Ini cerita konfliknya kayaknya ringan banget dah, tapi gapapa deh wkwk. Enjoy guys.
Song List: Maze - Yongzoo
Ini lagunya sangad enakeun. Cek sj di mulmed.
25 || INGKAR
Menyeka keringat yang masih mengucur di pelipisnya setelah olahraga sebentar dengan bermain basket bersama ke-tiga kawan sablengnya, cowok berjersey hitam itu mengaku sudah cukup penat jika terus melanjutkan permainan.
"Udahan yok. Udah sore juga," teriak Fero usai mengambil bola yang memantul setelah berhasil ia masukkan ke dalam ring.
Barra, Galih serta Gavin menyetujui. Ketiganya turut menyusul Fero yang melangkah ke tepi lapangan untuk mengambil barang-barang mereka yang tergeletak begitu saja di bangku penonton.
"Lo langsung balik?" tanya Galih pada Barra yang tengah meneguk air mineralnya.
Barra mengangguk, kemudian mengaliri kepalanya yang terasa gerah dengan air dingin yang tersisa setengah dari botolnya.
Ketiganya berjalan bersamaan keluar dari area lapangan basket. Mengingat tempat parkirnya berbeda dengan ke-tiga temannya, Barra berpisah di pertigaan koridor.
Sesampainya di lobby, yang seharusnya Barra berbelok mengambil jalur kanan untuk menuju parkiran, justru melangkah lurus. Tepatnya, setelah ia melihat sesuatu yang sangat dia kenali berada tak jauh dari tempatnya.
"Lama banget, ditungguin dari tadi juga."
Barra menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan kedatangan Amara yang secara tiba-tiba ada di sekolahnya. Perempuan itu bahkan terlihat sangat rapi, bersandar di pintu mobilnya.
"Ada apa?" Barra yang memang tidak tahu dengan tujuan datangnya gadis itu pun bertanya.
Terlihat, Amara langsung berdecak kesal setelah Barra bertanya. "Kamu gimana, sih. Bisa-bisanya lupa. Kan aku mau ajak kamu ketemu Papi sama Mami."
Astaga. Bagaimana bisa Barra melupakan hari ini dia ada janji dengan Amara untuk ikut pergi bersama gadis itu, berlibur di kapal pesiar yang sudah disewa oleh ayah Amara untuk pertemuannya dengan mereka.
Ini adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga Amara setelah beberapa bulan yang lalu mereka disibukkan dengan urusan bisnis yang amat padat. Barra hanya mau bertemu mereka ketika ada Amara, dan dua Minggu yang lalu, gadis itu melakukan liburan perayaan ulang tahun sahabatnya di luar negeri.
"Jadi, kan? Jangan bilang kamu ada acara," selidik Amara menudingnya dengan telunjuk.
Barra menggeleng, menangkap telunjuk Amara di depan wajahnya. "Nggak. Gue pulang dulu siap-siap."
Gadis itu mengangguk senang. Sebagai ungkapan kebahagiaan, ia sampai mencium pipi kanan Barra. "Iya udah aku ke salon dulu mau ganti hairstyle. Kamu jemput aku di sana aja, nanti aku share loc."
"Hm. Gue balik dulu. Hati-hati, jangan ngebut," pesan Barra ketika Amara membuka pintu mobil.
Gadis itu semakin tersenyum lebar, reflek hormat di depan Barra. "Siap, bos."
🍉
Melihat sosok kakak tertuanya sudah duduk menunggu di sofa, Alea lekas-lekas membawa teh hangat yang ia buat untuk Alvian yang datang untuk menjemput Lucio---putranya.
"Lucio mana?" tanya pria bersetelan formal seraya celingukan mencari keberadaan putranya yang telah menginap beberapa hari di tempat adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
