🍉 Baseball Bat

19.9K 711 11
                                        

Song List: Mama - Exo-K

Komen biar author seneng

12 || BASEBALL BAT

Sudah tiga hari berlalu semenjak kehamilan Alea terungkap, Alvino tak sabar jika harus menunggu Alea mengaku sendiri apa yang telah diperbuatnya, dengan siapa dia berhubungan, dan siapa ayah dari anak yang dikandungnya.

Ia memutuskan mengambil sikap sendiri meski ayah dan ibunya sudah mewanti-wanti agar jangan ada yang membahas hal ini dengan Alea. Mereka bilang akan menyelesaikan saat waktunya tepat nanti. Namun, dia tidak tahan melihat Alea terus-terusan memendam masalah seorang diri. Akan dia coba untuk memancing anak itu agar mau berbagi cerita.

Tanpa sepengetahuan anggota keluarganya, ia mendatangi Alea yang sepertinya masih terlelap sore ini. Tiga hari pula Alea tidak masuk sekolah karena tidak diizinkan orang tuanya. Mereka meminta Alea agar istirahat di rumah sebelum benar-benar kembali baik-baik saja dan bisa diajak berdiskusi menyelesaikan masalah tersebut.

Bersikap seolah kamar itu adalah miliknya, Alvino menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu atau minimal izin pada pemiliknya sebelum masuk.

Hal pertama yang ditangkap oleh pandangannya adalah Alea yang tengah duduk di ayunan kayu yang ada di balkon. Perempuan itu nampak melamun, membiarkan ayunan mengayunnya.

Alvino menarik napas dalam agar gemuruh di dadanya dapat berangsur hilang. Ia berjanji akan mengendalikan emosinya agar jangan sampai membuat Alea takut. Merasa siap, ia melangkah mantap mendekati adiknya.

"Lea," panggilnya pelan. Gadis itu menoleh pelan, menatap sayu Alvino yang berdiri di depannya.

Alvino terpaku melihat wajah sendu Alea. Dia berjanji akan membantu adiknya menyelesaikan masalahnya dan mengembalikan senyum cerianya. Tanpa bertanya lebih dulu, ia mengisi tempat kosong di samping Alea.

"Gimana keadaan kamu?" tanya Alvino, menepikan sejenak rasa penasarannya yang sudah di puncak.

Alea menunduk, menatap perutnya. "Baik."

Alvino mengangguk paham, bersyukur mendengar jawaban Alea. Ia beralih menatap perut Alea, dimana perempuan itu juga tengah menatap di sana.

"Dia? Gimana?" tanya Alvino lagi, menanyakan keadaan janin Alea. Calon keponakannya.

Alea menghembuskan napasnya panjang. Jika tadi hanya memandangi, kini tangannya mulai mengusap perutnya. "Tiap pagi nakal. Mual terus," sahutnya datar. "Kayak mau bunuh aku," sambungnya, kemudian terkekeh pelan.

Alvino meraih kepala Alea untuk disandarkan di bahunya. "Mau cerita sama kakak nggak?"

"Siapa tahu kamu ada yang mau diomongin. Kakak bakal bantu semampunya," tutur Alvino, memulai kebiasaannya untuk menjadi sosok pelindung ketika ia melihat Alea menghadapi sebuah masalah.

Segala tingkah jahil, usil dan tengilnya yang biasa ia lakukan pada Alea, lenyap, berganti kepribadian hangat yang ia bagi untuk gadis itu.

"Aku nggak tahu pasti dia siapa." Alea bersuara, setelah sebelumnya hanya diam karena masih ragu, harus berkata jujur pada Alvino, atau jangan. Akhirnya, ia memilih bercerita.

Cowok itu hanya diam, tak berniat memotong penjelasan adiknya sebelum gadis itu memberikan kesempatan untuk dia berpendapat.

"Aku juga sama sekali nggak pernah punya niat ngelakuin itu," ucapnya lagi. Entah ke berapa terdengar helaan napas dari hidungnya. Terselip penyesalan dalam ucapannya barusan.

Tangan kokoh Alvino merangkul bahunya, mengusap pelan lengan kecil Alea "Kapan?"

"Pas ke birthday party-nya Fero."

ALEA'S Journey Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang