[Spiritual-Romance]
"Jadi, mau nggak, Ra?"
"Enggak! 'Kan masih kecil."
"Oh, berarti kalo udah gede, mau nerima?"
"Mau, tapi ... dia harus bisa ajarin aku MTK dulu, sampe nilaiku dapet 100 semua."
Orang-orang yang mendengar jawabanku tertawa.
Tiba-ti...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maher yang menangkap ekspresi aneh kami, berdeham. Membuatku dan Clemira segera memutus tatapan tajam kami. Kembaranku itu mendekat pada Arsen dan membisikkan sesuatu yang masih dapat kudengar.
"Sen, masih lama, gak? Soalnya, ada kayu yang kebakar, nih."
Apa maksudnya, coba?
"Sebentar, ya. Kayaknya sih, masih setengah jam-an lagi. Nanti aku traktir ke MkD, deh."
Ya Allah, masih setengah jam lagi? Oh, bertahan tiga puluh detik saja aku sudah sangat ingin menyerah. Apalagi jika harus bertahan sampai tiga puluh menit ke depan?
Dan semoga saja, bukan hari ini kami pergi ke MkD alias Mari kita Dahar. Sebab aku sudah sangat lelah dan ingin segera memeluk gulingku tercinta!
Kemudian Arsen menatapku lama dan tampak sedang berpikir. Sekonyong-konyong detak jantungku berpacu dengan cepat.
"Ngapain sih, dia? Ngapain juga aku baper gini?"
"Eh, kita ke MkD-nya besok aja, ya. Soalnya udah malem banget, nih. Besok 'kan kita sekolah, ada jam PJOK, pula."
Alhamdulillah … ternyata Arsen peka juga. Atau ini hanya kebetulan belaka?
"Oh, ya udah. Kami mah ngikut aja."
"Sip deh."
"Sen," panggil Clemira dengan tatapan aneh yang seketika membuatku kesal, "kira-kira kamu mau nerima tawaran main film AM, nggak? Kalo mau, nanti kita bisa jadi pasangan main film bareng lagi." Ia tampak tersenyum malu-malu.
Ya ampun, hei! Ia sadar tidak, sih? Ia sangat tidak pantas bertingkah malu-malu dengan penampilannya yang malu-maluin begitu!
Bayangkan saja! Masa remaja berumur lima belas tahun berdandan menor layaknya tante-tante tiga puluh tahun? Bahkan dandanan mbak-mbak dua puluh tahun saja masih kalah, dengan dandanannya.
"Astagfirulah."
Ya Allah, maafkan hamba yang telah menghujat orang di dalam hati begini. Habis kelakuannya memang minta dihujat, sih!
"Eh! Astagfirullah!"
"Hei!"
Aku tersentak. Lantas memandang Clemira yang baru saja menyeru sambil menatapku dengan pikiran yang entah memikirkan apa.
Wah, dengan jarak ini, aku bisa melihat dengan jelas setiap inci wajahnya yang terpoles make-up. Dandanan ratu instantgram itu semakin terlihat menor kalau dilihat dari jarak yang cukup dekat.
Aku menaikkan alis kiri, seolah bertanya ‘kenapa?’
"Gak pa-pa," katanya, singkat.
Huh, dasar aneh!
"Pft!"
Aku dan Clemira dengan kompak menatap Arsen yang tampak tengah menahan tawa.