Happy Reading
***********
"Bagaimana perkembangan kasus penembakan itu, Daniel?" tanya seorang pria pada lawan bicaranya. Mereka berdua berada di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari RayXander NYC Coorp's
"Saya sudah menahan pelaku di gubuk tahanan dan kami sedang mengintrograsinya" jawab pria itu dengan serius
"Sebenarnya apa motif pelaku? Kenapa mereka mengincar istriku?"
Pria itu adalah Raymond. Kasus penembakan yang terjadi 7 bulan lalu, belum diketahui dalang dari penembakan itu. Pelaku yang menembakkan peluru pada tubuh Raymond baru saja ditangkap tadi malam, saat dia hendak kabur dari kota New York.
"Mung-" ucapan pria itu terpotong karena dia mendapat panggilan suara dari seseorang. Daniel ijin pada Raymond melalui tatapan. Raymond menganggukkan kepala dengan bersedekap dada
Raymond menatap jalanan kota New York. Dia tak sabar ingin bertemu istrinya yang sedang mengandung benihnya. Tangan kanannya terulur untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Jari jemarinya menari di atas keyboard. Setelah untaian kata menjadi satu, dia mengirimkan pesan itu pada istrinya. Senyuman terukir diwajah tampannya saat sang istri membalas pesannya.
"Maaf Ray, apa kau ingin ikut aku ke lokasi?" tanya Daniel dengan wajah serius
Raymond menjawab dengan anggukkan. Kedua pria itu keluar dari kafe dan berjalan menuju mobil masing-masing. Daniel memimpin jalan, sedangkan Raymond membuntuti Daniel begitu juga dengan dua mobil di belakang Raymond, yang tak lain para anak buah Raymond.
Mobil melaju membelah jalanan yang sepi. Lokasi yang akan dituju oleh Raymond dan sangat anak buahnya sangat terpencil. Jauh dari keramaian kota, dan juga fasilitas yang sangat minim. Mobil membelok ke arah hutan yang berada di kanan jalan raya. Kanan kiri dipenuhi oleh pepohonan yang tinggi dan beberapa pohon besar. Jalanan terlihat sedikit gelap karena tertutupi oleh dedaunan yang menghalangi cahaya matahari.
Setelah setengah jam melewati jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil, akhirnya mereka tiba dilokasi. Lokasi yang menjadi tujuan mereka adalah sebuah bangunan yang digunakan untuk menahan para musuh Raymond yang berani melukainya dan keluarganya.
Raymond turun dari mobil sport-nya. Daniel dan Raymond berjalan berdampingan, sedangkan empat anak buah yang lainnya berjaga dibelakang Raymond dengan senjata yang berada tubuh mereka. Para anak buah Raymond yang bertugas untuk menjaga bangunan itu langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Raymond.
Salah satu anak buah Raymond memberikan mantel khusus, kacamata hitam, dan senjata api yang berada di dalam mantel itu. Raymond melepas jas kantor beserta dasi dan menggantinya dengan mantel yang tahan terhadap api dan segala jenis peluru. Hal itu dilakukannya untuk melindungi dirinya sendiri dari para musuh. Mungkin saja para musuh sudah menyuruh orang lain untuk mencelakakannya.
Dengan langkah tegap dan sombong Raymond masuk ke bangunan itu. Bangun yang terdiri dari dua lantai. Bangunan ini tidak terlihat seperti tempat tahanan untuk orang yang berani bermain api terhadap Raymond. Tetapi bangunan ini terlihat mewah, bersih, dan rapi. Tapi, ada satu ruangan yang sengaja dibuat menyeramkan. Ruangan itu khusus untuk tahanan.
Raymond menghentikan langkahnya didepan pintu besi yang ada dihadapannya. Kedua penjaga yang berjaga didepan ruangan itu membungkuk hormat. Salah satu dari penjaga itu membuka pintu besi yang mereka jaga 24 jam. Pintu terbuka, siluet tubuh Raymond terlihat dari dalam ruangan. Ruangan itu sangat minim pencahayaan, hanya ada lubang-lubang kecil yang berfungsi untuk sirkulasi udara. Dan jangan lupakan ruangan itu kedap suara, tapi terdapat kamera pengawas dan perekam suara yang tertempel pada dinding. Kedua alat canggih itu transparan jadi para tahanan tidak mengetahui kalau apa saja yang mereka lakukan akan terekam 24 jam.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lightover
RandomMaafkan aku aku adalah pengkhianat. Aku pria terbrengsek. Aku yang berjanji dan bersumpah memastikan kau selalu bahagia tapi akulah yang membuat luka yang teramat dalam di hidup mu -Raymond Xander Benito- Aku rapuh, aku lemah, aku marah...
