Dilarang komen next, lanjut, beserta jajarannya. Gweh tulis di awal biar kalian baca. Polow akun gweh sabi kali hshahha.
23 || OUR PRIDE SCHOOL
Di pagi hari, telinga cowok bersinglet hitam itu sudah dibuat pengang begitu mendengar teriakan nyaring dari pita suara milik satu-satunya perempuan yang menghuni apartemennya.
"Berapa kali sih aku bilang jangan sembarang buang baju kotor?! Taruh keranjang kotor, Barra!"
Terganggu dengan teriakan itu, Barra akhirnya bangun. Ia duduk seraya mengusak rambutnya hingga terlihat acak-acakan. Matanya yang masih setengah terpejam menatap ke arah Alea yang berdiri di depannya seraya berkacak pinggang.
"DENGER GAK SIH DIAJAK BICARA?!"
Spontan mata Barra yang tadi belum sepenuhnya terbuka, langsung terbuka lebar begitu teriakan Alea terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Suaranya naik beberapa oktaf. Pun dengan kesan ngegasnya kian jelas. Dia terkejut.
"Berisik banget sih pagi-pagi! Ganggu orang tidur aja," kesalnya, menyibak selimut lalu beranjak dari ranjang.
Ia meraih karet hitam yang tergeletak di nakas untuk mengikat rambutnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sengaja ingin membuat Alea kesal, Barra mengabaikan istrinya yang masih menceramahi kebiasaan buruknya. Melihat Alea emosi, rasanya Barra mendapatkan kepuasan tersendiri.
Beralih dari melihat Barra yang mulai masuk ke kamar mandi, Alea memperhatikan meja belajarnya yang beberapa hari yang lalu sudah ia rapikan, namun sekarang sudah kembali berantakan. Buku-bukunya berserakan sampai ada yang jatuh di bawah meja. Dia yakin ini pasti ulah Barra yang selalu asal-asalan mengambil buku pelajarannya.
"Tante jorok banget mejanya," komentar Lucio yang baru masuk setelah mengambil susu kotak dari kulkas.
"Bukan Tante, tapi Om Barra," sangkal Alea yang langsung membereskan meja tersebut agar kembali rapi. Dia tidak tahan melihat sesuatu yang tidak rapi. Tanpa menatap Lucio yang berdiri di ambang pintu, ia melanjutkan ucapannya, "kamu ke meja makan aja dulu, nanti Tante nyusul."
Menunggu Barra selesai mandi, Alea memanfaatkan untuk mengaplikasikan skincare rutinnya sebelum berangkat sekolah. Cukup banyak rangkaiannya, sampai Barra selesai mandi pun ia masih duduk di depan cermin untuk mengoleskan sunscreen di wajah sebagai rangkaian penutup.
Menutup tube sunscreennya, Alea melihat dari pantulan cermin saat Barra tengah membuka almari dan meraih kaos hitam polos serta jas almamater yang tergantung di sana. Mengetahui itu, Alea berdiri menghampiri Barra.
Membuka almari, Barra tak tahu apa yang hendak Alea ambil. Yang ia lihat, perempuan itu sudah siap berangkat sekolah dengan penampilan rapinya seperti biasa. Setelah menutup almari, Barra dapat melihat Alea meraih seragam putih yang jarang ia pakai.
"Pakai ini. Kamu mau sekolah, bukan main," tutur Alea seraya menyodorkan kemeja putih pendek milik Barra.
Cowok itu menggeleng. "Males."
"Males apanya sih? Kamu itu mau sekolah, Barra. Pakai seragam, jangan pakai kaos. Bisa bedain, kan, mana tempat buat main, mana tempat buat belajar?"
Barra yang lama-lama malas mendengar celotehan panjang Alea yang selalu mengomentari kelakuannya pun mendengkus kasar. "Buta mata lo? Udah jelas pakai seragam gini," gerutunya, menunjukkan jas almamater yang belum ia kenakan, namun akhirnya ia tetap menerima kemeja putihnya setelah Alea terus menatap matanya, mengisyaratkan agar menuruti kemauannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
