Bagiku mantan itu orang yang berjasa membuat kehidupanku berwarna sebelum bertemu cinta sejati
Happy Reading
Malam perayaan ulang tahun Mas Chandra memang kami habiskan di rumah mertuaku. Karena setelah adegan termehek-mehek antara Bapak dan Mas Chandra, pintu kamar kembali dikunci dari luar. Benar-benar mirip seperti anak nakal yang dikurung di kamar. Hehehehe
"Pak nggak usah dikunci ya, kayak anak kecil aja yang nggak nurut langsung dikurung di kamar," rayu Mas Chandra kepada Bapaknya.
"Nggak bisa, nggak ada yang tahu juga kalau nanti malam kalian nekat kabur, ini tuh hukuman buat kamu yang nggak pulang-pulang," balas Bapak.
Aku yang menyaksikan perdebatan antara Bapak dan anak itu hanya terkekeh. Apakah sekangen itu Bapak kepada Mas Chandra? Sampai tidak diperbolehkan pulang.
"Nggak akan kabur Pak. Chandra udah capek banget ini, mau langsung tidur aja habis ini. Chandra nggak mau pulang kan emang Chandra mau mandiri Pak," keukeuh Mas Chandra.
"Yaudah kalau kamu ngantuk, sana tidur. Tuh kasihan istri kamu juga pasti udah ngantuk dan lelah menghadapi kamu," balas Bapak sambil keluar kamar dan menguncinya dari luar.
Setelah Bapak benar-benar pergi, aku langsung membaringkan tubuh di kasur dan memejamkan mata. Tubuhku benar-benar menginginkan istirahat.
"Kok langsung tidur sih?" protes suamiku.
Mau tak mau aku kembali membuka mata. Aku tahu pasti dia akan menagih janjiku tadi.
"Emang kenapa? Katanya kamu juga capek, yaudah tidur aja," jawabku.
Tanpa membalas ucapanku, dia langsung membaringkan tubuhnya dan membelakangiku. Sebenarnya aku tahu apa yang ia mau saat ini.
"Yaudah ayo," ujarku.
Tak mau dia tambah ngambek. Karena ngambeknya Mas Chandra itu mirip dengan ngambeknya anak TK.
"Ngapain?" tanyanya jutek dan masih dengan posisi membelakangiku.
"Nggak usah sok polos deh. Mau apa nggak? Kalau nggak, aku mau tidur aja," balasku.
Seketika Mas Chandra langsung menoleh ke arahku.
"Enak aja kamu tadi udah janji kok sama aku," ujarnya.
Aku hanya tertawa mendengar keluhannya saat ini. Benar-benar manja.
"Tahu nggak kenapa aku nggak mau dikunci dari luar?" tanyanya sambil melepas bajunya dan bajuku.
Aku menggeleng dan membiarkan apa yang akan dilakukannya. Udah halal, jadi nggak masalah dong? Hehehehe
"Nanti kalau pas kita di tengah jalan, tiba-tiba ada yang masuk, gimana?" tanyanya lagi.
"Nggak akan ganggu kok Ndra, silahkan kalau mau buat," teriak Bapak dari luar kamar.
"Nahh kan, kayak gini yang aku nggak suka. Kurang bebas," ujarnya.
"Hahahahahahaha, yaudah kita langsung tidur aja daripada nggak bebas, aku pakai lagi ya pakaianku," balasku setengah meledek.
"Nggakkk, kamu harus dihukum malam ini," ujarnya sambil melancarkan aksinya.
Aksi yang kami nikmati bersama. Hehehehehe
***
Setelah malam itu, kini suamiku sudah tak ragu lagi untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri. Dia merasa memang dirinya sudah diterima oleh keluarganya, khususnya Bapak dengan ikhlas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Simpul Mati 2
BeletrieCinta Orang bilang cinta itu indah, penuh suka cita, membuat siapapun yang merasakannya akan melakukan apapun demi cinta mereka. Namun terkadang, mereka tak menyadari adanya kepalsuan dalam cinta. Sejatinya kita tak pernah tahu apa yang sedang ora...
