Minji terus menghentakkan kakinya gelisah menunggu sang teman. Sudah sepuluh menit dia menunggu tapi Gahyeon tak kunjung selesai. Wanita itu benar, paranoid-nya semakin parah setiap saatnya. Entah sudah berapa jari yang Ia gigit tanpa sadar, namun itu tidak menghentikan kekhawatirannya.
Setelah dilanda kepanikan akhirnya Gahyeon selesai mengirimkan suratnya. Wanita itu tersenyum tipis, hanya saja raut wajahnya terlihat sedih. Minji memeluk Gahyeon sangat erat merasa sangat lega. Tangan wanita itu menepuk-nepuk punggung Minji dengan tatapan lurus ke depan. Gahyeon mendekap erat Minji ketika seseorang melewati mereka.
"Terima kasih....." Bisik orang itu pelan.
Gahyeon memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang. Minji juga melakukan hal yang sama.
Setelah beberapa saat akhirnya dia kembali mengangkat kepalanya. Ketika itulah sosok Siyeon terlihat jelas di hadapannya.
"S-Si-Siyeon.....?!!" Wanita itu mundur beberapa langkah.
"Selamat Jiu-ya, kau berhasil mengirimkan surat itu"
"Kau.... Kau selama ini.....?!!" Menyadari Minji hendak kabur, Gahyeon menahannya.
"Dia tidak mengikutimu, setidaknya tidak semalam. Siyeon menemuiku semalam sebelum kau menghubungiku. Maaf Jiu-ya, aku tidak tega untuk memberitahumu"
Minji menatap keduanya bergantian. Permainan macam apa ini? Apakah selama ini juga Gahyeon tidak sama sekali berniat membantunya? Sampai-sampai dia bekerja sama dengan Siyeon?? Seperti itukah?
"Sebelum kau lebih salah paham, kita perlu bicara....." Siyeon menepuk bahu Gahyeon.
"Baiklah.... Aku akan pulang duluan"
Gahyeon melewati Minji dengan kedua matanya menyiratkan permintaan maaf. Kepergian temannya menyisakan luka bagi Minji. Ditambah hanya ada dia dan Siyeon saat ini.
"Kalau kau mau, aku bisa buat penjelasanku ini sangat singkat disini" Siyeon menghembuskan nafas panjang dan maju satu langkah.
"Tapi sayangnya aku punya keinginan lain. Karena mau bagaimana pun juga, aku merindukanmu Jiu-ya....." Satu langkah lagi dia tapakkan untuk mendekati kekasihnya.
"Jadi.... eheum! Mungkin...."
Siyeon berhenti di hadapan Minji. Entah karena panasnya cuaca atau kegugupannya, pipi yang terlihat empuk itu merona. Ini membuatnya teringat akan hari dimana dirinya menyingkirkan ego-nya dan menyatakan perasaannya.
Orang sedingin Lee Siyeon ditaklukan sang matahari hangat incaran anak-anak kampusnya. Meski belum terang-terangan memperlihatkan, hanya dengan mengetahui Minji membuntuti Siyeon sudah membuat orang iri. Meski ada sebagian kecil yang menjodohkan mereka.
"Mungkin..... Kau mau makan es krim sebentar denganku....? Jika kau tidak keberatan"
O_O_O_O_O_O_O_O_O_O_O
Sebuah mug putih tersaji di hadapan Yoohyeon. Hanya sebuah kopi manis untuk menutup lembar kisah cintanya yang pahit. Perasaan mereka bagai es yang mencair. Mungkin dua tahun ini cukup jadi pelajaran bagi mereka. Takdir mungkin menuliskan mereka untuk berpisah dan mau tidak mau, itu terjadi. Bagi Yoohyeon, kisah ini diibaratkan dirinya yang tengah berlari. Di suatu titik sang semesta membuatnya tersandung.
Di detik berikutnya Ia sudah berlari bergandengan tangan dengan Yoobin. Dan tibalah saat dimana, jalan yang Yoohyeon lalui begitu sempit. Dimana mau tidak mau dia harus melepaskan Yoobin agar bisa tetap berlari. Seperti magnet dengan kutub yang sama. Jalan Yoohyeon menolak Yoobin begitu juga sebaliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer to Autumn
Fanfiction"Permisi..." "Ada apa?" "Apa, kau punya ponsel?" "Tidak punya" "Apa, kau ada waktu sebentar?" "Aku tidak punya" "Kalau begitu, mau jadi sahabat pena denganku?" "Baiklah" Yoohyeon harus kembali ke Korea Selatan karena masalah lama yan...
