Song List: Untuk Hati Yang Terluka - Isyana Sarasvati
"Hidup itu sandiwara, yang nyata ternyata delusi. Terlarut posesi berujung kau gila sendiri."
~ I S Y A N A ~
31 || DELUSI
Ketiga remaja seumuran itu sama-sama bungkam, menatap satu sama lain. Barra menatap bingung ke arah Alea dan Galih, sedangkan Alea sendiri tengah mendesah lesu sampai menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Masalahnya, gue baru aja cukuran bulu ketek. Liat nih, mulus." Galih mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memamerkan ketiaknya yang mulus tanpa bulu.
Barra mendengkus jengah melihat itu. Cowok itu tak pernah berubah sejak dulu. Barra mengenal Galih sejak SMP, dan memang seperti itu tabiatnya. Kelewat percaya diri dan tidak tahu malu.
"Terus gimana? Pokoknya aku gak mau tau ya Bar, ini anak kamu yang minta," ucapnya kekeuh tak mau dilawan.
"Gak bisa diganti yang lain?" tanya Barra mencoba menawar. Galih yang ikut penasaran spontan menegakkan tubuhnya yang tadi menyandar lemas, didukung kantuk yang benar-benar masih mendominasi.
Terlihat, Alea mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu. Gerakan yang sangat khas dilakukan oleh orang yang tengah berpikir atau menimbang-nimbang sesuatu.
"Bentar bentar aku tanya dulu."
Mendengar itu, Barra dan Galih reflek lemas lagi, menyandar di sofa seraya memejamkan mata. Mereka dengan sabar menanti Alea yang masih bisik-bisik dengan perutnya dengan dalih menanyai calon anaknya tentang keinginannya yang dengan terpaksa harus dirubah.
Tak lama setelah itu, Alea tiba-tiba terkikik sendiri. Dua laki-laki di dalam sana hanya saling pandang, melempar tatapan jengah masing-masing.
"Boleh diganti deh," celetuk Alea tiba-tiba, membuat Barra merasa mendapatkan sedikit kekuatan untuk menghadapi Alea. Semoga kali ini tidak nyeleneh. Barra benar-benar berharap malam ini dia bisa segera ambruk di ranjangnya lantaran sudah sangat kelelahan dan mengantuk.
"Apa?" tanya Barra pelan. Terlihat sekali rautnya sudah was-was.
"Mau rebonding bulu mata Galih. Atau kalau gak gitu, mau cat kumis Fero juga gapapa---"
"NAH! Udah sana aja ke Fero, jauh-jauh dari gue. Bikin orang parnoan aja." Seolah dapat menghirup oksigen dengan tenang, Galih benar-benar bersyukur.
Jika Galih merasa sudah lepas dari tekanan batin yang disebabkan ngidamnya Alea, lain dengan Barra yang hingga saat ini tetap stress dan pusing, bahkan sepertinya lebih parah dari tadi. Jangan bilang dia harus berganti mengetuk rumah Fero di jam-jam mbak kunti mangkal.
"Udah udah pulang aja. Gak ada yang bener lo ngidamnya," kesal Barra, dengan raut frustasi berdiri, membuat Alea terpaksa ikut berdiri karena harus memprotes Barra yang memilih pergi begitu saja.
"Kok pulang sih! Katanya mau turutin!" protesnya, menghadang suaminya yang hendak pergi.
"Yang ngotak dong kalau minta."
Alea menatapnya bingung. "yang ngotak? Kayak adudu?"
Galih dibuat terkesiap mendengar jawaban yang terlalu ajaib yang dilontarkan begitu saja oleh Alea tanpa basa-basi. Ia menggeleng, mendadak takjub dengan Barra yang kuat menghadapi orang sejenis Alea.
"Dikatakan salah juga tidak benar," gumam Galih diam-diam, masih menatap bingung ke arah suami-istri yang malam-malam numpang gelud di rumahnya.
Dulu, dia memang sempat terpikir ingin nikah muda. Namun ketika melihat bagaimana rumah tangga Barra dan Alea secara nyata di depan matanya, dia jadi berniat menghilangkan jauh-jauh keinginan itu, bahkan menguburnya sampai dalam. Dia tidak yakin bisa sekuat Barra menghadapi ibu hamil yang tingkahnya suka di luar nalar.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Подростковая литератураUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
