🍉 Amukan Meli

15.3K 565 12
                                        

32 || AMUKAN MELI

Saat mendapati Alea murung di dekat dapur, Barra tak bisa menebak apa yang menjadi penyebab perempuan itu tak lagi hiperaktif seperti biasanya. Sejak tadi, Alea hanya menatap kosong ke arah jendela dapur yang belum tertutup. Tangannya bergerak lemas mengaduk-aduk coklat tanpa menatapnya.

Barra tak tahu apa saja yang terjadi dengan Alea selama ia meninggalkannya sendirian di apartemen karena ia harus berangkat sekolah. Mengapa Alea tidak sekolah? Dia memang tidak sekolah. Bukan hanya untuk hari ini, melainkan esok, dan seterusnya. Alea sudah resmi keluar dari Bina Bangsa. Dia memutuskan keluar. Meski Barra sudah memintanya untuk mempertimbangkan lagi keputusannya agar tidak menyesal di akhir, Alea tetap pada pilihannya.

"Udah makan?" tanya Barra, menghampiri Alea yang hanya melamun. Entah sadar atau tidak bahwa ia sudah pulang.

"Hm." Alea bergumam singkat tanpa menatapnya.

Dilihatnya ponsel ber-casing biru yang tergeletak di atas meja, tepat di samping secangkir coklatnya. Berbeda dengan cangkir putih yang Alea aduk, ponsel itu dibiarkan tanpa disentuh. Padahal, Barra bisa melihat sejak tadi ponsel itu terus menyala lantaran notifikasi yang beruntun muncul.

"Ada kejadian apa selama gue sekolah?" Barra mengisi tempat kosong di depan Alea.

Ia berhadapan langsung dengan istrinya yang tetap murung padahal sudah ia tegur.

"Gapapa."

Ponsel Alea menarik perhatiannya. Tidak biasanya perempuan itu mengabaikan notifikasi yang muncul. Barra tidak sadar sejak kapan ia hapal dengan beberapa kebiasaan kecil Alea, salah satunya tidak pernah mengabaikan notifikasi apapun yang muncul di ponselnya. Dia selalu membukanya lantaran takut itu notifikasi penting dari keluarganya. Mengapa sekarang tidak lagi seperti itu?

Ragu-ragu, Barra meraih ponsel itu. Sebelum membukanya lebih jauh, lebih dulu ia meminta izin. "Boleh gue liat?"

Barra yakin, ponsel itu bisa jadi pemicu utama murungnya Alea. Terlihat sekali perempuan itu dengan sengaja enggan menggunakan benda pipih tersebut.

Meski tidak mengiyakan, Barra melihat Alea yang mengangguk. Itu artinya, perempuan itu tak keberatan jika ia membuka ponselnya. Tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin mengecek, apa ada sesuatu yang membuat Alea terlihat kecewa.

Tak Barra sangka, handphone Alea ternyata tak dikunci. Ia bisa membukanya langsung tanpa harus memasukkan nomor pin atau kata sandi.

Melihat banyaknya notifikasi rupanya muncul dari Instagram, dahi Barra dibuat mengernyit dalam. Ke-dua alisnya menukik tajam hingga hampir menyatu lantaran bingung, berusaha berpikir keras, ada apa di Instagram Alea sampai mengundang ratusan bahkan mungkin ribuan komentar dari akun-akun yang rata-rata fake.

Ingin segera mengobati rasa penasarannya, Barra langsung membuka aplikasi itu tanpa basa-basi.

Hanya ada dua foto di akun Instagram istrinya. Pengikutnya pun tak seberapa. Namun, kolom komentar dua foto itu sama-sama dipenuhi oleh ribuan akun.

Dengan sabar, ia menggulir dari atas, membaca satu-persatu komentar-komentar dari akun-akun random itu.

bluemoon_2h
Guys jangan lupa isi petisinya yaa! Link-nya udah kesebar di grup sekolah. Jangan sampe ada pelacur di sekolah kita.

arunapraditia__
Ayo guys isi petisinya, najis banget di sekolahnya kita ada lonte hshahha.

agraharsito
Lo kalau gak cantik minimal punya harga diri gitulah

ALEA'S Journey Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang