♥Math 33 - Please, Trust Me!

120 15 7
                                        

“Kepercayaan itu berharga.
Sekali sirna,
akan sulit kembali ke sediakala.”
📚📌LoveMath📍📊
-fa_mujahiddah11-

"Kira-kira, Arsen itu kehilangan siapa, ya, sampe-sampe bisa kayak gini keadaannya?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kira-kira, Arsen itu kehilangan siapa, ya, sampe-sampe bisa kayak gini keadaannya?"

Tunggu, sebentar!

Apa mungkin, Arsen kehilangan adik atau saudarinya?

Maksudku, Arsen 'kan tampak sangat amat menyayangi Arsel. Maher juga seperti itu, sih, tetapi entah mengapa, perhatian dan kasih sayang yang diberikan Arsen untuk Arsel tampak berbeda.

Arsen memang ramah, ceria dan senang melontarkan gurauan, tetapi ia selalu berhati-hati saat sedang bersikap demikian pada Arsel. Juga, ia tidak pernah sekali pun terlihat marah pada kembarannya itu.

Iya, mungkin karena Arsel-nya sendiri hampir tak pernah membuat kesalahan. Namun, hampir tak pernah bukan berarti benar-benar tak pernah, bukan?

Dan lagi, tatapan Arsen.

Setiap kali menatap sang kembaran, netra Arsen selalu menyorotkan kasih sayang yang begitu dalam, tetapi juga menyorotkan sekelebat rasa takut.

Jadi mungkin, setelah kehilangan adiknya yang lain--yang kemungkinan besar juga perempuan, Arsen jadi semakin menyayangi Arsel dan selalu bersikap hati-hati, serta berusaha sekeras mungkin guna melindungi Arsel.

Tujuannya?

Tentu agar ia tidak kehilangan sosok saudari untuk yang kedua kali.

"Hm … iya-iya, bisa jadi, tuh! Apalagi, orang tua mereka 'kan sama-sama sibuk kerja dan Arsel sendiri pun pernah tinggal di pesantren--"

Eh! Jangan-jangan, semua ini juga ada hubungannya dengan alasan Arsel pindah sekolah?

Sebab, bisa saja 'kan, kalau Arsel berbohong atau sekadar beralibi?

"Duh, ujung-ujungnya jadi suuzan gini! Hadeuuh, kamu sih, Ra! Sok tau banget sih, jadi makhluk sosial!"

Tiba-tiba, aku merasa tangan kananku digoyang-goyangkan oleh seseorang. Kala aku menoleh, terlihat Maher--yang baru kuingat sedang menggandeng tangan kananku--dan Meher--yang tangan kirinya digandeng Maher--tengah menatapku bingung sekaligus penasaran.

"Jangan kebanyakan mikir, Ra, entar otakmu protes!" kata lelaki beralis tebal dan bertampang setengah kalem setengah tengil itu.

Aku menatapnya datar. "'Kan mikir udah jadi tugasnya otak, Bang, ya biarin aja, sih!"

"Oh iya, lupa."

[SYaHS1] LoveMath | SELESAI✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang