Angin terus saja berhembus pelan, hingga suasana dingin pun seolah nusuk-nusuk kedalam kulitnya. Apalagi matahari yang nampak malu-malu menunjukan cahayanya.
Kicawan burung dan suara tukang sayur keliling seakan menjadi irama di pagi hari. Ditambah lagi, suara tukang koran yang tengah menawarkan jualannya.
Gerombolan anak kecil yang tengah bercanda dengan teman sebayanya, seolah mengingatkan dirinya kemasa lalu. Dimana hanya ada tawa bahagia dibibirnya, tanpa harus menyembunyikan luka ataupun masalah.
Dulu ia pikir, dewasa itu hanya beriringan dengan usia. Namun ternyata, banyak sekali masalah hidup yang datang silih berganti. Teman yang dulunya selalu dekat dengannya, kini saat berpapasan dijalan tak ada candaan seperti dulu, hanya ada suasana canggung yang menyelimuti atmosfer. Semuanya nampak berubah, semakin berjalannya waktu.
"Eh Salsa." Seorang ibu yang baru saja keluar dari halaman rumahnya menyapa dirinya. "Udah lama nggak ketemu, kok nggak main kesini lagi? Kalian berantem?"
Salsa tersenyum canggung menanggapi pertanyaan itu. "Salsa sama Rin baik-baik aja kok bu."
"Besok-besok kamu kesini, ibu kangen masakin kamu cilok." Ucapnya tersenyum tulus.
Cilok adalah makanan favoritnya. Setiap kali berkunjung kerumah ini, ia kerap kali dibuatkan cilok dengan varian bumbu yang mengunggah selera.
Salsa terkekeh pelan. "Yang ada, Salsa kangen masakan Ibu."
"Ibu tunggu loh kamu dateng kesini."
"Iya bu, nanti Salsa kesini."
"Duh Ibu lupa, malah ngajakin kamu ngobrolkan. Yaudah kamu berangkat, nanti ketinggalan angkot lagi."
"Salsa duluan ya bu."pamitnya, lalu berjalan kearah depan komplek perumahannya, menunggu si sopir angkot.
Resiko naik angkutan umum ya harus rela berdesak-desakan, apalagi pagi-pagi. Banyak orang yang berpergian, entah itu kepasar atau ketempat lain.
Salsa duduk diantara seseorang dan juga ibu-ibu yang membawa belanjaan.
"Maaf." Ucapnya pelan. Ia tak sengaja menyenggol bahu orang yang ada disampingnya itu. Pandangannya mengarah kearah depan, berharap ia segera sampai kesekolah.
"Kiri-kiri." Suara sang knek pun terdengar.
Salsa pun segera keluar,saat sekolah tempatnya menimba ilmu sudah ada didepan.
Salsa memberikan uang 20 ribuan kepada sang knek. "Yah Neng, Abang nggak ada kembaliannya. Baru narik."
"Saya juga nggak ada uang pas bang."
Seseorang pun keluar. "Ini bang, berdua sama dia."
Salsa nampak terkejut lantaran orang yang disampingnya tadi adalah Azrial. Pantas saja ia sangat tidak asing dengn jaket itu, walaupun tadi saat ia masuk kedalam angkot kepalanya tertutup hoodie sambil memainkan hp.
"Makasih dek. Yok maju-maju." Angkot pun sudah melaju pergi.
"Nanti gue ganti." Ucap Salsa menatap Azrial.
Azrial melirik sebentar kearah Salsa. "Udah nggak papa." Ia pun berjalan terlebih dahulu.
Salsa masih berdiri diam, memperhatikan kearah Azrial yang hendak pergi.
Azril berhenti melangkah saat ia menyadari Salsa tak mengikutinya. "Kenapa masih berdiri disitu, mau jadi satpam." Ucapnya datar.
Salsa mendengus sebal, namun tak ayal ia pun berjalan dibelakang Azrial.

KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Completed]
Fiksi RemajaDia yang pernah aku cintai, namun belum sempat aku katakan. Hingga akhirnya dia pergi bahkan tidak tahu kapan akan kembali. Namun kejelasan itu belum sempat aku dapatkan.