Guys jujur author kangen dan pgn bikin konflik buat mereka, tp udah mau ending. Author ngerasa cerita ini ga ada konfliknya😭 tp yaudah lah, enjoy aja hahaha.
Nanti konfliknya lanjut di seri ke dua aja wkwk, biar lebih brutal😚
Tadinya author kepikiran bikin lanjutan cerita ini di platform lain gt, tp kayaknya ga jadi deh. Ak cinta wetpet, ak suka nulis di sini, wkwk.
Fyi, ini part terakhir ya guys.
Suara hewan hewan malam mengisi kesunyian kala itu. Rintik hujan baru saja turun di luar. Laptop yang menyetel sebuah podcast diabaikan oleh seorang remaja yang sejenak nampak murung. Pikirannya berkelana tak tentu arah. Begitu riuh isi kepalanya.
Sampai akhirnya, suara derit pintu kamarnya berhasil memecah konsentrasinya. Ia menoleh ke belakang, mendapati gadis yang di kaki kecilnya terpasang sepatu merah berhiaskan pita, berdiri memeluk boneka beruang yang ukurannya bahkan lebih besar dibanding tubuhnya. Tangan mungilnya lah yang tadi mendorong perlahan pintu tersebut.
Langkah kecilnya sedikit demi sedikit menggapai sesosok yang lebih dewasa darinya, tengah duduk dan memberinya senyum tipis dari kejauhan.
"Abang," panggilnya pada sosok itu. Raut wajahnya nampak masam. Bibir mungilnya ditekuk ke bawah.
Sosok itu lalu mengangkat tubuh kecil adiknya untuk ia pangku. Tangannya dengan telaten merapikan poni bocah gembul di pangkuannya.
"Adik kesayangan abang udah mam?" tanyanya membuka percakapan. Sejak tadi ia lihat, adiknya hanya diam, mengunci bibirnya rapat-rapat dengan wajah ditekuk masam.
Gadis itu menggeleng lesu, masih menunduk sedih. Kedua tangan mungilnya lalu melingkar di dada bidang sosok yang sangat ia sayangi, melebihi rasa sayangnya pada apapun dan siapapun di dunia ini.
"Loh kenapa belum mam? Nanti perutnya sakit loh." Saat bersama adik kecilnya, tak ada istilah seram ataupun kejam seperti yang orang-orang sematkan padanya. Ia penuh kasih, dan sangat hangat.
Bocah itu lagi-lagi hanya menggeleng lesu. Sang kakak dibuat bingung. Tangan kekarnya dengan telaten mengusap-usap serta menepuk kecil punggung sempit bocah itu guna menyalurkan rasa tenang dan aman.
"Nana benci Dad," ujarnya tiba-tiba. Setelahnya, ia baru mau mengangkat wajahnya yang telah bersemu merah dengan mata belo berkaca-kaca.
"Hiks. Nana benci Dad sekali, Abang," adunya lagi, lalu mengalir dengan deras cairan bening dari mata belonya.
Belum selesai masalahnya sendiri, kini masalah lain datang menyapa. Hidupnya telah banyak berubah, dan ia tak bisa protes pada sang pemilik hidup. Bahkan untuk sekedar bertanya mengapa ini terjadi padanya pun, ia tak bisa. Ia tak pernah menemukan jawabannya.
"Kenapa begitu? Hmm? Nana nggak boleh begitu sama Daddy. Daddy bisa sedih loh kalau dengar Nana sayang bilang gini." Arjuna dengan sangat lembut memberi pengertian pada bocah yang masih menangis sesenggukan di pangkuannya.
Bocah itu makin terisak. "Dad bohong. Daddy bilang mau datang ke sekolah Nana. Tapi Dad tidak datang, Abang." Bocah itu meluapkan kesalnya masih dengan diiringi isak tangis.
"Nana juga sedih Abang tidak pulang-pulang," imbuhnya lagi, menumbuhkan perasaan bersalah di benaknya.
Bocah itu makin sesenggukan, membuat Juna mau tak mau berdiri dan menggendongnya. Ia terus meminta maaf pada bocah yang sangat ia sayangi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
