"Kara, kamu masuk tim inti untuk pembukaan."
Kara yang sedang memainkan tali sepatu itu mendongak, menatap seorang guru cantik yang merupakan pembina ekskul cheers.
Sekarang ini anggota cheerleader sudah selesai berlatih. Mereka sedang berada di lapangan indoor, duduk di lantai lapangan untuk mendengarkan arahan dari pembina ekskul.
Kara masih diam, ia bingung harus ikut atau tidak. Jika ia ikut, pasti ia tidak akan bisa latihan dance bersama Dimas. Padahal Dimas terlihat sangat bersemangat untuk mengikuti lomba dance tersebut.
"Bu, Kara mau minta maaf. Kara tidak bisa ikut dikarenakan hari itu Kara ada acara." Ujar Kara sedikit tidak enak.
Bu Mesa mengangguk mengerti, "ah, oke. Tidak apa-apa, kalau begitu ibu pilih Rara, ya? Gimana, Ra?"
Rara mengangguk antusias, menyetujui ajakan bu Mesa.
Selama kurang lebih setengah jam, anggota cheers sedang mendengarkan pengumuman dan juga arahan dari bu Mesa. Setelah itu mereka di perbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing.
Kara langsung mengambil tasnya yang tergeletak di atas kursi besi, gadis berkuncir kuda itu kini berjalan keluar lapangan indoor.
Di koridor lumayan ramai, banyak siswa maupun siswi yang sedang berlalu lalang membawa tas masing-masing.
Sekarang pukul lima sore. Pantas saja koridor rame, karena ini jadwalnya pulang.
"Sendirian aja neng,"
Ucapan itu membuat Kara terperanjat. Gadis yang memakai seragam cheers itu kemudian menoleh ke samping dan di sana ada Anka yang sedang tersenyum.
Kara memejamkan matanya sambil memegang dadanya. Kemudian ia memukul lengan Anka dengan kesal.
"Ngagetin!" Omelnya.
Anka cengengesan, cowok itu kemudian menyodorkan minuman isotonik ke arah Kara. Gadis itu menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
"Lo mau pulang duluan atau nungguin gue?" Tanya Anka saat mereka berjalan bersama di koridor.
Alis Kara terangkat satu, gadis yang sedang minum itu kemudian melihat Anka yang ternyata memakai baju basketnya.
Setelah selesai minum, Kara menatap Anka sambil melotot, "mau latihan basket?" Tanyanya tidak percaya.
Anka mengangguk enteng, "iya."
"Ka, ini udah jam lima loh. Lo mau latihan sampe kapan? Magrib?"
"Mungkin?"
Kara menabok lengan Anka lagi, "jangan ngada-ngada. Bukannya lo udah latihan olim?"
"Iya, abis latihan olim langsung latihan basket. Soalnya dua minggu lagi 'kan ada lomba." Penjelasan Anka membuat Kara mendengus.
"Lo enggak capek apa?" Herannya sambil menutup botol minum.
Anka menggeleng, "enggak, 'kan udah ngeliat lo. Capeknya ilang." Ia tersenyum menggoda, membuat Kara mencubit lengan cowok di sampingnya itu.
"Geleuh!"
Tapi tak urung pipi gadis itu bersemu merah.
Anka yang melihat itu tertawa, ia kemudian mengacak-acak rambut Kara dengan gemas, "jadi gimana? Mau nungguin?"
"Lama ah, gue pengen mandi. Enggak pa-pa 'kan kalau gue pulang duluan?" Tanya Kara membuat Anka mengangguk.
"Ya udah, yuk!" Anka merangkul Kara
KAMU SEDANG MEMBACA
ANKARA (COMPLETE)
Ficção AdolescenteKara kira menjadi Ketua Kelas adalah tugas yang sangat mudah. Sehingga ketika ada pemilihan Ketua Kelas ia mengajukan diri dengan percaya diri. Namun ia bersaing dengan Anka, cowok pinter yang katanya cinta sama matematika. Anka ingin menjadi Ketua...
