Di minggu pagi, Anka sedang berdiri di depan rumahnya sambil pemanasan. Cowok yang memakai training hitam dan kaos abu-abu itu bersiap untuk olahraga pagi.
Setelah di rasa badannya cukup panas, cowok jangkung itupun membuka gerbang rumahnya dan mulai melakukan jogging di jalanan komplek.
Tidak hanya Anka yang melakukan olahraga pagi, namun banyak tetangganya yang melakukan hal yang sama.
Disaat Anka akan berbelok untuk menuju danau yang ada di komplek Pelangi, matanya tidak sengaja melihat Ginan dan juga Hito yang merupakan teman satu kelasnya.
Namun ada yang menarik perhatian Anka, yaitu seorang gadis yang ada di gendongan Ginan.
Gadis itu adalah Jeni.
"Nan, lari dong!" Jeni berseru.
Ginan melirik Jeni yang ada di gendongannya dengan sebal, "lo tuh berat, Jen. Mau nyiksa gue sampai kapan sih?"
"Lo juga ikut olahraga dong, Jen." Timpal Hito yang berjalan di samping Ginan. Ia merasa kasihan melihat sahabatnya itu menderita.
"Kalau Ginan lari, otomatis gue juga ikut lari,"
"Lo mau turun?"
"Enggaklah! Kan lo lari, Nan. Gue digendong, ya gue ikut lari karena dibawa sama lo lah!" Jeni terbahak membuat Ginan menampilkan ekspresi kecut.
Bukannya turun, Jeni malah memeluk leher Ginan dengan kuat membuat Ginan langsung menepuk-nepuk tangan mulus Jeni bertubi-tubi.
"Kecekek gue Jen, astaga!"
"Lo kok mau dijadiin babu sama Jeni?"
Pertanyaan yang tiba-tiba itu, membuat Jeni, Hito dan juga Ginan menolehkan kepala ke samping. Mereka menemukan Anka berdiri di sana.
"Ginan itu ... babunya Jeni," jawab Hito.
Jeni mengangguk setuju, "kalau Hito itu... bodyguard gue." Timpalnya.
Anka melirik Jeni, "emangnya lo ratu?"
Jeni mengangguk percaya diri, membuat Anka mendengus malas.
"Kenapa lo gendong Jeni?" Tanya Anka penasaran kepada Ginan.
"Tadi Jeni jatoh, kakinya keseleo. Gue jadi babu dadakan, deh."
Anka pun manggut-manggut mendengar jawaban Ginan. Akhirnya ketiga cowok itu—termasuk Jeni yang ada di gendongan Ginan pun melanjutkan perjalanannya.
"Ngomong-ngomong, lo tinggal di komplek ini juga, Ka?" Tanya Hito.
Anka mengangguk, "iya."
"Tapi kok gue jarang liat lo, ya?" Jeni bertanya heran.
"Gue baru pindah." Jawab Anka lagi.
Mereka pun manggut-manggut mengerti.
"Eh, Ka. Lari yuk!"
Anka mengangguk, kedua cowok itu pun akhirnya berlari meninggalkan Ginan dan juga Jeni.
Ginan yang ditinggalkan menatap mereka tidak percaya, "woy, gila! Jahat banget ninggalin gue!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ANKARA (COMPLETE)
Teen FictionKara kira menjadi Ketua Kelas adalah tugas yang sangat mudah. Sehingga ketika ada pemilihan Ketua Kelas ia mengajukan diri dengan percaya diri. Namun ia bersaing dengan Anka, cowok pinter yang katanya cinta sama matematika. Anka ingin menjadi Ketua...
