Yoohyeon membuka matanya perlahan. Setelah beberapa saat berusaha sadar sepenuhnya, wanita itu mulai menggerakkan tubuhnya. Yoohyeon memperhatikan tubuhnya.
"Aku tertidur tanpa mengganti bajuku...."
Wanita bermarga Kim itu kemudian teringat sesuatu. Dia sedang berbicara dengan Yoobin semalam. Itu berarti dia tertidur saat Yoobin masih berbicara dengannya.
"Astaga Kim Yoohyeon!"
Yoohyeon mencari ponselnya. Dia menemukan benda canggih itu di bawah bantal hampir terjatuh dari tempat tidur. Dia mencoba menghidupkannya tapi benda itu kehabisan daya. Yoohyeon menghela nafas kasar. Dia beranjak untuk mandi.
Dia memandangi wajahnya di cermin. Benar-benar terlihat buruk. Benci melihat dirinya yang kacau ini, Yoohyeon segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Air hangat membasuh tubuhnya yang lelah. Ada sedikit rasa nyeri yang dia rasakan di lengan kirinya. Bekas cengkraman kuat nyonya Jo semalam.
O_O_O_O_O_O_O_O_O_O_O
Yoobin keluar dari gedung kampus bersama Jinyoung. Pria itu tidak berbeda jauh dengan dirinya. Sama-sama sedang mendengarkan lagu dan memandangi ponsel masing-masing. Beberapa kali kepala pria itu bergerak mengikuti alunan musik dari headphone hijau yang dia pakai. Seperti yang Yoobin minta pria itu menemani Yoobin menyerahkan surat izin.
"Kau beruntung pihak kampus langsung memberimu izin" Ujar Jinyoung masih fokus ke ponselnya.
"Memangnya kenapa? Apa itu salah?"
"Bukan, hanya tidak biasa. Setelah menyerahkan surat izin biasanya kau harus menunggu setidaknya satu sampai dua hari"
"Pengalamanmu?"
Pria itu terdiam sesaat membuatnya tertinggal beberapa langkah di belakang Yoobin.
"Kau bilang apa pada mereka?" Jinyoung bertanya setelah berhasil mengejar wanita itu.
"Aku bilang ini darurat dan aku sudah memesan tiket keberangkatan untuk malam ini"
"Malam ini??"
Yoobin mengangguk.
"Sejak kapan kau pandai berbohong? Sungguh tidak terduga seorang Lee Yoobin berbohong hanya untuk kekasihnya" Pria itu tersenyum sinis.
Yoobin terus berjalan. Tapi setelah pria bermarga Woo itu mengatakan hal itu, dia terus-terusan memikirkannya. Perkataan Jinyoung benar adanya. Itu fakta yang selama ini dia berusaha lupakan. Dia melakukan hal ini, hanya untuk kekasihnya.
Hanya untuk Yoohyeon. Bukannya wanita ini ingin mempermasalahkan biaya setelah dia memutuskan berkencan dengan Yoohyeon. Hanya saja, dirinya merasa kesal karena pengeluarannya setiap bulan semakin besar, bahkan hampir menyamai pemasukannya.
O_O_O_O_O_O_O_O_O_O_O
"Eum...."
Jiu sedikit menggeliat. Dia baru saja bangun dari tidurnya. Dan dia merasakan sesuatu yang berat di samping tubuhnya.
"Owh.... Siyeon-a...?"
Wanita bermarga Kim itu membelai perlahan pipi kekasihnya tersebut.
"Kau pikir aku tidak tahu kau melakukan apa kemarin heum? Kau benar-benar tertangkap basah Lee Siyeon" Jiu tertawa kecil.
"Siyeon-a.... Siyeon-a...."
"Eum...." Siyeon tidak juga bangun.
"Astaga.... Ayo bangun serigala tampan, kita harus segera check out"
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer to Autumn
Fanfiction"Permisi..." "Ada apa?" "Apa, kau punya ponsel?" "Tidak punya" "Apa, kau ada waktu sebentar?" "Aku tidak punya" "Kalau begitu, mau jadi sahabat pena denganku?" "Baiklah" Yoohyeon harus kembali ke Korea Selatan karena masalah lama yan...
