Jiu berlari secepatnya ke sebuah kamar. Dia membuka pintu dan mencari sesuatu di dalam ruangan itu. Dia menemukan sebuah kotak P3K dalam lemari pakaian. Dengan segera dia berlari lagi keluar. Setelah turun dari lift dia berlari secepat kilat.
Seseorang segera mengambil kotak yang Jiu bawa. Jiu tersenyum lega setelah berhasil mengantarkan kotak tersebut. Wanita itu langsung kembali ke samping temannya, atau lebih tepatnya, kekasihnya. Baru sekitar dua bulan dia resmi berpacaran dengan seorang Lee Siyeon. Tapi itu adalah rahasia, kalian mengerti?
"Siyeon-a" Jiu menepuk bahu Siyeon.
"Ya.... Siyeon-a...." Akhirnya orang itu melihatnya.
"Ah ya? Ada apa?"
"Kau...... Tidur??" Jiu menahan tawanya.
"T-tidak.... Aku hanya terlalu menikmati suasana"
Jiu merasa geli dengan sikap Siyeon yang menutup-nutupi kalau dia benar-benar ketiduran. Wanita itu mencoba melihat sekelilingnya, memantau situasi. Di lain pihak Siyeon kembali menatap ke depan. Jujur dia lebih memilih untuk berada di hotel. Disini panas, berisik, ditambah dengan dirinya yang bagaikan tontonan gratis.
Apakah dia pantas disebut aneh karena bisa dibilang dia sendirian yang berdiam diri di bawah payung. Bajunya juga berbeda dari yang lain. Ketika teman-teman wanitanya mengenakan crop top dan celana jins pendek, dia? Kaos putih polos lengan pendek dan celana pendek hitam selutut. Karena penampilannya, dia lebih cocok di sebut tampan dibandingkan dengan cantik.
CUP!
"Hah.....?" Siyeon membulatkan matanya.
"Jangan melamun"
Jiu mencolek ujung hidung kekasihnya itu. Setelah itu dia dengan seenaknya pergi.
"Dasar wanita" Siyeon bergumam.
O_O_O_O_O_O_O_O_O_O_O
Yoohyeon tertidur tepat setelah tubuhnya bertemu dengan tempat tidur. Dia tidak terlalu merasakan jet lag karena rasa kantuknya lebih dominan. Dia tidak terlalu peduli pakaiannya yang basah karena keringat. Cuaca disini lebih menyengat daripada di Amerika, meski sama-sama sedang musim panas.
Suara dengkuran halus terdengar. Dia benar-benar kelelahan. Tapi dia bisa bangun kapan saja jika ponselnya berdering. Tentu saja bukan bunyi dering biasa. Tapi bunyi dering khusus ponselnya menandakan kalau Yoobin yang menelponnya. Tapi maafkan Yoohyeon, kali ini tidurnya tidak dapat diganggu. Bahkan oleh Yoobin sekali pun.
"Chills man! She'll be alright there, alone" Temannya berusaha menenangkan Yoobin.
[Tenang teman! Dia akan baik-baik saja disana, sendirian]
"I know, it is just..... It feels different without her here"
[Aku tahu, hanya saja..... Ini terasa berbeda tanpanya disini]
"Give her time panda, she maybe tired"
[Beri dia waktu panda, dia mungkin lelah]
"Or found sexy man and play a round with him" Seorang teman lain menanggapi sambil tertawa.
[Atau dia menemukan pria seksi dan bermain-main dengannya]
"Shut up!"
[Diam!]
Yoobin menjauh sedikit dari kedua orang tersebut. Berulang kali sudah dia menghela nafas hari ini. Dia membenarkan perkataan temannya tadi, mungkin Yoohyeon sedang istirahat. Bagaimana bisa dia melupakan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer to Autumn
Fiksi Penggemar"Permisi..." "Ada apa?" "Apa, kau punya ponsel?" "Tidak punya" "Apa, kau ada waktu sebentar?" "Aku tidak punya" "Kalau begitu, mau jadi sahabat pena denganku?" "Baiklah" Yoohyeon harus kembali ke Korea Selatan karena masalah lama yan...
