Hay guys!!!
Happy Reading!!!!
Malam telah berganti pagi, hari berlalu begitu cepat dan kini Kiara seperti pagi sebelumnya yang selalu berada di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya dan sekarang ditambah Bella yang berada di sini Kiara harus membuat makanan yang lebih banyak dan beragam untuk memenuhi kebutuhan ibu hamil.
Saat Kiara sesak asik memasak Rehan datang secara tiba-tiba membuat Kiara sedikit terkejut dengan kehadiran suaminya.
"Ada apa Mas?" Tanya Kiara yang merasa bahwa suaminya tidak pernah datang ke dapur saat masakan belum siap.
Namun sepertinya Rehan enggan untuk menjawab pertanyaan Kiara. Namun secara diam-diam Kiara terus memperhatikan apa yang dilakukan Rehan. Dan dapat dia lihat bahwa Rehan sekarang sedang membuat susu ibu hamil.
Lagi Kiara merasa dikepala Bella yang telah dibuatkan susu oleh Rehan. Kiara merasa sedih disaat dia sedang hamil muda ternyata suaminya telah memiliki seorang pacar yang sedang hamil juga. Itu seperti sebuah kabar yang baik dan juga buruk yang datang secara bergantian.
Setelah Rehan selesai membuat susu dia berjalan kearah meja makan yang ternyata Bella telah berada di sana untuk menunggu Rehan yang sedang membuat susu untuknya.
Rehan menghampiri Bella yang sedang duduk manis di kursi, lalu memberikannya segelas susu yang telah dia buat.
"Ini, minumlah hingga habis agar anak kita tumbuh dengan sehat." Ujar Rehan dengan penuh perhatian.
"Terimakasih Mas." Jawab Bella.
Lagi Kiara hanya mampu melihat kebersamaan mereka dengan hati yang sakit. Kira terus memasak dan berusaha untuk mengabaikan keberadaan mereka berdua yang dapat menghancurkan hatinya. Air mata telah menggenang dikedu pelupuk mata Kiara yang kapan saja dapat jatuh tanpa mampu Kiara tahan.
Tes
Tes
Tes
Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan dari kedua mata Kiara. Diamenangis, menangis oleh rasa perih yang hinggap dihati membuat sakit itu menyeruak menguasai hati Kiara sampai-sampai kiara tidak mampu lagi menanggung sakit itu dihatinya.
"Kenapa aku jadi cengeng seperti ini sih." Gumam Kiara dalam hati.
Tidak terasa Kiara telah selesai memasak makanan untuk sarapan pagi ini. Kiara mulai menata makanan di atas meja satu persatu dengan hati-hati.
"Boleh kan saya membantu Kia?" Tanya Bella.
Saat Kiara akan menjawab pertanyaan Bella, ada orang yang lebih dulu menjawabnya.
"Tidak perlu. Ingat kamu sedang hamil, jika terjadi sesuatu pada anak kita bagiamana?" Ujar Rehan.
Bella pun hanya mampu menuruti apa yang dikatakan Rehan. Sebenarnya Bella sangat ingin membantu Kiara, namun apa dayanya jika Rehan telah melarangnya.
Bella pun hanya mampu melihat Kiara yang sibuk mengambil makanan dari dapur ke meja makan seorang diri tanpa mampu membantunya.
Saat semua makanan telah berada di meja makan, barulah mereka makan bersama-sama.
"Bella." Panggil Rehan.
"Iya." Jawab Bella.
"Biar aku suappi kamu ya? Anggap saja aku sedang menyuapi anakku." Ujar Rehan.
"Tapi Mas." Jawab Bella sedikit ragu.
"Tidak papa. Ayo, aaa.." Ujar Rehan sambil mengarahkan sendok yang berisi makanan kearah mulut Bella.
Bella pun menerima usapan itu dengan rasa sedikit canggung dan malu.
"Rehan benar-benar pandai bersandiwara." Gumam Bella dalam hati.
Sedangkan Kiara yang baru saja mengambil makanan dan akan memasukkan makanan ke mulutnya langsung merasa mual.
Huek......
Huek......
