Jujur aku sangat membenci saat ada orang yang membohongiku dan mengecewakanku.
~Aku yang dibohongi dan dikecewakan~
Happy Reading
Sebenarnya aku mau langsung pulang, tetapi aku nggak mau Mama atau Papa lihat raut wajahku yang sedih. Jujur aku masih terlalu syok mendengar ucapan Mas Chandra tadi. Ini benar-benar di luar ekspektasiku. Tak pernah terbayangkan hubunganku dengannya akan berakhir seperti ini.
Aku berdiam diri di taman dekat kampus. Memandang langit sore yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap. Senja itu mirip dengan hubunganku dengan Mas Chandra. Indah dan dinanti banyak orang, tetapi menghilangnya pun juga secepat kilat. Seperti hubunganku yang indahnya hanya sesaat karena semua itu palsu. Cintanya untukku palsu.
"Kamu kenapa?" tanya seseorang.
Aku menoleh dan ternyata Mas Pram yang duduk di sebelahku.
"Mas Pram?"
"Kamu kenapa disini? Lagi ada masalah apa gimana?" tanya Mas Pram.
Aku menggeleng lemah dan berusaha tersenyum walau sulit, "Nggak kok,"
Mas Pram menyentuh tanganku, "Aku nggak akan paksa kamu bicara, tapi kalau kamu butuh tempat curhat, aku siap Nav, aku siap 24 jam untuk kamu," ujarnya.
Aku berusaha tersenyum, "Makasih Mas, tapi untuk saat ini aku ingin menyendiri dulu,"
Jujur aku belum mau cerita tentang masalahku ini dan apalagi Mas Pram ini adalah orang baru di hidupku. Aku ini tipe orang yang susah bercerita dengan orang yang baru ku kenal. Sama orang yang sudah bersahabat sejak lama seperti Dini pun aku masih enggan untuk cerita.
"Persiapan pelantikan, surat-surat udah beres Nav?" tanya Mas Pram mengalihkan pembicaraan.
"Udah tenang aja, semua undangan buat FEB udah aku sebar kok," jawabku.
"Sekretaris idaman deh. Nanti jangan kaget ya sama tugas-tugas sekretaris BEM Universitas," ujarnya.
"Tenang aja, aku menerima amanah itu dan Insyaa Allah aku sanggup. Yang penting nanti bimbing aku ya," balasku.
"Pasti Nav. Aku akan membimbing kamu, kita sama-sama belajar," ujarnya.
***
Dua hari berlalu. Sebenarnya hatiku masih galau mengingat perdebatan sengit antara aku dan Mas Chandra. Aku pun tak tahu apa aku masih bisa dibilang sebagai pacarnya atau bukan. Aku ingin lepaa dari orang itu.
Saat ini aku tengah bersiap-siap untuk acara pelantikan pengurus BEM Universitas.
"Presensi udah siap?" tanya seseorang yang suaranya familiar denganku.
Siapa lagi kalau bukan Chandra Abimanyu. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Masih terlalu malas untuk sekadar berbasa-basi dengan laki-laki ini. Rasa kecewa dan marah itu masih mendominasi.
"Jangan jual mahal kayak gitu jadi cewek. Entar nggak ada cowok yang bisa kamu gebet dan manfaatkan lagi," celetuknya.
"Kamu kira aku ini cewek gampangan atau gimana? Perjelas aja semuanya, itu kan yang mau kamu bilang ke aku?" balasku tanpa menoleh ke arahnya karena aku masih sibuk memberesi kertas-kertas yang berceceran. Berusaha bodo amat dengan segala ucapannya.
"Kamu emang cewek murahan. Cewek yang selalu tebar pesona kepada semua laki-laki kan sebutannya cewek murahan, aku nggak salah kan?" ujarnya sambil terkekeh tapi terkesan mengejek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Simpul Mati 2
General FictionCinta Orang bilang cinta itu indah, penuh suka cita, membuat siapapun yang merasakannya akan melakukan apapun demi cinta mereka. Namun terkadang, mereka tak menyadari adanya kepalsuan dalam cinta. Sejatinya kita tak pernah tahu apa yang sedang ora...
