Song list : Sad - Ost The World of The Married.
11|| DENIED PREGNANCY
"Maaf nyonya. Non Alea pingsan!"
Sienna yang tengah menikmati teh hijau di sore yang dingin bersama ke-dua menantunya, hampir tersedak ketika salah seorang pelayan di rumah menghampirinya dengan tergopoh membawa berita buruk yang menimpa putrinya.
"Pingsan? Dimana?! Kok bisa?!" paniknya langsung meletakkan cangkir tehnya seraya berdiri.
"Di samping kolam, nyonya. Kayaknya tadi kepleset terus jatuh pingsan."
Buru-buru wanita paruh baya itu berlari menuju kolam renang, diikuti ke-dua menantunya yang juga tak kalah panik mendengar kabar adik iparnya terpleset sampai jatuh pingsan.
"Vinoo! Vin! Sendy!"
Suaranya berteriak amat nyaring, membuat ke-dua putranya yang tengah asyik bermain PS terlonjak kaget, menatap protes padanya.
"Apa sih ma teriak-teriak," kesal Alvino, melempar stik PS-nya ke sofa.
"Alea pingsan!" semprot Sienna tanpa bisa menyembunyikan raut paniknya, membuat Alvino juga Sendy kaget dan lekas-lekas berdiri mengikuti langkah ibu mereka.
Sesampainya di kolam, mereka disuguhkan pemandangan seorang gadis tergeletak di tepi kolam dengan kondisi setengah tubuhnya basah terkena air kolam yang tumpah lantaran penuh.
Tanpa dikomando, Sendy dan Alvino mengambil peran, mengangkat tubuh Alea untuk dibawa ke dalam. Merasa kamar Alea terlalu jauh, mereka membaringkan Alea di kamar Lucio yang letaknya paling dekat dengan posisi mereka sekarang.
"Telepon papa suruh pulang, telepon Dokter Bina juga suruh datang ke rumah," perintah Sienna pada anak-anaknya yang langsung dilaksanakan oleh mereka.
Sembari menunggu ke-dua anak laki-lakinya yang keluar menghubungi orang yang disebutkan tadi, Sienna melepas baju Alea yang basah, digantikan baju yang dibawakan oleh pelayan.
"Papa otw pulang," kata Alvino sekembalinya dari luar, disusul Sendy yang menempatkan diri di sampingnya.
"Dokter Bina juga meluncur abis dari dinas," timpal Sendy.
Meski putra-putranya sudah melaksanakan tugas yang ia perintah, ia tetap belum bisa tenang sebelum Alea sadar dan diperiksa langsung oleh dokter.
Sembari menunggu dokter keluarga mereka datang, ibu lima anak itu memberikan penanganan semampunya dengan memijat pelan lengan Alea. Tak lupa minyak kayu putih ia dekatkan di hidung putrinya, dengan harapan, Alea segera sadar menghirup aroma khasnya.
"Kok bisa pingsan sih ma?" tanya Sendy, mengisi tempat kosong di samping sang mama. Tangannya ikut memijat kaki Alea.
Wanita yang ditanyainya menggeleng. Tak heran jika ibunya nampak begitu khawatir. Cowok itu juga bisa melihat bagaimana kondisi adiknya yang terbaring tak sadarkan diri di depannya.
Pucat. Alea terlihat sangat pucat. Lip balm yang biasa membuat bibirnya terlihat lebih lembab kini kalah performanya. Bibir Alea tetap terlihat pucat.
"Alea kenapa lagi sih," gumamnya mengeluh. Diusapnya dengan penuh sayang dahi Alea yang rupanya cukup hangat. Tak heran jika dia sekhawatir ini. Putrinya yang terkenal ceria di kalangan anak-anaknya baru saja berurusan dengan psikiater.
Kekhawatirannya semakin menjadi ketika tangannya merasakan suhu tubuh Alea. Ia beranggapan putrinya pasti meriang. Tidak pernah ada cerita Alea terpleset lalu pingsan dan tak kunjung bangun dengan suhu tubuhnya yang tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
