Happy Reading
Klo nemuin typo komen
**********
Raymond mengajak kekasih sekaligus calon istri nya ke kantornya. Raymond harus mengurus beberapa dokumen yang sangat penting. Raymond sedang berada di ruang pribadinya untuk mengurus berkas-berkas yang diberikan oleh sekertaris nya. Chariva pamit pada Raymond untuk ke toilet pribadi Raymond yang masih satu lantai dengan ruangannya.
Chariva sedang bercermin di toilet itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan tubuh seorang wanita yang berbalut pakaian formal ala kantoran. Wanita itu menatap sinis kearah Chariva. Wanita itu berdiri di samping Chariva.
"hai anak pungut" ucap wanita itu pada Chariva
"aku tau kau kekasih Raymond asal kau tau Raymond pernah mencicipi tubuhku dan aku sedang hamil anaknya" ucap wanita itu terang-terangan
Chariva tak akan pernah percaya pada wanita yang berdiri disampingnya. Chariva tau bagaimana perilaku sekertaris kekasihnya. Chariva sudah selesai merapihkan rambutnya yang tadi sedikit berantakan. Dia memutuskan untuk segera keluar dari toilet ini. Baru beberapa langkah, rambut Chariva langsung ditarik oleh Parra, sekertaris Raymond.
Chariva meringis. Dia berusaha untuk tidak melawan. Tarikan di rambutnya semakin keras. Chariva menahan tangan Parra yang memegang rambutnya. Wajah Parra terlihat merah padam dan urat dikedua tangannya tercetak jelas.
"kuingat kan lagi padamu, jalang. Jangan sekali-kali kau mendekati Raymond ku. Jika kulihat kau mendekatinya maka aku tak segan-segan menghabisi mu" ucap Parra
Tiba-tiba pintu didobrak dengan keras dari luar. Muncullah tubuh tegap seorang pria yang mengenakan pakaian formal dan pria yang disampingnya mengenakan pakaian petugas keamanan. Wajah Raymond memerah dan rahangnya mengetat. Tangannya mengepal hingga otot-otot yang berada ditangannya tercetak sangat jelas. Raymond sedang menahan amarahnya.
"lepaskan calon istriku, Parra" ucap Raymond dengan tegas
Napas Parra tersekat ketika mendengar suara dari pria yang dicintainya dua tahun yang lalu. Betapa terkejut nya dia ketika Raymond sudah berada di depan pintu toilet bersama dengan seorang petugas keamanan. Jambakan di rambut Chariva terlepas. Chariva langsung berlari kearah Raymond dan memeluknya. Raymond langsung memeluk tubuh calon istrinya dan mengusap bahunya dengan lembut berusaha membuat calon istrinya tenang.
"jalang. Jangan sekali-kali kau menyentuh priaku" ucap Parra dengan nada sinis
"jangan sekali-kali kau sebut calon istriku jalang" ucap Raymond memberi penekanan pada kalimat 'jalang'
"sayang, kau tau kan jika aku sedang mengandung anakmu?" ucap Parra menatap Raymond dengan sendu
"hai nona Parra,open you're eyes. Bagaimana kau bisa mengandung anakku jika aku tak pernah menyentuhmu?" tanya Raymond dengan nada sinis
"mulai hari ini kau ku pecat! Berani-beraninya kau menyakiti kekasihku. Pergilah dari kantorku secepatnya aku tak ingin melihat wajah sialan mu itu. Jangan sekali-kali kau mendekat atau menyakiti kekasihku. Jika kau berani mendekatinya maka ku pastikan kau akan sengsara" ucap Raymond
"bawa dia keluar dari kantor ini" perintah Raymond pada petugas keamanan
"baik sir"
"ingat Parra, kau masuk dalam daftar hitam ku. Kau pasti tau akibat dari itu. Kau tak akan diterima di perusahaan manapun" ucap Raymond dengan dingin dan sorot mata yang memandang Parra seperti musuh
Parra keluar dari toilet dengan digiring oleh petugas keamanan. Tinggallah Raymond dan Chariva yang berada di dalam toilet itu. Chariva masih setia berada dalam pelukan kekasihnya. Raymond menundukkan kepalanya menatap kekasihnya yang berada dalam dekapannya. Raymond merasa bersalah membiarkan kekasihnya pergi sendirian.
Untunglah dia segera menghentikan perbuatan Parra yang sudah kelewat batas. Raymond mengetahui kalau kekasihnya dalam bahaya dari petugas keamanan tadi. Dia merasa ada yang tak beres dari perilaku Parra dan dia juga tau kalau Parra terobsesi dengan Raymond. Petugas keamanan tadi bergegas menuju ruangan Raymond dan melaporkan apa yang dia lihat.
