Jadi anak satu-satunya dalam keluarga itu setengah menyenangkan dan setengahnya lagi tidak. Menyenangkan karena dia selalu di pedulikan, dan di utamakan. Tidak menyenangkan karena pasti ia merasa kesepian. Begitu lah yang dirasakan Joan-ui si anak gadis tunggal.
Ia terlihat sedang membersihkan lantai rumah, itu tugas rutin yang ia lakukan ketika sepulang sekolah.
"Yakkkkk Appa!! Itu baru saja ku bersihkan, kenapa di pijak?". Teriak Joan-ui kepada ayahnya yang baru saja memijakan kaki pada lantai yang masih basah.
"Jadi Appa harus lewat mana?".
"Tunggu saja kering".
"Mana bisa begitu, appa sedang terburu-buru". Ayah Joan-ui Kembali memijak lantai itu.
"Aishhhh,, aku perlu adik untuk membantu ku bekerja, aku lelah sendirian bekerja. Pagi siang sore malam tidak pernah beristirahat, awas saja".Joan-ui mengomel-ngomel.
Di tengah-tengah Omelannya phonsel yang ia letakkan di meja berjarak sedikit jauh dari tempatnya berdiri berdering.
"Haisshh, Kenapa kau harus berbunyi di saat begini, lantainya belum kering ya tuhan".
Akhirnya Joan-ui memutuskan jalan berjinjit untuk mengambil phonsel nya.
Nomor tidak di kenal...
"Kau ini! Kenapa harus menelpon disaat begini ha? Aku sedang membersihkan lantai dan sekarang kotor lagi. Kau ini siapa ha?". Joan-ui terus berbicara layaknya seorang rapper terkenal, Sangat cepat.
"Maaf mengganggu dirimu, aku Jeongin. Sekali lagi maafkan aku".
Ah tidak! Suara imut Jeongin membuat Joan-ui menganga. Ia tidak percaya sama sekali, ada apa? Mengapa? Kenapa?.
"Hei? Kenapa kau terdiam? Aku meminta maaf, apa kau tidak mau memaafkan aku?". Tanya Jeongin sadar jika Joan-ui terdiam diseberang sana.
"Ah tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku kira kau si penipu yang suka memberi hadiah palsu".
"Maksudmu?".
"Tidak ada, lupakan saja. Ah emm ada apa Jeongin? Tidak biasanya kau menlepon ku, bahkan tidak pernah sama sekali".
"Besok ulang tahun wanita yang sangat aku sayangi. Jadi aku teringat padamu kalau kau memiliki selera yang bagus, aku ingin meminta tolong pada mu untuk menemani aku membeli kue".
Joan-ui terdiam sejenak, siapa wanita yang sangat ia sayangi? Apa Jeongin sudah memiliki kekasih? Ah tidak.. tidak..tidak.. hati Joan-ui pasti sangat sakit.
"Wa.. wanita yang kau sayangi? Siapa?". Joan-ui mulai tak enak hati.
"Eomma ku! Besok hari lahirnya".
Ahh legaa sekali, ternyata bukan kekasih nya.
"Ohh begitu, em baiklah. Aku akan menemanimu".
"Wahh kau baik sekali, ah ya kita bertemu di mana? Aku tidak tau alamat rumah mu".
"Aku akan datang kerumah mu, kau tunggu saja di luar".
"Kau tau rumahku? Bagaimana bisa?".
"Ahh..ya.emm dulu pernah teman sekelas ku memberi tau kalau itu rumah mu". Jawaban apa itu Joan-ui? Haha, yang pasti Joan-ui sebagai penggemar rahasia Jeongin sudah tau tentang Jeongin bahkan alamat rumah.
Sesungguhnya Jeongin bingung dengan jawaban Joan-ui, tapi ia mengiyakan saja.
Joan-ui bergegas membersihkan rumah dengan semangat, lalu bersiap siap untuk pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Always there
Teen Fictionseorang gadis bertemu dengan Delapan remaja laki-laki ketika ia pindah sekolah. Membuat kehidupannya berubah. Berteman dengan mereka bukanlah hal yang mudah. Ia harus merasakan - Pembullyan - kekerasan - ancaman karena delapan remaja itu adalah in...
