Part 39

30.1K 1.2K 26
                                        

Hay guys. Dessel balik lagi ni dengan update cerita yang sangat seru pastinya.
Happy Reading guys!!

Jidan masuk ke sebuah ruang pertemuan antara tahanan dan orang yang menjenguk. Disana dia melihat pengacara yang dia sewa sedang berbincang dengan istrinya.

Jidan tidak mampu berkata apapun karena dia telah gagal membujuk Rehan untuk melepaskan Keyla. Dia sedikit putus asa dengan harapan yang dia punya, hanya tinggal pengacara inilah kesempatan terakhir yang Jidan punya untuk membebaskan Keyla. Jidan tidak akan menyerah dia akan terus berusaha untuk membuat Keyla bebas. Apapun itu caranya akan dia lakukan selama cara yang dia gunakan baik.

Keyla menyadari kehadiran Jidan disana, namun dia tidak berniat berbicara apapun padanya. Keyla hanya menatap Jidan dengan perasaan sedih. Dia merasa telah membuat pria itu begitu menderita selama ini, tapi pria itu tetap ada disampingnya dan menemaninya dalam keadaan apapun.

Remon merasa kebingungan dengan sikap Keyla yang tiba-tiba diam sambil melihat kearah belakangnya. Remon segera melihat apa yang telah menjadi pusat perhatian dari wanita itu, dan saat dia menengok kebelakang ternyata disana ada Jidan yang sedang berdiri diambang pintu sambil melihat kearah Keyla.

Remon berfikir mungkin lebih baik dia undur diri saja karena urusannya dengan Keyla sudah selesai. Remon segera berdiri lalu berjalan mendekati Jidan.

"Pak Jidan silahkan duduk. Saya sudah selesai berbicara dengan Ibu Keyla. Saya permisi." Pamit Remon.

Remon pun segera meninggalkan ruangan itu dan menyisakan tiga orang disana yaitu polisi, Keyla dan Jidan yang masih tidak bergeming dari tempat mereka.

"Silahkan duduk Pak." Ujar polisi itu.

"Iya, terima kasih." Jawab Jidan dengan sopan.

Jidan berjalan kearah kursi, kemudian duduk tepat di hadapan Keyla. Untuk beberapa saat mereka tidak saling berbicara, hanya ada keheningan diantara mereka tanpa ada yang berniat untuk memulai suatu pembicaraan.

Mereka hanya saling pandang memandang tanpa satu katapun yang keluar dari mulut mereka, seolah tatapan mata merekalah yang menjadi alat berkomunikasi mereka.

Jidan terus melihat Keyla dengan tatapan rindu, penyesalan karena tidak dapat membujuk Rehan dan kesedihan karena tidak mampu mencegah Keyla untuk pulang ke Indonesia hingga menyebabkan Keyla hidup dalam penjara. Jidan merasa ini semua adalah kesalahannya karena tidak dapat melindungi Keyla.

Sedangkan Keyla yang melihat wajah Jidan yang penuh dengan lebam yang membiru serta sudut bibir yang sepertinya sobek membuatnya merasa sakit dan sedih. Ingin sekali Keyla berteriak kepada Jidan mengapa bisa dia sebodoh itu dengan mendatangi bahkan memohon kepada seorang bajingan yang tidak akan pernah mau membantunya.

Keyla marah sangat marah, bagaimana bisa Jidan masih mau membantunya disaat dia telah berbuat jahat padanya.

Tapi Keyla tidak sanggup, dan tidak akan pernah sanggup untuk memarahinya atau bahkan mengumpat padanya, karena entah mengapa ada sisi di dalam hatinya yang mulai terbuka ruang untuk Jidan. Tapi dia belum mengetahui ruang itu sebagai apa Jidan dihati Keyla.

"Maaf Pak, waktu jenguk telah habis. Silahkan Bapak kembali lagi besok." Ujar polisi itu lalu membawa Keyla keluar dari ruangan itu.

Saat Keyla pergi dari ruangan itupun, Jidan masih tetap diam ditempat duduknya. Seolah tubuh dan kursi itu telah menyatu menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan.

Sedangkan Keyla masih terus melihat Jidan, walaupun Jidan tidak melihatnya Keyla masih terus melihatnya sambil berjalan hingga dia tidak dapat melihat Jidan lagi.

Bukan Istri Impian (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang