24 || JANJI BARRA
"Tante, itu apa?" Dengan penasaran dan wajah antusias, Lucio menyambut kedatangan Alea yang baru pulang dari sekolah. Ia melihat perempuan itu menenteng dua kotak di dalam plastik putih yang tak ia tahu apa isinya.
Meletakkan dua kotak tadi di atas meja, Alea melepaskan tas ranselnya hingga merasakan beban di pundaknya langsung berkurang. Lelah setelah mencerna banyak materi yang cukup sulit, Alea ambruk di atas sofa. Ia memijit tengkuknya yang rasanya pegal.
"Cheesecake sama mix fruit dari Harvest. Kesukaan kamu, kan?"
Lucio langsung berbinar mendengar itu. Ia turut duduk di samping Alea dan langsung memeluk erat perempuan itu. "Makasih, Tantee. Cio sayang banget sama Tante." Dengan sangat bersemangat, anak itu lalu memberikan satu ciuman di pipinya.
Alea terkekeh melihat itu. "Tante juga sayangg banget sama Cio," balas Alea, lalu memeluk Lucio dengan tak kalah erat.
Barra tiba-tiba muncul, menatap aneh ke arah mereka berdua yang masih berpelukan erat. Raut wajahnya dinilai Alea ngajak ribut, mengganggu momennya bersama Lucio.
Alea mengurai pelukannya dengan Lucio. Ia lalu menatap sinis ke arah Barra yang duduk di sampingnya, meraih remote TV dan menyalakannya.
"Cih. Kamu tau nggak, Bar. Gara-gara kamu, aku jadi percaya kalau rangking 250 itu benar-benar ada."
Terdengar cowok itu mendengkus pelan. Ia tak menatap Alea yang tengah menginterogasinya di samping. Barra berusaha tetap fokus ke televisi, meski tidak sepenuhnya berhasil. Dia terusik ketika Alea menyinggung rangkingnya.
"Gue selalu totalitas," ucapnya sangat santai, berusaha menutupi rasa malunya.
"Iya. Saking totalitasnya sampai dapat rangking satu," balas Alea dengan ekspresi datar. "Dari bawah tapi," imbuhnya lalu, mengalihkan pandangannya dari Barra seraya mendengkus pelan.
Alea berlalu dari ruang keluarga, hendak bersih-bersih lalu bergegas melaksanakan ibadah sebelum kehabisan waktu sholat ashar.
Lucio yang kesulitan membuka kotak cakenya, ingin meminta tolong pada Barra, namun segan. Ia ingin segera menikmati cheesecake favoritnya, namun ia tidak bisa memotongnya. Dia harus sedikit lebih sabar menanti Alea selesai beres-beres sepulang dari sekolah.
"Apa?" Barra yang nampaknya peka, rupanya mau bertanya lebih dulu. Ia bisa merasakan ketika Lucio terus-menerus curi-curi pandang ke arahnya, namun ketika ia balas menatap, anak itu langsung mengalihkan pandangan.
"Mau makan itu," ungkap Lucio jujur seraya menuding cake yang Alea bawa menggunakan telunjuk mungilnya.
Barra menatapnya heran. "Makan tinggal makan."
Bibir mungil Lucio mengerucut, kesal terhadap ketidakpekaan Barra. "Nggak bisa. Potongin dulu."
Terlihat cowok itu menghela napas malas. Dengan langkah gontai, ia akhirnya bersedia membantu kesulitan Lucio yang hendak menyantap oleh-oleh yang Alea bawa. Padahal, dia boleh saja menolak. Dia tengah menikmati acara TV dan bocah kecil itu mengganggunya. Seharusnya tidak masalah jika dia menolak, tapi nyatanya, dia tetap melakukan.
Melihat Barra ternyata mau menolong masalahnya, Lucio berdiri kegirangan menghampiri Barra. Ia berjalan di samping laki-laki yang tengah menuju dapur guna mengambil pisau.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
