?" -Zhang Yi "Kau sangat tampan. Wanita mana pun jika dijadikan kekasih olehmu m...