Huek.....
Kiara langsung berlari ke westafel yang berada di dapur. Kiara terus muntah namun yang keluar hanyalah cairan kental. Kiara merasa bingung, mengapa saat dia akan makan perutnya menjadi mual hingga ingin muntah dan saat Kiara memuntahkannya hanya cairan kental saja yang keluar dari mulutnya.
Kiara membersihkan mulutnya, kemudian kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda tadi.
Namun naas, lagi-lagi perutnya mual dan kembali mengeluarkan cairan saja dari mulutnya hingga tubuh Kiara terasa lemas. Kiara kembali duduk di meja makan bersama Rehan dan Bella tapi bedanya kali ini Kiara kembali bukan untuk makan, melainkan untuk sekedar duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lemas.
"Kamu kenapa Kia?" Tanya Bella dengan penuh khawatir.
"Tidak papa ko, santai saja." Jawab Kiara.
"Apa perlu kita periksa kamu ke dokter?"
"Tidak perlu Bel, saya baik-baik saja. Mungkin saya hanya masuk angin." Elak Kiara.
Karena Kiara telah memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya, maka Kiara pun tidak akan mengatakan kehamilannya kepada siapapun termasuk Bella dan Rehan. Cukup dia dan anaknya saja yang tau jika Kiara saat ini tengah hamil.
"Benar kamu tidak papa?"
Kali ini bukan Bella yang bertanya, tapi Rehan suaminya yang bertanya pada Kiara. Rehan menanyakan keadaan Kiara dengan wajah yang dingin dan datar. Namun meskipun begitu Kiara tetap senang karena suaminya telah perhatian apanya walaupun hanya sedikit sekalipun.
"Iya Mas, aku tidak papa." Jawab Kiara sambil tersenyum.
"Sudah periksa ke dokter?"
"Sudah Mas."
"Oh"
Hanya 'oh' jawaban yang telah Rehan katakan. Entah mengapa Kiara merasa sedikit bersedih oleh jawaban singkat yang Rehan berikan. Meskipun Kiara terbiasa diperlakukan dengan dingin, namun entah mengapa rasanya tetap sakit saat orang yang dicintainya bersikap begitu dingin padanya.
"Hanya itukah jawabanmu Mas? Tidakkah kamu ingin tau hasil dari pemeriksaanku ke dokter? Tidakkah kamu ingin tau keadaanku? Apakah sebegitu tidak berartinya aku bagimu Mas? Jika memang aku tidak berarti bagimu, mengapa waktu itu kau bersikap baik dan manja padaku? Apakah kau bersikap baik untuk rasa sakit yang akan aku derita saat ini Mas?" Gumam Kiara dalam hati.
Tanpa Kiara sadari air matanya menetes tanpa permisi, dan sialnya hal itu terlihat oleh Bella yang duduk tepat di depannya.
"Mengapa kamu menangis Kia?"
Dengan segera Kiara menghapus air matanya, walau terlambat karena air mata itu telah terlihat oleh Rehan.
"Aku tidak menangis, mungkin ini karena efek mual tadi." Jawab Kiara yang tentu saja itu sebuah kebohongan.
Tidak mungkin bukan jika Kiara mengatakan dia menangis karena Rehan bersikap cuek padanya.
"Aku pergi dulu ya ke kamar. " Pamit Kiara pada Rehan dan Bella.
Rehan dan Bella pun hanya mampu melihat kepergian Kiara dengan diam tanpa mampu mencegahnya.
"Apakah dia sedang hamil Rehan?" Tanya Bella.
Rehan terdiam membisu tidak tau harus menjawab apa karena dia pun tidak tau keadaan istrinya sendiri. Dan sekali lagi Rehan merasa telah gagal menjadi seorang suami bagi Kiara oleh keegoisannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Istri Impian (End)
RomanceWanita hanya mengharapkan pernikahan yang berjalan dengan lancar dan bisa menjalani pernikahan itu dengan harmonis. Namun, tidak semua wanita mendapatkan hal yang diinginkannya. Ada sebagian wanita mungkin mendapatkan pernikahan dan suami impian me...
