Aku pikir, hanya aku yang tersiksa batinnya disini.
Ternyata Mas Chandra juga sama tersiksanya.
Happy Reading
Dua tahun kemudian
Tahun baru, semangat baru.
Itulah kalimat yang menjadi motivasiku saat ini. Kota baru, kehidupan baru, kawan baru. Semuanya serba baru. Tak terasa pula sudah dua tahun aku kerja di Malang. Mencari pengalaman kerja di kota orang. Selama itu pula aku tak pernah pulang ke Surabaya. Bukan keinginanku untuk tidak pulang, hanya saja Papa yang menyuruhnya. Katanya kalau mereka kangen, biar mereka yang datang ke Malang. Aku tak diperbolehkan pulang. Entah ada apa. Seperti ada yang disembunyikan oleh kedua orangtuaku.
Pergantian malam tahun baru aku habiskan bersama teman-teman kerjaku di Batu, Malang. Kami menginap di salah satu villa yang tidak jauh dari obyek wisata Batu Night Spectacular atau sering disebut dengan BNS. disini kami bisa menikmati kota Malang dari ketinggian.
Kami menghabiskan waktu berswafoto dan menikmati wahana permainan di BNS dan dilanjutkan dengan barbeque an di villa. Di puncak ini, kami seperti disuguhi hawa yang lumayan membekukan alias dingin banget.
"Navya kan dulu anak Pramuka, jago dong bikin api unggun," ujar Nia, teman kerjaku.
"Ada-ada aja sih kalian," balasku sambil terkekeh.
Memang anggota yang ikut hanya anak cewek saja. Tidak ada satupun teman laki-laki kami yang ikut karena ini khusus acara cewek-cewek. Hehehehehe
Saat aku sedang mempersiapkan api unggun, aku melihat sekelebat orang yang tak asing untukku. Tapi masa sih laki-laki yang sedang bersama seorang wanita itu adalah orang yang sedang aku pikirkan sekarang? Kalau dia juga menyadari keberadaanku, aku harus gimana? Aku belum siap bertemu siapapun yang berhubungan dengannya.
Aku berusaha acuh dan fokus dengan acaraku bersama teman-teman. Sampai acara selesai, kenapa pandanganku tak bisa beralih dari orang tersebut. Mataku seakan terhipnotis oleh orang tersebut.
Tepat saat adzan Subuh, aku dan teman-temanku masuk ke villa dan bersiap untuk sholat Subuh dan lanjut tidur. Memang kami berencana untuk tidur setelah sholat Subuh sekalian.
Kami tertidur sampai jam 12 siang. Benar-benar di luar kebiasaanku karena aku tak pernah bangun tidur jam segitu.
"Mandi duluan ya guys," ujarku.
"Oke,"
Setelah mandi, aku berniat untuk keluar villa dan menikmati cuaca siang hari dari Kota Apel ini. Memang Malang dijuluki Kota Apel karena komoditas apelnya yang melimpah.
"Nav," panggil seseorang.
Aku menoleh. Dan orang itu adalah orang yang sama dengan yang semalam aku perhatikan terus.
"Mas Hendra?" balasku pura-pura terkejut.
Ya, orang itu adalah Mas Hendra, kakaknya Mas Chandra. Dia datang bersama istrinya yang ku ketahui namanya Mbak Ria.
"Nahh bener kan yank, yang kita lihat semalam itu adalah Navya," ujar Mas Hendra kepada istrinya.
Jadi semalam bukan hanya aku yang menyadari keberadaan Mas Hendra? Dia juga berlaku sama? Tapi kenapa dia nggak nyapa?
Aku mendekat dan berbasa-basi sedikit dengan dua sejoli itu. Meski hubunganku dan Mas Chandra hancur, tapi aku masih berniat silaturahmi dengan keluarganya. Tak ada salahnya kan menjaga silaturahmi?
"Apa kabar Mas, Mbak," ujarku.
"Alhamdulillah baik," jawab Mas Hendra.
"Nav, kamu lagi repot nggak?" tanya Mas Hendra ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Simpul Mati 2
Narrativa generaleCinta Orang bilang cinta itu indah, penuh suka cita, membuat siapapun yang merasakannya akan melakukan apapun demi cinta mereka. Namun terkadang, mereka tak menyadari adanya kepalsuan dalam cinta. Sejatinya kita tak pernah tahu apa yang sedang ora...
