Hay guys, karena ada beberapa yang ingin cerita ini dilanjutkan jadi aku lanjutkan ya.
Happy Reading guys.
Keesokan harinya Kiara bersama Rehan pergi ke sebuah gedung yang sedang mengadakan resepsi pernikahan.
Kiara dengan gaun panjang serta hijab syar'i yang berwarna putih, seputih kulitnya membuatnya terlihat bak bidadari yang turun dari surga. Semua mata kaum adam terpesona saat sang bidadari memasukki gedung itu.
Sedangkan Rehan dengan setelah kemeja biru muda berpadu dengan celana hitam serta jas yang berwarna senada membuatnya terlihat begitu menawan, ditambah dasi yang melingkar Indah di lehernya menambah ketampanannya. Hingga kaum hawa tidak dapat lepas memandangi sang pangeran pujaan hati mereka yang sayangnya telah dimiliki oleh orang lain.
Mereka berdua memasukki gedung sambil bergandengan tangan, seolah mengatakan kepada semua orang bahwa mereka telah bersama dan tidak menerima siapapun yang akan hadir diantara mereka.
Tanpa berlama-lama Kiara dan Rehan langsung berjalan ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai pengantin yang sedang berbahagia itu.
"Kak Hansaf. Kiara tidak menyangka jika Kakak akan menikah secepat ini." ujar Kiara sambil menjabat tangan Hansaf.
"Hey, bukankah kamu yang telah menikah lebih dulu." jawab Hansaf sambil tersenyum.
Hansaf merasa sangat senang karena Kiara dapat hadir di pernikahannya. Ditambah sekarang Kiara pergi bersama seorang pria yang dia duga adalah suami Kiara. Membuat hatinya merasa lebih tenang karena jika Kiara pergi bersama suaminya itu berarti hubungan mereka baik-baik saja.
Semenjak Hansaf tahu jika Kiara menikah karena dijodohkan membuatnya merasa khawatir jika Kiara akan diperlakukan dengan buruk oleh suaminya. Tapi setelah melihat Kiara datang bersama suaminya Hansaf menjadi lebih tenang sekarang.
"Iya sih kak. Tapi tetap aja aku tidak percaya Kak Hansaf dapat menikah di Indonesia. Aku bersyukur banget kakak mengadakan pernikahan di sini jadi aku bisa datang ke pernikahan kakak." jawab Kiara sambil cengar cengir tidak jelas.
"Bilang aja kamu malas kalau harus pergi ke luar negri hanya untuk menghadiri pernikahan."
"Ih Kak Hansaf tahu aja."
"Sudah ketebak."
"O iya aku lupa Kak. Ini kenalkan suami aku namanya Rehan. Mas sudah pernah melihat Kak Hnasaf kan, jadi pasti tahu."
"Hansaf."
"Rehan"
Ucap mereka bersamaan sambil berjabat tangan.
"Jaga baik-baik sepupu saya ya Pak Rehan."
"Panggil Rehan saja. Pasti saya akan jaga Kiara dengan baik, apa lagi dia sekarang sedang hamil. Saya pasti akan menjaganya dengan sangat baik hingga lalat pun tidak dapat menyentuhnya."
"Apa, Kiara hamil? Ko kamu tidak bilang sama aku Kiara?"
"Maaf Kak."
"Sudah, kita lanjut bicara nanti saja ya, kasihan banyak yang ngantri tu dibelakang." ujar Rehan yang merasa tidak enak kepada tamu undangan yang sedang mengantri untuk memberi selamat kepada pengantin baru.
"Ya udah sampai jumpa lagi ya Kak." ujar Kiara pada Hansaf.
"Iya."
"Jaga baik-baik sepupuku, nanti diambil orang." ujar Kiara pada istri Hansaf.
"Iya Kak, terima kasih." jawab istri Hansaf sambil berjabat tangan.
Acara memberi selamat pun selesai mereka turun dari pelaminan. Saat Kiara akan pergi ke perasmanan tangannya segerabdicekal oleh Rehan.
"Ada apa?" tanya Kiara.
Kiara merasa, heran, mengapa Rehan tiba-tiba menghentikannya saat dia akan segera makan, padahal petutnya sudah lapar saat melihat hidangan yang sangat menggiurkan yang tersedia di meja.
Entahlah Kiara merasa semakin lama perutnya tidak dapat dikompromi. Dimanapun atau disaat apapun rasanya selalu lapar dan selalu ingin diisi padahal belum lama ini dia baru saja makan di rumah.
"Kita langsung pulang saja." jawab Rehan.
"Tapi aku lapar Mas." pinta Kiara.
"Kita makan di rumah saja."
"Tapi bayi kita inginnya makan di sini." bujuk Kiara.
"Kita makan diluar saja bagaimana? Kamu sedang ingin makan apa?"
"Wah beneran Mas? Aku mau makan sate kambing muda boleh?" tanya Kiara dengan mata yang berbinar karena senang.
Entahlah dari sekian banyak makanan, Kiara begitu menginginkan sate kambing muda. Kiara membayangkan betapa empuk dan enaknya sate itu yang telah diaduk dengan bumbu kacang. Mmmm...
Sepertinya menggiurkan. Apa lagi jika bumbunya dibuat pedas manis yang sangat kental. Menambah selera Kiara begitu meningkat.
"Iya, ayo." dan mereka pun keluar dari gedung itu, melaju membelah keramaian kota metropolitan yang selalu ramai oleh penduduk bumi yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi saking banyaknya.
Kiara tidak pernah bosan memandangi jalan yang begitu ramai dan gedung-gedung pencakar langit yang begitu banyak. Dia selalu terpesona oleh bangunan yang telah manusia ciptakan, bahkan terkadang Kiara bertanya-tanya bagaimana manusia yang sangat kecil dapat membuat bangunan yang sangat besar dan canggih hanya dengan mengandalkan otak dan fikiran mereka.
Namun kembali lagi, manusia tidak akan mampu melakukan apapun tanpa seizin dari Allah swt. Dan hanya tuhanlah yang maha kuasa melebihi makhluk ciptaannya.
"Apakah jalan Raya lebih menarik dariku?" tanya Rehan yang mulai jengah dengan prilaku Kiara yang terus memperhatikan jalan Raya yang mereka lalui tanpa melirik padanya sedikitpun.
"Iya." jawab Kiara tanpa sadar.
"Apa!" ujar Rehan dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Kiara yang menyadari jawaban yang telah dia katakan disertai ucaoan Rehan yang keras serta aura mencekan yang keluar dari diri Rehan membuat nyali Kiara menciut.
Kini dia mulai merasa takut kembali. Kiara menundukkan kepalanya karena takut.
"Ti.. tidak Mas." jawab Kiara dengan gugup.
"Lalu?" ujar Rehan "Jangan menunduk jika kamu sedang berbicara padaku." lanjutnya.
Kiara mulai mengangkat wajahnya, lalu memandang wajah Rehan yang saat ini sedang fokus menyetir.
Kiara terus memandangi wajah Rehan. Betapa dia terpesona oleh ketampanan suaminya. Hidung mancung, alis tebal, bulu mata yang lentik, mata yang indah, bibir tanpa asap rokok, rahang tegas serta kulit yang putih membuatnya semakin tidak dapat berpaling darinya.
"Tampan." gumam Kiara tanpa sadar, yang sialnya ucapan Kiara dapat Rehan dengar.
Rehan tersenyum saat telinganya mendengar dengan jelas bahwa Kiara istrinya mengatakan bahwa dia tampan. Ya Rehan menyadari jika sejak tadi Kiara terus memandanginya, namun dia biarkan karena dia senang saat Kiara melihatnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Rehan pura-pura tidak mendengar ucapan Kiara.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun." elak Kiara.
Tentu saja dia tidak mengakui jika dia telah mengatakan bahwa, Rehan tampan, sebab jika Kiara mengatakan hal itu maka sama saja dengan dia mengakui bahwa dia telah memandangi dan terpesona oleh ketampanan suaminya. Meskipun hal itu tidak masalah karena Rehan adalah suaminya, tapi tetap saja egonya mengatakan tidak.
"Yang benar." gida Rehan sambil menahan tawanya.
"Benar ih." jawab Kiara sambil cemberut.
"Baiklah, baiklah." jawab Rehan pada akhirnya.
Santai baru pemanasan. 😇😇😇
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Istri Impian (End)
RomanceWanita hanya mengharapkan pernikahan yang berjalan dengan lancar dan bisa menjalani pernikahan itu dengan harmonis. Namun, tidak semua wanita mendapatkan hal yang diinginkannya. Ada sebagian wanita mungkin mendapatkan pernikahan dan suami impian me...
