🍉 New Journey

24K 564 74
                                        

Guys I have a little attention. I have writer's block, cukup lama sampe bertahun-tahun (crying). Dan memutuskan untuk revisi alurnya. I hope you still enjoy it. I'm so sorry guys. Aku menulis untuk sesuatu yang membuat nyaman, dan ternyata yang kemarin bikin ga nyaman gais haha.

So, let's get started for the new journey.

Oh iya guys aku juga punya rencana buat nerusin cerita ini sampai anak-anak Barra nanti wkwk. Aduh aku tidak sabar. Apa kalian ga penasaran gimana Juna tumbuh, jadi bad boy apa good boy ya itu anak wkwk. Yang penting bukan boboiboy. Semoga kalian berkenan ngintip ceritanya nanti ya.

Kalian kalau lupa alurnya baca part sebelumnya yaa, maafkan terlalu lama menghilang 😔

66 || NEW JOURNEY.

"Bar. Rumah ini tuh terlalu besar kalau cuma kita bertiga yang nempatin."

Barra yang tengah memandangi foto pernikahannya yang terpajang besar di dinding kamar, menoleh karena keluhan Alea yang bersandar di kepala ranjang seraya mengelus perutnya.

"Ya udah tinggal bikin anak yang banyak biar rame. Gitu aja ribet," kata Barra dengan entengnya, menyusul naik ke atas ranjang lalu gelendotan di pundak Alea, hobi barunya.

"Bikin aja sendiri sana." Alea melirik Barra sinis, memukulnya dengan bantal hingga cowok itu memisahkan diri dari pundaknya.

Barra memasang tampang bodohnya. "Lah? Kalau bisa bikin sendiri juga aku udah bikin. Sepuluh," ucapnya seraya mengangkat sepuluh jarinya.

Alea menggeleng seraya berdecak heran. Kadang ia bertanya-tanya, kemana perginya Barra yang dulu selalu sensian, tukang ngamuk, judes pula.

Sekarang kelakuannya hampir sama dengan Juna, kekanak-kanakan, dan itu membuat kepala Alea kian pening. Juna saja kalau rewel sudah cukup membuat Alea pusing, sekarang ketambahan bapaknya yang ikut-ikutan seperti Juna.

"Rumah ini aman Sayang, tenang aja. Delapan belas tahun aku tinggal di sini, badanku masih utuh semua. Palingan kalau malam suka kedengaran cewek nangis, sama kadang ada penampakan dikit-dikit, gak ngaruh."

Alea melotot kaget, kembali memukul Barra dengan bantal tidurnya. "Barra!" tegurnya garang.

Bukannya takut, Barra malah tergelak puas. Ia tertawa sangat kencang, lalu kembali memeluk pinggang Alea dan gelendotan di pundaknya.

"Bercanda Sayang," bisik Barra, mengecup pelipis Alea sekali, kemudian kembali berbicara. "Ini kan amanat papa sebelum ke Kanada sama mama dan mutusin buat rehat dari semua urusan bisnis. Mahesa juga gak mau nerusin dan milih ke Jerman. Terus siapa yang nempatin rumahnya kalau bukan aku?"

"Rumah ini saksi bisu atas semua tangis dan ketakutan yang udah aku lalui Al. Aku mau hapus semuanya, dan ganti dengan kenangan yang lebih baik sama kamu dan Juna."

Alea tersenyum simpul, mengusap rambut Barra di sampingnya. "Gapapa, kita lewatin apapun yang terjadi sama-sama. Nggak boleh ada salah paham lagi, sesepele apapun itu kamu harus cerita ke aku. Ya?"

Barra mengangguk sekali, kemudian melepaskan pelukannya di tubuh kecil Alea. Ia memajukan badannya, mendekati perut Alea yang belum begitu membesar.

"Halow Sayang, baik-baik di sana ya. Papa janji bakal berusaha bikin kamu merasa beruntung karena terlahir jadi anak papa. Papa, mama dan Kak Juna love you," bisik Barra begitu romantisnya pada calon anaknya, tak melupakan mengecupnya cukup lama.

ALEA'S Journey Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang