4. Kamu Kenapa(?)

131 11 2
                                        

Kalau orang berkata bijak, belum tentu ia dapat melakukan apa yang dikatakannya.

~Aku yang tersakiti~









Happy Reading

Hari demi hari aku lewati tanpa Mas Chandra. Pacarku itu sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan dirinya untuk pemilihan Presiden BEM Fakultas. Alhasil kami semakin jarang menikmati waktu berdua. Karena event itu memang menguras tenaga dan juga pikiran.

Memang terkadang kami bertemu di fakultas, tetapi hanya sekadar menyapa saja. Chatingan pun semakin jarang. Entah kesibukan apa yang sebenarnya dia lakukan. Aku tak ingin berburuk sangka dengan pacarku sendiri. Sebisa mungkin aku selalu berpikiran positif kepadanya.

Saat ini aku sedang berada di kantin sendirian karena kedua sahabatku sedang sholat. Kebetulan saja aku sedang halangan, jadi daripada gabut, aku memilih untuk menunggu di kantin. Tak sengaja mataku tepat melihat Mas Chandra yang memasuki kantin bersama seorang gadis yang juga aku kenal. Namanya Gendhis, dia satu kelas denganku dan sekarang dia menjadi calon Wakil Presiden BEM yang akan mendampingi Mas Chandra.

Kalau kalian tanya aku cemburu atau tidak, jujur aku merasa sedikit cemburu. Bagaimana tidak, dalam situasi seperti ini malah terlihat Gendhis yang pas jadi pacar Mas Chandra. Sedangkan aku hanya sebatas sekretaris acara.

Mas Chandra memandang ke arahku dan langsung duduk di depanku bersama Gendhis. Tatapannya tak dapat aku artikan untuk saat ini.

"Sendirian aja Nav?" tanya Gendhis.

"Ahh nggak juga sih, lagi nunggu Dini sama Indah lagi sholat," jawabku berusaha biasa saja.

"Mas Chandra mau pesan apa? Sekalian aku pesenin," ujar Gendhis kepada Mas Chandra.

Kenapa harus selembut itu sih ucapan Gendhis. Tahu gini lebih baik aku nunggu Dini dan Indah di dekat masjid daripada disini tapi melihat kedekatan pacar dengan orang lain.

"Kamu aja yang disini, biar aku yang pesan. Kayak biasanya kan?" balas Mas Chandra.

Oke, sepertinya aku yang harus pergi dari sini. Daripada sakit hati, lebih baik pergi saja. Dan apa katanya? Kayak biasanya? Berarti ini bukan pertama kalinya mereka makan disini? Astagfirullah kenapa aku mikir yang aneh-aneh sih?

"Ehmmm aku duluan ya, mau ke toilet," ujarku.

"Buru-buru banget Nav? Nanti balik kesini kan?" tanya Gendhis.

Mas Chandra masih diam tanpa ada niat untuk membalas perkataanku.

"Nggak kayaknya, aku mau jalan sama Dini dan Indah. Duluan ya," balasku dan melenggang pergi.

Kenapa rasanya sesakit ini?

Biasanya aku yang mendapat perhatian itu. Tapi kenapa sekarang Mas Chandra seolah menganggapku sebagai orang asing?

Aku mencoba menghalau pikiran-pikiran buruk tentang Mas Chandra. Nggak mungkin Mas Chandra selingkuh di belakangku.

Setelah agak tenang, aku keluar dari toilet dan berniat menyusul kedua sahabatku yang masih ada di masjid. Tiba-tiba di depan toilet sudah berdiri laki-laki yang aku rindukan beberapa hari ini.

"Astagfirullah,"

Jujur aku terkejut melihat pacarku yang tadinya seperti orang asing.

"Kenapa tadi langsung pergi gitu aja?" tanya Mas Chandra.

Aku menggeleng, "Emang aku mau ke toilet Mas," jawabku sedikit berbohong.

"Nav, aku kenal kamu itu udah lama. Kamu nggak bilang aja aku tahu kalau kamu lagi cemburu," ujar Mas Chandra.

Cinta Simpul Mati 2 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang