[Spiritual-Romance]
"Jadi, mau nggak, Ra?"
"Enggak! 'Kan masih kecil."
"Oh, berarti kalo udah gede, mau nerima?"
"Mau, tapi ... dia harus bisa ajarin aku MTK dulu, sampe nilaiku dapet 100 semua."
Orang-orang yang mendengar jawabanku tertawa.
Tiba-ti...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Loh, Arsen mana, ya?"
"Tumben banget dia belum dateng," timpal Meher.
"Coba chat aja, Ra!" usul Maher.
Sekali lagi, aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Kemudian merogoh saku rok abu-abuku untuk mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Arsen.
"Hah? Udah duluan? Kok gitu, sih? Ish, nyebelin!"
"Wah, tumbenan amat tuh bocah udah duluan. Biasanya juga selalu bareng kamu mulu, makanya kita sering duluan ke kelas sama Arsel. Ya gak, Er?"
"Iya dong!"
Aku menatap keduanya heran. "Emang apa hubungannya?"
"Enggak pa-pa, pengen aj--"
"--Kata Maher biar kalian bisa berdua aja, Ra. Aku juga awalnya gak setuju, tapi karena suasana sekolah pastinya rame, akhirnya aku setuju, deh."
Aku menjatuhkan delikan tajam pada Maher, membuat lelaki itu tampak meringis.
"Daripada ngomel, mending kamu masuk dan kerjain tugas piketmu aja, deh!"
Aku mendesis sebal, lantas menaruh ponselku ke dalam saku rok. Lalu melangkah mendekati ruang guru dan masuk ke dalamnya dengan perasaan dongkol, sedangkan Meher dan Maher menunggu di luar ruangan.
"Eh, bentar, tapi, apa dia masih sakit, ya? Padahal kemarin udah baik-baik aja dan udah bisa jahil kayak biasanya, deh. Ah, udah, lah! Kenapa aku jadi mikirin si Tuan Muda Nyebelin gini, sih?"
Setelah selesai mengambil sapu dan pengki, aku bergegas menuju ruang kelas karena sekitar 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi.
"Sen, kamu masih kurang enak badan, ya, makanya duluan?" tanyaku, begitu sampai ke kelas.
Aku yang sedang menaruh tas ranselku di atas bangku--begitu juga dengan Maher dan Meher, melihat Arsen yang semula menunduk di atas lipatan tangan pada meja, mengangkat kepala dan menoleh ke arahku.
"Orang mah kalo masuk kelas tuh, ucap salam dulu, kek. Main nyerocos aja!"
Aku menjawab sambil mulai menyapu lantai kelas, "Ya abisnya tumben banget. Soalnya 'kan sebelum ini meski kamu sakit, kamu belum pernah piket duluan dan ninggalin aku."
"Emangnya aku siapanya kamu harus bareng kamu mulu?"
"E--"
"--Ya, gak salah sih, tapi--"
"--Hei, Nona Cerewet! Nanti belajarnya sebentar aja, ya! Biasanya 'kan lima belas menit, nah, sekarang sepuluh menitan aja, ya. Lagian juga abis istirahat 'kan ada mapel MTK."