47 || LIKU PENUH LUKA
"Barra mana, Sayang?" Sienna yang tengah menata makanan menanyakan keberadaan Barra yang pagi ini tidak nampak batang hidungnya. Alea menuruni tangga seorang diri. Kondisi putrinya juga terlihat tidak baik-baik saja. Alea kelihatan tak bertenaga.
"Semalem bilang mau ke rumahnya pagi ini. Nggak tau ada urusan apa," sahut Alea tanpa menatap sang mama. Ia menunduk untuk menghindari keluarganya menyadari kondisi matanya yang sembab.
"Oh iya, tadi malam ada yang denger suara ledakan gitu nggak? Kayak suara tembakan gitu."
Semua orang yang ada di meja makan spontan menghentikan aktivitasnya masing-masing, begitupun Alea. Mereka semua terkejut juga tidak percaya dengan apa yang Alvino ucapkan.
"Ledakan?" ulang Sienna dengan raut tak percaya. Saat melihat putranya mengangguk, ia melanjutkan. "Salah dengar kali."
"Nggak Ma, jelas banget kedengarannya di halaman belakang. Orang aku itu baru balik dari rumah Mahesa. Pas aku cek sih nggak ada apa-apa. Tapi suaranya jelas banget."
Mereka semua saling pandang, terkecuali Alea. Ia melahap jeruk yang sudah dikupas, menunduk sembari berpikir keras tentang cerita Alvino barusan.
"Alea, kakak boleh minta tolong nggak? Lucio nggak mau sekolah. Kayaknya lagi ngambek, tapi nggak tau kenapa. Kamu mau bujuk dia? Barangkali kalau sama kamu, dia jadi mau."
Obrolan mereka terpaksa harus berhenti setelah Alvian datang, bergabung di meja makan. Alea yang merasa diajak bicara, dengan terpaksa mendongak.
"Loh mata kamu kenapa? Kok merah-merah gitu?" kejut Alvian begitu Alea bertatapan dengannya.
Alvino yang duduk di seberang Alea otomatis ikut memperhatikan. Wajahnya terlihat mencibir. "Paling juga abis gelud sama suaminya. Kayak gak tau suami Alea aja sih, Kak," ejeknya terang-terangan.
"Kamu nangis Alea?" tanya Sienna dengan raut khawatir.
"Iya. Abis ngedrakor semalem." Alea terpaksa berdusta tentang alasannya menangis. Jika dia mengatakan tidak menangis, mereka akan semakin tidak percaya. Bengkak di matanya sangat khas orang yang habis menangis lalu tidur.
"Oalahh, kebiasaan." Sendy yang duduk di sampingnya, mencibir, percaya dengan alasan adiknya.
"Iya udah aku ke kamar Cio dulu. Aku nggak janji dia mau tapi ya Kak," pesan Alea sebelum akhirnya meninggalkan ruang makan menuju kamar Lucio.
Tok tok tok.
"Cio? Tante Alea boleh masuk?" Alea bersuara cukup keras, namun tak juga mendengar sahutan dari dalam.
Perlahan, tangannya menggenggam gagang pintu, lalu mendorongnya agar pintu terbuka. Pemasangan yang pertama kali ia tangkap adalah kakak iparnya yang terlihat tengah membujuk Lucio yang masih meringkuk di atas kasur.
"Biar aku coba, Kak," ucap Alea pada Yasmine yang langsung berdiri memberinya akses lebih luas untuk mendekati Lucio.
"Kakak sarapan aja dulu. Cio biar aku yang bujuk."
"Makasih ya Alea. Kalau gitu kakak ke meja makan dulu ya. Kamu nanti langsung nyusul kalau udah selesai."
Setelah kepergian sang kakak ipar dari kamar keponakannya, Alea melangkah mendekati Lucio yang berbaring memunggunginya. Dia tahu, anak itu sudah terjaga. Tapi entah apa yang membuatnya tiba-tiba manja seperti itu. Biasanya tidak pernah.
"Cio? Bangun yuk, sekolah. Nanti kamu telat loh."
"Nggak mau!" sahut Lucio ketus.
"Cio kok jadi gini? Kamu kenapa, hm? Ada temen yang nakal di sekolah? Apa gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Novela JuvenilUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
