Hay guys,
Happy Reading!
Rehan melihat kepergian Kiara begitu saja. Sebenarnya Rehan ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Kiara, tapi hatinya tidak sanggup. Tidak sanggup untuk menerima jawaban dari Kiara yang mungkin akan membuat hatinya semakin hancur.
Rehan mengambil kemeja yang berada di atas kasurnya yang telah lecek dan penuh dengan air mata.
Rehan bertanya-tanya mengapa Kiara tidur di kamarnya sambil memeluk kemeja miliknya. Ditambah Kiara menangis dalam tidurnya semakin membuat Rehan ingin tahu mengapa Kiara melakukan hal itu. Apakah mungkin Kiara mencintai Rehan dan tidak ingin berpisah dengannya?
Tapi bukankah dia sendiri yang ingin menceraikan Rehan?
Jika memang Kiara tidak ingin berpisah dengannya, kenapa Kiara meminta cerai padanya?
Hal itu membuat Rehan merasa sangat pusing. Rehan memutuskan untuk pergi mandi lalu segera tidur dan melupakan semua masalah yang membuatnya merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia ini.
Kenapa bodoh?
Karena disaat dia masih bersama Kiara dia telah menyia-nyiakan Kiara bahkan hingga membuat hidup Kiara menderita saat bersamanya. Tapi saat dia akan kehilangan Kiara, dia malah merasa tidak dapat berpisah dari Kiara.
Cinta memang membingungkan.
***
Di pagi hari Rehan terbangun oleh suara notifikasi dari ponselnya yang berada di atas meja disamping tempat tidurnya.
Rehan segera mengecek siapa yang telah mengiriminya pesan sepagi ini. Dan saat dia melihat ternyata itu adalah Michel.
Michel mengatakan bahwa ada hal yang penting untuk dibicarakan bersamanya sekarang juga. Rehan sebenarnya merasa sedikit geram kepada Michel yang telah mengganggu tidur nyenyaknya, tapi saat mengingat jika Michel akan menghubunginya jika ada hak yang penting saja membuatnya sedikit menahan amarahnya.
Rehan pun segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap menemui Michel.
Rehan menuruni tangga satu per satu sambil memainkan ponsel canggih miliknya. Hingga tidak menyadari keberadaan Kiara yang telah menunggunya sejak tadi di ujung tangga.
"Mas." Panggilnya.
Rehan sedikit terkejut dengan kemunculan Kiara, namun segera dia netralkan mimik wajahnya agar kembali seperti biasanya.
"Ada apa?" jawab Rehan cuek.
"Sepagi ini Mas mau pergi kemana?" tanya Kiara dengan lembut.
"Bukan urusanmu." jawab Rehan dinging.
"Tapi Mas... "
"Kita akan segera bercerai, jadi aku mau pergi kemanapun yang aku mau itu bukan urusanmu lagi. PAHAM." potong Rehan.
Kiara sedikit tersentak oleh jawaban yang telah Rehan berikan. Tapi mau bagaimana pum apa yang telah Rehan katakan benar. Mereka akan segera bercerai, Rehan akan pergi kemana pun dia inginkan bukan menjadi urusan Kiara lagi. Karena mereka bukan suami istri lagi.
"Iya Mas benar. Apakah Mas sudah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan?"
"Sudah. Kita sidang nanti siang, setelah itu kita bukan suami istri lagi. Dan aku harap kamu segera membereskan pakaianmu lalu angkat kaki dari rumahku secepatnya."
Kiara menyadari ada kemarahan dibalik ucapan yang telah Rehan lontarkan. Apakah seburuk itu Kiara dimata Rehan, hingga di sangat membenci Kiara begitu dalam?
Apakah tidak ada pintu maaf untuk Kiara dihati Rehan?
"Iya Mas, aku telah membereskan semua barang-barangku di rumah ini."
"Baguslah." ujar Rehan.
"O ya, untuk uangmu yang aku pinjam akan segera aku kembalikan setelah kita resmi bercerai." lanjutnya.
"Tidak perlu Mas. Aku ikhlas memberikan uang itu untuk perusahaan Mas. Anggap saja uang itu sebagai permintaan maafku kepada Mas."
Maaf?
