Part 29

40K 1.8K 23
                                        

Hay guys,
Happy Reading!!!

"Mas." Panggil Kiara.

Rehan yang baru saja selesai makan menengok Kiara yang telah memanggilnya.

"Ini."

Kiara mengulurkan tangannya yang sedang memegang sebuah map berisi surat perceraian dirinya dengan Rehan.

"Apa ini?" Tanya Rehan yang belum mengetahui surat apa yang telah Kiara berikan padanya.

Rehan pun mengambil surat itu dari tangan Kiara. Baru Rehan membaca sekilas surat itu, dia langsung terkejut dengan maksud Kiara memberikan surat tersebut.

Dirinya semakin dibuat terkejut saat melihat Kiara telah menandatangani surat itu, dan hanya tinggal menunggunya saja untuk menandatangani surat itu untuk diserahkan ke pengadilan.

"Kamu ingin bercerai denganku?" Tanya Rehan untuk memastikan keputusan yang telah Kiara buat.

"Iya Mas."

Jawaban dari Kiara sudah cukup bagi Rehan untuk percaya bahwa memang Kiara bersungguh-sungguh untuk bercerai dengannya.

Hati Rehan sakit bagai beribu jarum menusuk hatinya hingga ke ulu hati yang terdalam. Ingin rasanya Rehan berteriak kepada Kiara bahwa dia tidak ingin bercerai dengannya dan ingin selalu dekat dengannya, karena dia telah mencintainya. Mencintai istrinya, Kiara.

Namun dia juga sadar diri bahwa selama pernikahan ini Kiara sangat menderita dan tidak pernah merasakan apa itu kebahagiaan. Dan mungkin, inilah saatnya untuk melepaskannya untuk kebahagiaan wanita itu, wanita yang selama ini telah Rehan buat menderita dalam hidupnya.

"Baiklah."

Rehan segera mengambil pena yang Kiara bawa, kemudian menandatangani surat perceraian itu dengan cepat. Setelah Rehan selesai menandatangani surat itu, Rehan segera memberikan surat itu lalu pergi meninggalkan Kiara yang masih berdiri di dapur.

Sedangkan Kiara hanya bisa melihat kepergian suaminya tanpa mampu menghentikannya.

Kiara tidak menyesali keputusannya, hanya saja dia tidak pernah menyangka jika Rehan langsung menyetujui permintaannya tanpa bertanya apa alasan Kiara meminta cerai padanya.

Apakah mungkin Rehan tidak memiliki perasaan apapun pada Kiara, hingga dengan mudahnya dia menerima gugatan cerai dari Kiara.

Tes
Tes
Tes

Lagi air matanya mengalir tanpa bisa Kiara tahan. Hanya mampu menangis dan menerima kenyataan yang pahit ini. Ingin rasanya Kiara berteriak kepada Rehan bahwa sebenarnya Kiara sangat mencintainya dan tidak ingin bercerai dengannya.

Tapi saat Kiara mengingat Bella bersama bayi mungilnya Kiara kembali lemah. Dia tidak dapat setega itu membuat seorang bayi yang tidak bersalah tidak memiliki ayah. Kiara tidak akan pernah sanggup melihatnya apa lagi jika dia adalah penyebab dari kehilangannya ayah dari seorang bayi yang tidak bersalah. Maka Kiara tidak akan pernah memafkan dirinya sendiri  untuk selama-lamanya.

***

Sejak surat gugatan cerai yang telah Kiara berikan pada Rehan, sejak itu pula Rehan tidak pernah pulang ke rumahnya.

Dan kini sudah genap satu bulan Kiara dan Rehan tidak saling bertemu ataupun bertukar kabar. Sejujurnya Kiara sangat merindukan Rehan tapi dia tidak memiliki alasan apapun untuk menghubunginya.

Kiara masuk ke kamar Rehan. Disana dia dapat merasakan sedikit kehadiran Rehan. Kiara mulai membuka lemari pakaian, kemudian mengambil sebuah kemeja berwarna biru muda. Dimana itu adalah kemeja kesukaan Rehan.

Kemeja itu sering Rehan gunakan untuk menghadiri acara-acara penting atau rapat-rapat bersama rekan kerjanya.

Kiara merasa pilihan Rehan benar dengan menyukai kemeja ini, karena saat Rehan memakai kemeja itu dia terlihat sangat tampan dan berwibawa hingga dapat membuat kaum hawa terpikat oleh pesonanya.

Kiara memeluk erat kemeja itu sambil mencium sisa bau Rehan yang mungkin masih menempel di baju itu. Lalu Kiara berbaring di ranjang yang digunakan Rehan untuk tidur. Kira tertidur sambil memeluk kemeja Rehan dengan deraian air mata hingga kemeja itu kini telah basah oleh air mata Kiara.

Tanpa Kiara sadari Rehan masuk ke kamar yang saat ini sedang Kiara tempati dan mulai berjalan mendekati Kiara yang sedang tertidur sambil menangis.

Rehan yang melihat Kiara sedang tertidur sambil memeluk kemeja miliknya membuat Rehan ingin sekali mendekap tubuh Kiara, ditambah air mata yang mengalir dari kedua mata Indah Kiara semakin membuat Rehan tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak menyentjh Kiara.

Rehan mulai mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang berada di pipi Kiara. Dia mencoba menghapus air mata itu secara perlahan agar tidak membangunkan istri kecilnya itu.

Namun naas, Kiara yang sedang tertidur dapat merasakan jika ada seseorang yang sedang membelai pipinya dengan lembut. Kiara membuka matanya secara perlahan dan terlihatlah Rehan, suaminya sejak berdiri disampingnya.

Sedangkan Rehan yang melihat Kiara terbangun dari tidur indahnya merasa terkejut. Dengan segera Rehan berdiri tegap lalu menetralkan detak jantung dan mimik wajahnya agar kembali seperti biasanya. Dingin dan tidak berperasaan. Itulah topeng yang selalu Rehan gunakan agar tidak ada yang berani menyakitinya.

"Mas Rehan. Sejak kapan Mas ada di sini?" Tanya Kiara yang mersa terkejut dengan kehadiran Rehan yang secara tiba-tiba.

Kiara mulai bangkit dari tempat tidur, kemudian turun dari ranjang Rehan. Dia takut jika Rehan akan marah karena telah menggunakan kamarnya tanpa izin darinya.

"Keluar dari kamarku sekarang!" Ujar Rehan.

Bukannya menjawab, Rehan malah mengusir Kiara dari kamarnya. Kiara berpikir apakah Rehan tidak merindukannya selama satu bulan ini? Apakah Rehan menganggapnya hanya sebagai orang asing?

"Maaf." Hanya itu yang mampu Kiara katakan. Hanya itu yang bisa Kiara katakan dan hanya itu kata yang dapat mewakili perasaannya.

Kiara pun berlalu pergi meninggalkan Rdhan seorang diri di kamar itu dengan deraian air mata.

"Maafkan aku mas jika selama ini aku tidak dapat menjadi istri yang baik untuk Mas."

"Maafkan aku Mas jika selama ini aku tidak pernah bisa membuatmu bahagia saat bersamaku."

"Maafkan aku Mas jika aku tidak dapat menjadi istri yang baik untuk Mas."

"Maafkan aku Mas jika aku tidak dapat menjadi istri yang sesuai dengan harapan Mas."

"Maafkan aku Mas jika aku tidak dapat menjadi Istri Impian Mas Rehan."

Rehan kembali ke kamarnya dengan deraian air mata yang tiada henti-hentinya mengalir.

Kiara mengambil sebuah bingkai foto dimana disana terpajang sebuah foto pernikahan Kiara bersama Rehan yang terlihat kaku an canggung.

Kiara kembali teringat dimana dulu dia tidak pernah menyangka bisa menikah dengan Rehan hingga waktu yang cukup lama bagi Kiara. Apa lagi sekarang ada seorang janin yang sedang Kiara kandung. Membuatnya semakin bahagia dan tidak pernah merasa menyesal menikah dengan Rehan.

Biarlah jika Rehan tidak mencintainya, setidaknya Kiara telah mencintainya dan akan memiliki anak dari Rehan. Setelah perceraian ini Kiara akan pergi meninggalkan Rehan bersama Bella ke tempat yang jauh, sangat jauh hingga tidak ada satupun orang yang dapat menemukannya.

Dan itu adalah pilihan yang telah Kiara pilih. Untuk berpisah dari Rehan.

Bukan Istri Impian (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang