AKU menekan bel apartemen Hayfa. Barusan aku mendapat kabar jika Hayfa sudah pulang lebih dulu. Tak lama Hayfa membuka pintu apartemennya dan menatapku sekilas. "Ada apa Sunbae datang kemari?" tanya Hayfa dengan nada menyelidik.
"Ey ... Kau kan sudah berjanji akan membuatkanku Budae Jigae. Jadi, aku akan menagihnya sekarang," ucapku santai.
Terdengar Hayfa menghela nafasnya. "Tidak bisakah Sunbae memintanya nanti saja? Aku tengah sibuk sekarang," ucapnya.
Aku mengangkat ujung bibirku. "Tidak bisa. Aku ingin sekarang, kau sudah berjanji."
"Baiklah Baiklah ... Aku akan membuatkannya untukmu, kembali lagi nanti. Aku harus berbelanja dulu," ucapnya menghela nafas kecil.
"Ah oke aku ikut kau berbelanja" Aku lihat mata Hayfa melebar, terkejut melihatku.
"Tidak tidak Sunbae ... Kau menunggu saja, tidak usah mengikutiku, aku sedikit—" ucap Hayfa menganggantung. Aku menunggu. "Sedikit?"
"Sedikit ... eum ..." Aku mengangkat sebelah alisku, bingung karena gadis didepanku sedikit berbelit-belit. "Sedikit gugup?" ucapku tersenyum menggoda.
Hayfa terlihat gelalapan. "Tidak! Astagfirullah, ah tidak lupakan. Kau tunggu saja di apartemenmu Sunbae, aku pastikan nanti jika sudah siap kau bisa menikmatinya sesukamu," ucapnya.
Aku hanya mengangguk-angguk kepalaku, lalu tersenyum. "Baiklah. Kau yang berbelanja, aku yang akan menemani. Bagaimana?"
Hayfa sedikit tidak terima. "I-Itu bukannya sama saj—"
Belum sempat gadis itu melanjutkan ucapannya, aku sudah meletakkan jari telunjukku didepan bibirnya seraya tersenyum tapi tenang saja, aku tidak menyentuhnya, kalian tau sendiri jika Hayfa membenci skinship. Hayfa menatapku terkejut lalu gadis itu menunduk, "B-Baiklah, Sunbae bisa ikut denganku tapi jaga jarak dariku"
Aku terkejut. Baru kali ini Hayfa sedikit menyuruhku menjauh darinya. Ya Walau sebelum-sebelumnya memang ada sedikit jarak diantara kami. Tapi kali ini memang membuatku terkejut, ini pertama kalinya dia berterus terang seperti ini. Aku tersenyum mengejek. "Tumben sekali kau menyuruhku seperti itu? Sepertinya sebelumnya kau tidak menyuruhku melakukannya?"
Hayfa menatapku sekilas lalu menunduk, kulihat dia sedikit tersenyum. Dan yang aku tau, itu adalah senyum yang dipaksakan. "Aku sekarang sudah sadar Sunbae, agamaku melarangku berdekatan dengan lawan jenis, takut jika wanita muslim sepertiku akan terkena fitnah dan benar saja itu terjadi," ucapnya lirih.
"Maksudmu apa Hayfa-ya?" Aku menatapnya menuntut untuk mendapat penjelasan.
Oke. Aku sedikit tidak rela dirinya terlalu dipasung agama, tapi gadis ini keras kepala dan ada saja arumen penjelasan yang menguatkannya. Disini, memang Hayfa yang pandai berbicara atau agamanya yang benar?
"Tolong Sunbae bantu aku untuk melaksanakan ajaran agamaku, kumohon," pintanya. Hayfa menatapku seperti anak anjing, hei itu menggemaskan kau tahu? Aku tidak bisa melihat Hayfa dengan tatapan memohon dan lembut seperti itu. Ini melemahkanku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat, mencoba menghilangkan rasa gemasku melihat Hayfa. "Masa bodoh! Kau pikir aku peduli? Tidak. Aku tidak akan berhenti untuk mengejarmu," ucapku menatapnya tajam.
"Sunbae, kumohon," mohonnya. Aku mendengus, menoleh kesamping, aku tidak ingin melihat tatapan seperti tadi.
Jika seperti ini, ayo jalankan rencananya. Aku mengangkat ujung bibirku lalu merogoh sesuatu disaku celanaku. "Kau tau ini Hayfa?"
Hayfa terlihat bingung tapi aku semakin menunjukkan seringai ku. "Ini adalah ponselmu bukan?" Aku menghidupkan ponsel Hayfa lalu menunjukkan home screen dan lock screen-nya yang terpampang wajah cantiknya. "Bagaimana?" seringaiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Islammu Maharku (Sudah Terbit)
EspiritualVersi Revisi ada dibuku **** "Aku mencintaimu, tapi kenapa kau menolakku? Aku tampan, pintar, populer dan aku bisa melakukan apa pun dengan mudah. Apa yang kurang dariku?" -Zhang Yi "Kau sangat tampan. Wanita mana pun jika dijadikan kekasih olehmu m...
