🍉 Sampai Menutup Mata

17.1K 536 30
                                        

Song List: Sampai Menutup Mata - Acha Septriasa.

63 || SAMPAI MENUTUP MATA.

Ke-dua insan berbeda gender itu berpelukan amat erat di tengah-tengah keramaian orang yang berlalu-lalang. Mereka sama sekali tak peduli dengan tanggapan orang-orang di sekitar. Toh mereka pasangan yang legal, halal dan sah baik di mata hukum maupun negara.

"Kalau udah selesai janji langsung susul aku ya?" bisik Alea, memeluk begitu erat tubuh Barra yang menjulang tegap di depannya, menjadi penopangnya untuk bersandar.

Barra mengulas senyum tipis, menunduk untuk menatap Alea yang masih juga tak mau melepaskannya. Dielusnya surai panjang perempuan itu dengan penuh sayang.

"Pasti Sayang, aku udah janji, pasti sebisa mungkin aku tepati," ucap Barra yakin, kemudian menggenggam erat tangan Alea di bawah sana.

Rasanya ia tak akan pernah puas memandangi wajah perempuan yang nampak ingin menangis itu. Ia tak akan pernah bosan menjalani hidupnya bersama Alea.

Alea yang menjadi bukti jika tuduhannya tentang cinta dulu tidaklah nyata. Cinta tidak seseram itu. Cinta tidak sesadis itu. Cinta tidak seburuk yang ia lihat di hidup ke-dua orang tuanya. Bahkan Barra yakin, sehancur apapun hubungan seseorang, setitik cinta itu tetap akan ada dalam diri mereka. Bahkan mereka yang berpisah pun dulu saling mencintai.

Tapi, Barra tidak akan membiarkan cinta itu habis. Dia ingin selalu memeliharanya dengan sepenuh hati, dan hanya ingin ia persembahkan untuk perempuannya. Benar, perempuannya. Mungkin akan ada perempuan-perempuan lain di hidupnya nanti. Tak hanya Alea, melainkan putrinya. Ia hanya ingin memberitahu cintanya untuk mereka.

"Jangan nangis dong, aku jadi semakin berat nanti perginya," pinta Barra seraya mengusap sudut mata Alea. Senyum tulus terukir di bibirnya, menangkup wajah kecil Alea dengan ke-dua tangannya.

"Aghh, kalau bukan terpaksa, aku juga nggak mau ninggalin kalian," erang Barra, menarik Alea lagi ke dalam pelukannya. "Mana rela sih aku ninggalin kamu sama Juna? Mana tahan aku nggak lihat tingkah Juna yang bikin gemas itu?"

"Pa! Ma! Juna kok nggak diajak bicara?!"

Baik Barra maupun Alea sama-sama melotot, saling pandang, kemudian menoleh ke bawah dimana ada anak kecil yang nampak mengomel pada mereka. Tangan kecilnya terlipat di depan dada, terlihat merajuk.

"Astaga. Papa lupa ada kamu!" Barra memekik terkejut, tanpa basa-basi langsung mengangkat tinggi-tinggi tubuh Juna untuk ia gendong.

Alea tertawa lepas melihatnya. Terlalu sibuk drama dengan Barra membuatnya lupa jika Juna pun turut bersamanya mengantar Barra ke bandara.

"Uculnyaa anak Papa. Jangan cepet gede ya? Papa mau liat kamu gemesin terus kayak gini," ucap Barra, menciumi pipi Juna sampai anak itu terkikik geli.

"Juna jagain Mama ya?" pesan Barra dengan senyum teduhnya, mengusap rambut halus Juna, bahkan mengecup keningnya dengan lembut. "Jangan nakal, harus jadi anak baik," imbuhnya.

Juna yang merasa itu tugas yang mudah tentu saja langsung mengangguk semangat, mengangkat jempolnya. "Siap! Papa tenang aja, Juna baik dan nggak nakal kok. Juna juga jagain Mama. Etapi Juna kan masih kecil, nanti kalau ada yang nakal Juna aduin ke Papa aja ya? Nanti Papa yang marahin orang yang jahatin Mama."

Melihat itu, Barra benar-benar tidak tahan untuk tidak melepas tawanya. Sesederhana itu arti kebahagiaan untuknya. Barra tak butuh lagi popularitas atau dikenal banyak orang seperti di masa remajanya. Berapa banyak pun orang yang mengenalnya, mereka tak memberi pengaruh apa-apa di hidupnya. Mereka hanya sebatas mengagumi kelebihannya tanpa mengerti kekurangannya.

ALEA'S Journey Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang