Surat yang membuatnya terjaga sepanjang malam mengantarkannya kesini, saat ini. Yoohyeon berdiam di tepi pantai. Ia membiarkan celana jeans pendeknya basah oleh sapuan air laut. Rambutnya yang diikat tinggi tersapu oleh angin pantai.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku hoodie hijau tanpa lengannya. Membiarkan dirinya merenung sebentar. Tujuan hidup yang tidak pasti ini membuat seorang Kim Yoohyeon kebingungan.
"Haruskah aku melakukan sesuatu yang baru? Aku tidak mendapatkan apa-apa setelah berdiri disini selama lima menit" Keluhnya.
Setelah berpisah dengan Yoobin dan kini, berpisah dengan Jiu. Entah bagaimana Ia menyampaikan rasa sakit di hatinya sekarang. Tidak ada tersirat kata lega satu kali saja setelah hantaman patah hati ini.
Semua hanya berkutat pada dirinya yang kehilangan arah hidup. Hatinya kosong, begitu juga pikirannya. Tidak juga dia hanya, masih terus merasakan sakit dari dua cintanya yang harus layu dan gugur.
"Hah...... Aku berusaha melakukan apa yang aku lihat di film. Ternyata patah hati dan pergi ke pantai menyaksikan sunrise tidak membuatku mendapatkan sesuatu. Dasar, film selalu lebih keren daripada di kehidupan aslinya" Yoohyeon menyatukan kedua tangannya di belakang kepalanya.
"Haruskah aku berteriak dan mengeluh karena telah dua kali patah hati??" Wanita itu langsung menggeleng dan menepis ide memalukan itu.
"Maybe you want to sing something?"
[Mungkin kau ingin menyanyikan sesuatu?]
"Excuse me?"
[Maaf?]
"Sing something. Sometimes a song tell us what we can't say. Deeply inside your heart, there must be a song that playing slowly. Try to sing it"
[Nyanyikan sesuatu. Terkadang sebuah lagu memberitahu kita apa yang tidak dapat kita katakan. Jauh di dalam hatimu, pasti ada sebuah lagu yang bermain pelan. Coba nyanyikan itu]
"The sun gonna hit the bag again because of my song" Yoohyeon tertawa pelan.
[Matahari akan tidur lagi karena laguku]
"Heart broken?" Tanya wanita asing itu.
[Patah hati?]
"How can you know that?" Yoohyeon berkacak pinggang dan tersenyum sinis.
[Bagaimana kau tahu itu?]
"Your face said that"
[Wajahmu mengatakannya]
"Well I guess you're not wrong either. Have you feel it?"
[Ya aku rasa tebakanmu tidak salah juga. Apakah kau pernah merasakannya?]
"Running through someone who's really cold but sweet like ice tea. Gladly I got it" Jawab wanita itu sembari mengepalkan tangannya.
[Berlari menuju seseorang yang sangat dingin namun manis seperti es teh. Syukurlah aku mendapatkannya]
"You're cheating! Get out of my way" Yoohyeon tersenyum sinis.
[Kau curang! Pergi dari jalanku]
"Korean?"
[Korea?]
"Me? How??" Yoohyeon menunjuk dirinya sendiri.
[Aku? Bagaimana??]
"I heard you before I talk to you" Wanita itu memukul pelan kepala Yoohyeon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer to Autumn
Fiksyen Peminat"Permisi..." "Ada apa?" "Apa, kau punya ponsel?" "Tidak punya" "Apa, kau ada waktu sebentar?" "Aku tidak punya" "Kalau begitu, mau jadi sahabat pena denganku?" "Baiklah" Yoohyeon harus kembali ke Korea Selatan karena masalah lama yan...
