Happy Reading
"Mas, kenapa pas aku sebut kamu dengan panggilan "Mas" tadi, kamu kayak speechless gitu?" tanyaku.
"Speechless karena udah lama banget kan kamu nggak panggil aku kayak gitu," jawabku.
"Ohh,"
"Pulang yuk, udah Maghrib nih. Aku antar sekalian mau? Besok pagi aku jemput lagi. Itu pun kalau kamu mau," ujarnya.
Satu sisi aku mau diantarnya pulang karena tubuh ini sudah terlalu lelah kalau harus balik ke kantor buat ambil motor. Tapi aku juga khawatir kalau Mas Chandra ketemu Papa gimana? Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Nggak mau ya?" tanyanya lagi.
"Terus motor gimana?" tanyaku balik.
"Nanti aku telepon satpam biar dimasukkan ke tempat parkir dalam biar aman. Motorku kan juga masih di kantor. Nanti aku bawa mobil dinas pulang aja," balasnya.
"Yaudah deh yuk. Tapi sholat Maghrib dulu ya," ujarku.
Aku menerimanya bukan karena aku masih punya perasaan atau apa, aku hanya kelelahan.
Di perjalanan pun kami masih saling mendiamkan. Tak tahu harus berucap apa karena suasana masih canggung. Sampai di depan kompleks, aku berusaha menghentikannya.
"Mas, sampai sini aja," ujarku.
Mas Chandra mengehentikan mobilnya, "Kenapa? Kan rumah kamu masih agak jauh," tanyanya.
"Nggak apa-apa, aku jalan aja ya," jawabku.
"Kenapa Nav? Kamu takut kalau aku ketemu sama orangtua kamu? Nav, lebih baik aku di caci maki asal aku bisa antar kamu sampai rumah. Akan lebih buruk lagi kalau aku turunkan kamu disini, kamu mau Papa kamu semakin benci sama aku?" ujarnya.
Aku masih ragu. Aku nggak mau ada perang dunia antara Mas Chandra dan Papa.
Mas Chandra memegang tanganku, "Kamu tenang aja. Kalaupun aku akan dihajar lagi sama Papa kamu, aku siap. Aku akan bilang kalau kita memang udah nggak punya hubungan apapun dan kita hanya profesional," ujarnya lagi.
Aku menghela nafas sejenak sebelum mengangguk setuju. Dan benar saja Papa sudah menunggu di teras rumah. Aku dan Mas Chandra turun dengan setenang mungkin.
"Mau apalagi kamu kesini? Masih berani menunjukkan wajah kesini? Nggak kapok kamu, saya buat babak belur?!!" gertak Papa dan langsung menyerang Mas Chandra.
Bugh
Bugh
Bugh
Kenapa Mas Chandra nggak berusaha melawan atau sekadar menangkis?
"Pa, udah Pa. Stop Pa," teriakku berusaha memisahkan Papa dan Mas Chandra.
"Kamu berani datang kesini karena udah punya mobil? Mau pamer kamu? Saya tetap nggak akan restuin kamu sama anak saya," ujar Papa lagi.
"Bukan mobil saya Om. Itu mobil dinas dari kantor," jawab Mas Chandra dengan nafas tersengal.
Kalau sudah begini, aku jadi nggak tega sama Mas Chandra.
"Pa, udah Pa. Aku pulang telat sama Mas Chandra karena meeting sampai sekarang," ujarku berbohong. Aku tak mau Mas Chandra semakin babak belur.
Papa berhenti memukul dan aku membantu Mas Chandra berdiri.
"Maaf Om, tapi Navya berbohong. Memang kita tadi ada meeting, tapi setelah itu saya ajak Navya untuk mengobrol dulu," ujar Mas Chandra.
"Mas," tegurku. Aku tak mau Papa semakin emosi lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Simpul Mati 2
Fiksi UmumCinta Orang bilang cinta itu indah, penuh suka cita, membuat siapapun yang merasakannya akan melakukan apapun demi cinta mereka. Namun terkadang, mereka tak menyadari adanya kepalsuan dalam cinta. Sejatinya kita tak pernah tahu apa yang sedang ora...
