[Spiritual-Romance]
"Jadi, mau nggak, Ra?"
"Enggak! 'Kan masih kecil."
"Oh, berarti kalo udah gede, mau nerima?"
"Mau, tapi ... dia harus bisa ajarin aku MTK dulu, sampe nilaiku dapet 100 semua."
Orang-orang yang mendengar jawabanku tertawa.
Tiba-ti...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ih, sok cantik banget!"
"Tau, ya … muka standar kek gitu, juga."
"He-eum, sok-sokan banget."
"Iya betul, masih mendingan si Clemira."
"Clemira mah mau ngapain aja bebas, cantik ini. Lah, dia?"
"Kerudung kayak mukena, tapi kelakuannya kok lebih buruk dari Clemira yang hobi umbar aurat, ya?"
"Aneh banget emang. Harusnya gak usah pake kerudung aja sekalian!"
"Apa maksud kalian?" Nada datar nan dingin itu terdengar menusuk telinga orang-orang di sana.
Aku hanya diam menatap Arsen yang kini melemparkan tatapan tajamnya pada beberapa siswi di sekitarku.
"Memang apa hubungannya kerudung dengan kelakuan seseorang?"
Mereka bergeming.
"Jawab!" bentak Arsen.
Arsen itu memang ceria dan mudah tersenyum. Namun, jangan sekali-kali membuatnya kesal. Dan hanya ada satu hal yang dapat membuatnya menjadi sangat amat kesal.
Agama.
Jangan pernah menjelekkan sesuatu--sedikit pun--yang berhubungan dengan agama.
Sungguh, topik itu benar-benar sensitif untuknya.
"Menutup aurat itu wajib bagi seorang muslimah, terlebih jika dilakukan dengan benar dan sesuai syariat Islam. Wajib. Wajib! Ngerti kata wajib, gak, sih? Atau perlu kujelaskan lagi, sebagaimana guru yang memberi penjelasan kepada anak TK?
"Salat juga wajib. Apa jika kalian mengira kelakuan buruk seseorang membuatnya nggak pantes menutup aurat, maka kalian pun mengira kelakuan buruk seseorang akan membuatnya nggak pantes untuk salat?"
Kulihat, Arsen tersenyum miring. Tak lupa dengan tatapan tajamnya yang masih terjatuh pada mereka.
"Bodoh."
Arsen mengucapkannya dengan singkat dan pelan, tetapi mampu menusuk hati orang-orang yang mendengarnya.
Ia bersedekap. "Makanya, kalo punya otak tuh dipake yang bener. Dipake buat mikirin agama, bukannya buat mikirin kejelekan orang. Dipake buat nyimpen ilmu agama, bukannya buat nyimpen kejelekan untuk dilempar ke orang.
"Makanya, kalo punya mata tuh dipake yang bener. Dipake buat liat sesuatu yang bermanfaat, bukannya buat liat sesuatu yang ngasih mudharat.
"Makanya, kalo punya telinga tuh dipake yang bener. Dipake buat denger sesuatu yang udah pasti kebenarannya, bukannya buat denger sesuatu yang udah pasti keburukannya.
"Makanya, kalo punya mulut tuh dipake yang bener. Dipake buat ngomong yang baik, bukannya buat ngomong yang cuma bikin sesuatu jadi pelik.
"Gunain keempatnya yang bener. Jangan sampe otak, mata, telinga, dan mulut kalian menyesal menjadi pelengkap kalian, lalu mengadu ke Allah tentang betapa tercelanya perangai kalian--tentang betapa tercelanya cara kalian menggunakan mereka."