Rehan kembali dibuat bingung oleh Kiara, bagaimana mungkin Rehan yang selama ini telah menyakitinya tapi malah Kiara yang meminta maaf padanya.
Sebenarnya hati Kiara terbuat dari apa sehingga memiliki hati yang mulia dan baik seperti itu. Dia bagaikan seorang malaikat yang turun ke bumi untuk menyadarkan Rehan, tapi sayang Rehan tidak dapat mempertahankannya.
"Tidak. Aku akan tetap mengembalikannya. Sampai bertemu di pengadilan."
Rehan pun pergi meninggalkan Kiara yang belum sempat menawarkannya sarapan.
Kiara menghembuskan nafasnya dengan berat. Hidangan yang telah Kiara siapkan sejak tadi pagi, kini harus terbuang sia-sia dikarenakan Rehan yang pergi begitu saja tanpa mencicipi sedikitpun sarapan yang telah Kiara buat.
***
Sidang perceraian akan segera dimulai, bukannya datang ke pengadilan Rehan malah pulang ke rumahnya untuk mencari barang yang entah dimana keberadaannya.
Rehan terus mencari ke seluruh penjuru rumah, tapi tidak dia temukan juga barang yang sedang dia cari.
Rehan kembali mengingat-ingat dimana terakhir kali dia menyimpan kartu itu. Dan sekarang baru dia ingat jik kartu itu telah Rehan berikan kepada Kiara.
Sebenarny kartu itu bukanlah kartu yang begitu penting. Itu hanyalah kartu nama dari rekan kerjanya, dan sekarang baru dia sadari bahwa kartu itu dapat dibutuhkan kapan saja seperti saat ini.
Rehan segera masuk ke kamar Kiara dan mulai mencari dimana Kiara menyimpan kartu itu. Rehan mencari di lemari yang telah kosong, mungkin semua pakaian Kiara telah dipindahkan ke koper sehingga kamar itu kini bersih dan rapi tanpa barang apapun.
Rehan membuka laci dan ketemu. Disana ada sebuah surat dan kartu nama yang telah Rehan cari sejak tadi. Rehan segera mengambil kartu itu kemudian keluar dari kamar itu.
Baru satu langkah Rehan keluar dari kamar itu, Rehan merasa penasaran dengan isi surat yang ada di laci itu. Dia pun kembali masuk ke kamar itu, lalu mengambil surat yang ada di laci itu. Rehan mulai membaca isi dari surat itu.
Rehan terkejut dengan isi dari surat itu. Itu adalah surat keterangan kehamilan Kiara beberapa bulan yang lalu. Dan Rehan tidak mengetahui jika Kiara sedang hamil. Bahkan sekarang dia malah akan bercerai dengan Kiara.
Jika Kiara sedang hamil, mengapa dia meminta cerai dari Rehan?
Siapa ayah dari anak yang dikandung Kiara?
Rehan atau pria itu, Hansaf?
Tapi Rehan yakin, anak yang sedang Kiara kandung adalah anaknya. Karena dia begitu ingat saat malam pertama Rehan dan Kiara berhubungan intim Kiara masih dalam kedaan virgin. Dan tidak pernah disentuh oleh pria lain.
Ya Rehan yakin, itu adalah anaknya. Bukan anak siapapun apa lagi anak Hansaf, pria brengsek yang berani-beraninya mendekati Kiara. Istrinya.
Rehan segera pergi ke pengadilan secepat mungkin. Dia berusaha datang ke pengadilan sebelum sidang perceraian dilaksanakan.
Rehan melirik arloji yang melingkar Indah di pergelangan tangannya. Masih kurang 10 menit lagi sebelum sidang itu dilaksanakan. Rehan semakin mempercepat laju mobilnya, dia tidak perduli jika banyak orang di jalan yang mengumpat dirinya karena membawa mobil dengan kecepatan tinggi, karena yang dia perdulikan sekarang adalah istrinya yang saat ini sedang berada di pengadilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Istri Impian (End)
Storie d'AmoreWanita hanya mengharapkan pernikahan yang berjalan dengan lancar dan bisa menjalani pernikahan itu dengan harmonis. Namun, tidak semua wanita mendapatkan hal yang diinginkannya. Ada sebagian wanita mungkin mendapatkan pernikahan dan suami impian me...