"sayang kau tak apa?" tanya Raymond setelah Chariva melerai pelukannya
Chariva hanya menggeleng "maafkan aku. Karena ku kau sampai begini. Kau tenanglah sayang kupastikan Parra tak akan mendekatimu dan dia juga tak akan diterima di perusahaan mana pun" ucap Raymond
"astaga Ray, apa kau tak kasihan padanya. Kalau dia tak mendapat pekerjaan bagaimana kelangsungan hidupnya" ucap Chariva yang tak tega pada Parra
"sssttttt....sudahlah jangan kau urusi wanita gila sepertinya. Lebih baik sekarang kita pulang" ucap Raymond sambil menggenggam kedua tangan Chariva
"apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Chariva
Raymond mengangguk dan keduanya keluar dari toilet yang sangat mewah. Toilet yang hanya boleh dimasuki oleh Raymond seorang dan kini bukan hanya dia yang boleh masuk toilet itu tapi calon istrinya juga boleh menggunakan toilet itu.
Raymond membawa mobil sport kesayangannya menuju manison keluarga Guztavo. Raymond sesekali mencuri-curi pandangan dari Chariva yang sedang menatap keluar jendela. Raymond masih merasa kecewa dengan sekertaris nya. Bisa-bisanya sekertaris nya melakukan hal seperti itu pada calon istrinya. Mobil sport itu masuk ke pekarangan manison.
Raymond keluar dari mobil dan berjalan memutar bagian depan mobil. Raymond membukakan pintu untuk sang kekasih. Setelah pintu terbuka Raymond mengulurkan tangannya pada gadis cantik yang berada didalam mobil. Chariva menerima uluran tangan dari pria yang dicintainya. Chariva berdiri di samping Raymond dengan tangannya yang digenggam oleh Raymond. Raymond menutup pintu mobil dengan tangan satunya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju manison. Pintu terbuka dan menampakkan empat orang pelayan yang berjejer di kiri dan kanan mereka. Pelayang itu membungkuk hormat dan setelahnya tersenyum. Chariva membalas senyuman mereka dan Raymond juga begitu.
Chariva duduk berdampingan dengan Raymond sedangkan didepan mereka ada Emillio dan Florie. Emillio merangkul Florie dan menatap putri kandungnya yang sedang tertawa bersama Raymond. Dia bersyukur bisa bertemu dengan putri kandungnya. Bisa melihat wajah cantiknya, mendengar suaranya dan tawanya. Emillio berpikir kalau dia tak akan bisa bertemu dengan putri kandungnya.
Keadaan Emillio pasca kecelakaan sudah mulai membaik. Kini tinggal bekas luka yang berada di siku dan lengannya. Florie menatap bahagia kearah putrinya. Suara perut Chariva yang berbunyi membuat seisi ruangan tertawa. Florie dan Chariva memutuskan untuk memasak makan siang bersama. Sedangkan kedua pria yang berusia 25 tahun dengan 47 tahun sedang berbicara masalah perusahaan diruang tengah.
"aku denger-dengar kau memecat sekertaris mu. Kenapa?" tanya Emillio
"dia menjambak rambut Chariva" ucap Raymond dengan nada bersalah
"astaga. Berani-beraninya dia menyakiti putriku" ucap Emillio dengan nada memendam marah
"tenanglah dad,aku sudah memecatnya dan dia sudah masuk dalam daftar hitam perusahaan ku yang artinya dia tak akan diterima di perusahaan manapun" papar Raymond
Emillio mengangguk "bagaimana tadi, apa kalian sudah mendapatkan gaun yang tepat?" tanya Emillio mengalihkan pembahasan
"sudah dad, putrimu sangat pintar dalam memilih gaun" puji Raymond
"siapa dulu dady nya" mereka berdua tertawa
Chariva datang menghampiri mereka yang sedang tertawa di ruang tengah. Chariva mengajak keduanya untuk makan. Mereka ber-empat menikmati makanan yang dimasak oleh pujaan hati masing-masing. Setelah makanan mereka habis tak tersisa, Raymond pamit untuk mengurus kantor. Chariva mengantarkan kekasihnya sampai depan manison. Sebelum pergi Raymond tak lupa untuk memberi kecupan di kening dan bibir milik Chariva. Mobil sport milik Raymond sudah tak terlihat lagi, Chariva memutuskan untuk masuk kedalam manison.
**********
To Be Continue
~Thank You So Much For Read,Vote,and Comment~
7 Desember 2020
11.02 am
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lightover
RandomMaafkan aku aku adalah pengkhianat. Aku pria terbrengsek. Aku yang berjanji dan bersumpah memastikan kau selalu bahagia tapi akulah yang membuat luka yang teramat dalam di hidup mu -Raymond Xander Benito- Aku rapuh, aku lemah, aku marah...
