🍉 A Night

18.2K 601 20
                                        

Song List: Can You Hear Me - Ben | ost Hotel Del Luna

"Aku sudah menangis untuk waktu yang cukup lama,
Karena kau tak bisa mengetahui isi hatimu, padahal aku berdiri di sini, tepat di depanmu, tapi mengapa kau tak bisa melihatku? Bisakah kau mendengar suaraku ini?"

~ B E N ~
on Indonesian meaning

30|| A NIGHT

Pukul setengah satu dini hari, perempuan berpiyama putih itu terpaksa bangun dari tidur nyenyaknya. Padahal seharian ini, dia benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup setelah lelah menangis dan melamun memikirkan sekolahnya.

Namun, ada sesuatu yang calon bayinya inginkan hingga membuatnya terbangun tengah malam. Dia baru merasakan hal seperti ini. Apa inikah yang disebut ngidam?

Ketika sadar jam sudah menunjuk pukul berapa, rasa-rasanya akan mustahil mendapatkan sesuatu yang sangat ia inginkan malam ini juga. Tahu jika keinginannya lagi-lagi belum bisa didapat, Alea mendesah lesu.

Ia menunduk, menatap selimut tebal yang membalut tubuhnya. Tanpa sadar, air matanya tiba-tiba menetes tanpa dapat ia cegah. Ia membiarkan cairan bening itu terus berjatuhan membasahi selimutnya. Alea tidak mengerti kenapa dia jadi sangat sensitif akhir-akhir ini.

Di awal pernikahan dulu, dia cukup kebal. Mendengar bentakan bentakan bahkan umpatan Barra pun dia cukup mampu menahan sakitnya. Namun sekarang, perasaannya sangat mudah tersinggung.

Menengok ke samping, Alea mendapati Barra tengah terlelap nyenyak menghadap ke arahnya. Napasnya teratur.

Setelah mimpi buruk yang alurnya selalu serupa terus menghantui malamnya, Alea mengaku tidak pernah nyaman untuk tertidur. Ia selalu dihantui suara tangis keras bayinya yang bercampur dengan suara tembakan beruntun dari peluru yang dilesatkan dari pelatuk pistol. Alea frustasi. Ia lelah dengan semua ini.

Setelah pengakuannya pula, Barra memutuskan menemaninya hingga bertemu alam tak sadarnya. Cowok itu selalu tertidur setelah memastikan Alea sudah terlelap. Jika saja Alea tidak tahu secepat itu rencana jahat Barra terhadapnya, mungkin ia akan terus dibuat terbuai dengan segala tingkahnya.

Nyatanya, Alea sudah tahu bahwa ia akan diceraikan pun, perasaan kagum itu tetap ada setiap Barra dengan caranya sendiri memperlakukannya dengan baik, pun dengan memastikan dia tetap nyaman.

Suara air galon dari dispenser berpadu suara jarum jam yang terus berdetik teratur, tak cukup membuat Alea merasa tidak kesepian. Ada perasaan tak nyaman setiap ia bangun tengah malam dan mendengar semua bunyi itu.

Menatap kursi di balkon yang terlihat kosong tak berpenghuni, Alea tiba-tiba merasa semakin kesepian. Biasanya, dia yang mengisi kursi itu. Tak hanya sendiri, melainkan bersama Barra. Mereka akan berbincang hal-hal random di malam yang cerah, menikmati coklat hangat buatannya dan sepiring brownies serta croissant yang asapnya masih mengepul karena baru keluar dari oven. Mungkin suatu saat, dia akan sangat merindukan masa-masa itu. Ia bahkan baru menyadari, rupanya sudah sedekat itu dia dengan Barra. Semuanya mengalir begitu saja. Jika saja ia tak mendengar percakapan Barra dan ayahnya kemarin, mungkin sampai kapanpun, dia akan bisa terus mengajak Barra mengobrol santai di balkon itu, tanpa terbebani pikiran-pikiran buruk yang terus berkeliaran.

Rasanya semakin sesak ketika ingatannya memutar kembali kejadian beberapa hari yang lalu.

Kala itu, Barra mengajaknya pulang ke rumah. Mereka memenuhi permintaan ibu Barra yang mengundang makan malam di rumah megahnya. Alea yang menganggap mereka murni mengundangnya hanya untuk makan malam pun dengan senang hati datang.

ALEA'S Journey Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang