33 || KILAS BALIK
Cowok yang identik dengan ekspresi datar dan enggan mengeluarkan senyumnya secara cuma-cuma itu, malam ini benar-benar terlihat lain dari biasanya. Ia kesulitan menahan senyumnya saat melihat layar monitor yang menampilkan kondisi kandungan istrinya.
Saking sulitnya menahan senyum namun tetap memaksakan, sudut bibirnya jadi berkedut pelan.
Suara degup jantung calon anaknya menimbulkan perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Mereka hening, benar-benar membiarkan suara detak jantung yang pelan namun teratur itu menjadi satu-satunya suara yang mengisi.
"Kamu nangis, Bar?!" Alea yang semula fokus pada layar USG, tidak bisa tidak terkejut bahkan shock ketika memergoki Barra mengusap cepat sudut matanya yang sempat ia lihat mengeluarkan setetes air.
Barra yang terpergok mendadak ngeblank. Ia pun tak kalah terkejut ketika Alea memergokinya. "Gak. Salah liat lo," elaknya, menatap ke sembarang arah.
Dokter Chika yang melihat mereka hanya tersenyum seraya menggeleng. Ia merasa lucu melihat interaksi pasangan muda di hadapannya sekarang.
"Syukurnya semua baik-baik aja. Degup jantungnya, posisinya, semua normal. Perkembangannya juga baik."
Tak hanya Alea, Barra lebih bernapas lega. Ia berhasil memastikan calon anaknya baik-baik saja setidaknya sampai saat ini. Ia mulai sadar, dari rahim perempuan manapun anaknya tumbuh, itu tetap anaknya. Dibenci atau dicintainya perempuan itu, janin itu ada karena benih darinya. Tidak sepantasnya saat itu Barra mengutuk keberadaannya.
"Kalian kan calon orang tua. Harus dipersiapkan semuanya mulai dari sekarang. Kalian harus selalu kompak," saran Dokter Chika yang mulai mengakhiri pemeriksaan.
"Jangan lupa vitaminnya diminum ya. Kalau ada sesuatu langsung periksakan, jangan menduga-duga sendiri."
"Anak saya bisa lahir normal, Dok?" Sudah tentu Alea yang bertanya. Ia harus memastikan kelak bisa melahirkan secara normal atau tidak. Alea selalu berangan-angan suatu saat bisa mengejan dan bermandikan keringat untuk memperjuangkan kelahiran calon buah hatinya.
Berbeda dengan Alea, Barra justru menginginkan Alea melahirkan dengan proses operasi saja. Dia tahu bagaimana sakitnya perjuangan melahirkan secara normal. Bukan berarti operasi tidak sakit. Keduanya sama sakitnya karena sama-sama memperjuangkan lahirnya sebuah nyawa. Tapi Barra pikir, jika operasi, mereka bisa merencanakan kapan lahirnya anak mereka.
"Belum tahu, lihat nanti ya. Tapi kalau lihat kondisinya sejauh ini sih kayaknya baik-baik aja dan memungkinkan normal. Tapi nggak menutup kemungkinan juga kalau ternyata operasi."
Alea tersenyum lebar, mengangguk setuju. Setelahnya, dengan dibantu Barra, ia turun dari brankar yang cukup tinggi. Tanpa sepengetahuan Barra, Alea memperhatikan beberapa perubahan sikapnya yang memang semakin baik. Cowok itu bahkan membantunya tanpa ia minta. Enggan semakin memperbesar harapan yang tak berujung kepastian, Alea menganggap cowok itu hanya memperhatikan calon bayi mereka.
Alea benar-benar baru tahu efek minimnya pengalaman dengan lawan jenis. Diperhatikan sedikit saja sudah baper. Jika dia terbiasa diperlakukan seperti itu oleh laki-laki yang dalam tanda kutip bukan keluarganya, mungkin Alea tidak sebaper ini.
🍉
"Gue mau keluar sama anak-anak."
Masih tertarik memperhatikan foto hasil USG-nya, Alea menyahuti Barra tanpa menoleh ke arahnya. "Kemana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Novela JuvenilUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
