Part 13

42.4K 2K 55
                                        

Happy Reading!

"Mas mau kemana? " tanya Kiara saat dia melihat suaminya telah berpakaian rapi.

"Bukan urusanmu" jawab Rehan dengan angkuh.

Kiara kembali bersedih atas kembalinya sikap Rehan yang dingin dan acuh kepadanya. Sebenarnya Kiara sudah tau ini akan terjadi, namun entah mengapa rasanya tetap sakit.

Kiara hanya mampu melihat kepergian suaminya yang entah kemana tujuannya.

Rehan terus melajukan mobilnya tanpa tahu kemana dia akan menuju. Yang dia fikirkan sekarang hanyalah pergi untuk menenangkan diri dari semua rasa sakit yang menghujamnya.

Mungkinkah dia cemburu?

Mungkin ya dan mungkin juga tidak. Mengapa? Karena Rehan sendiri pun tidak tau apa yang kini telah melanda hatinya. Rasanya dia tidak rela jika istrinya dekat dengan pria lain, tapi disatu sisi dia juga masih membenci Kiara.

Apapun itu Rehan hanya ingin lepas dari perasaan yang telah mencampur adukkan hatinya hingga rasanya begitu berantakan.

Saat sendang memikirkan kemana tujuannya pergi, Rehan teringat satu orang. Orang yang begitu dia cintai dan sayangi. Dan kesanalah dia akan pergi.

"Keyla, aku butuh kamu sayang" gumamnya.

Tehan melajukan mobilnya lebih cepat dari yang tadi, agar dia dapat segera sampai di apartemen Keyla.

Rehan sangat merindukan Keyla. Wanita yang mampu membuatnya bahagia dan tersenyum saat bersamanya. Wanita yang selalu setia menemaninya.

Senyum yang dahulu terbit kini telah memudar menjadi kesedihan. Beribu tanya mulai menghampiri otaknya. Rasa sakit kini bertambah semakin sakit disaat melihat wanita yang dicintai dan disayangi kini sedang bersama pria lain.

"Keyla, kemana kamu akan pergi? Mengapa kamu bersama pria itu? Mengapa kamu membawa koper besar? " tanya Rehan dari dalam mobil.

Rehan tau pertanyaannya tidak akan di dengar oleh Keyla, karena Rehan memarkirkan mobilnya cukup jauh dari tempat Keyla.

Keyla dan pria itu telah memasukki mobil dan mulai melajukan mobilnya. Rehan tidak tinggal diam, dia juga ikut melajukan mobilnya untuk mengikuti kemana mereka akan pergi.

"Bandara" ujar Rehan.

Ya, Keyla dan pria itu kini sampai di bandara. Mereka mulai mengeluarkan koper-koper mereka kemudian menariknya ke dalsm Bandara.

Rehan terus mengikuti kemana mereka pergi. Keyla bersama pria itu berjalan ke ruang tunggu untuk duduk menunggu pesawat mereka.

"Keyla, tenanglah sayang. Semuanya akan baik-baik saja. " ujar pria yang berada di samping Keyla.

"Bagaimana aku bisa tenang Jidan? Mamahku dalam keadaan kritis sekarang, tapi aku tidak ada di sampingnya untuk menemaninya. " jawab Jidan.

Jidan tau jika Keyla begitu khawatir pada Mamahnya, apa lagi Mamahnya adalah satu-satunya keluarga yang dia punya. Jadi wajar saja jika dia begitu khawatir saat mendengar kabar Mamahnya sakit.

"Tenanglah sayang, doakan saja agar Mamah dapat melewati masa kritisnya. " ujar Jidan sambil mendekap erat tubuh Keyla.

"Iya Jidan, kamu benar. Sekarang aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Mamah. Terima kasih Jidan karena selama ini telah menjaga Mamah saat aku jauh darinya. " ujar Keyla sambil membalas dekapan hangat dari Jidan.

"Itu sudah menjadi kewajibanku sayang, apa lagi kita akan segera menikah."

Deg

"Menikah? Benarkah Keyla akan menikah? Bukankah dia hanya mencintaiku? " gumam Rehan.

Rehan mengepalkan tangannya dengan begitu kuat, hingga telapak tangannya memutih dan otot-otot nya terlihat begitu jelas. Matanya menatap tajam ke arah sepasang kekasih yang sedang berpelukan dengan mesra tanpa memperdulikan tatapan orang lain yang mungkin tidak menyukai mereka.

Rehan mulai berjalan dari tempatnya berdiri untuk mendekati sepasang kekasih itu. Rehan terus berjalan hingga dia sampai tepat di depan mereka.

"Re.. Rehan. " ujar Keyla begitu gugup.
Sangat terlihat jika Keyla terkejut dengan kehadiran Rehan di sini. Keyla tidak pernah berfikit jika mereka akan dipertemukan di tempat ini dan disaat seperti ini. Disaat dia belum siap bertemu dan sedang bersama pria lain. Ini seperti dia telah teroergok berselingkuh dari Rehan.

"Tidak menyangka jika kita dapat bertemu di sini. " ujar Rehan dengan senyuman sinisnya .

"Siapa kamu? " tanya Jidan.

"Aku? " Rehan tersenyum sejenak lalu berucap "Rehan"

"Dan kamu, siapanya Keyla? " tanya Rehan.

"Aku Jidan, calon suami Keyla. " jawabnya tegas.

Setelah puas dan dirasa cukup Rehan pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja tanpa pamit atau senyum sedikit pun.

"Rehan tunggu. " ujar Keyla sambil berlari mengejar Rehan.

"Rehan tunggu, aku bisa jelasin. " ujar Keyla sambil menggenggam tangan Rehan agar Rehan tidak berjalan lagi.

"Semuanya sudah jelas. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. "

Rehan melepas genggaman tangan Keyla, lalu kembali meninggalkan wanita itu sendirian.

Keyla bingung harus berbuat apa. Rasanya dia ingin mengejar Rehan, tapi dia juga tidak ingin ketinggalan pesawat, membuat Mamahnya menunggu lebih lama.

"Maafkan aku Rehan, tunggu aku kembali. " gumam Keyla dalam hati.

"Keyla ayo" ujar Jidan.

Jidan tidak tau apa hubungan Keyla dengan pria itu, tapi Jidan tau hubungan mereka berdua bukan sekedar teman atau rekan kerja tapi lebih dari itu dan itu membuat Jidan cemburu, tapi dia tahan. Dia tidak ingin menambah beban pikiran Keyla. Karena yang terpenting sekarang adalah dia harus segera mengantar Keyla ke Paris.

***

"Mah" ujar Keyla saat dia telah sampai di ruang rawat Mamahnya.

Keyla menatap Mamahnya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit, terbaring seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun. Keyla menatap dengan miris. Betapa dia tidak berbaktinya kepada ibundanya, wanita yang telah melahirkan dan merawatnya hingga dewasa kini harus terbaring di rumah sakit, dan bodohnya dia tidak ada disaat orang tuanya sakit.

Maafkan aku Mah, maafkan Keyla yang tidak becus dalam merawat Mamah. Maaf Keyla begitu egois meninggalkan Mamah sendiri disini. " ujar Keyla sambil menangis.

"Tidak papa sayang, yang penting kamu sudah datang ke sinj jenguk Mamah, itu sudah cukup untuk Mamah. " ujar Sinta ibunda dari Keyla.

"Mamah sudang bangun. "

Keyla menghapus air matanya untuk melihat Mamahnya dengan lekat, dia bahagia karena Mamahnya telah melewati masa kritisnya.

"Sayang boleh tidak mamah minta satu permintaan sama Keyla? "

"Apa Mah? "

"Kamu janji akan menuruti permintaan Mamah? "

"Apapun itu, selagi aku mampu aku akan melakukannya Mah"

"Terima kasih sayang, Mamah minta agar kamu segera menikah dengan Jidan. Apa lagi kalian sudah lama bertunangan, tidak baik terus mengundur pernikahan. "

"Tapi Mah, Keyla belum siap"

"Sayang, Dokter bilang Mamah hanya punya waktu beberapa bulan saja dan Mamah tidak ingin melewatkan pernikahan putri tersayang Mamah. Jadi Mamah mohon kamu mau ya? "

"Tapi Mah"

"Ini permintaan terakhir Mamah sayang. "

Keyla menangis lalu berhambur memeluk Sinta dengan erat. Dia tidak menyangka jika Mamahnya tidak berumur panjang lagi. Sebenarnya Keyla tau jika Mamahnya sakit, tapi Keyla tidak tau jika penyakit Mamahnya separah ini hingga hanya sedikit waktu yang dia punya bersama Mamahnya.

"Iya Mah, Keyla mau" jawab Keyla pada akhirnya.

"Terima kasih sayang, terima kasih"

Dan mereka pun saling berpelukan untuk melepas rindu yang terpendam sekian lama.

Bukan Istri Impian (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang