Gweh gatau beberapa dari kalian ada yg baca-baca ulang part-nya sampe view-nya jadi kehitung double, atau emg banyak yg siders, tp dilihatnya nginjek angka 1k dan votenya ga sampe 300😃. Gpp gweh baik² sj. /senyum paksa.
Tapi woylah selisihnya jauh bgt.
65 || SEBUAH KENYATAAN.
Cukup lama ke-duanya hanya diam. Sampai sekarang, Alea pun tak balas memeluk Barra. Sementara laki-laki itu, meskipun rasanya sangat ingin marah, namun mati-matian ia menekan emosi itu agar tidak sampai muncul ke permukaan. Dan memeluk Alea adalah solusi yang tepat.
"Aku nggak punya banyak kesabaran, Alea," desis Barra tidak suka.
Diamnya Alea membuat Barra berpikir jika perempuan itu tidak menghargai usahanya untuk tidak membiarkan amarahnya muncul.
Lantaran muak saat Alea tak kunjung bersuara dan hanya diam memeluknya, dengan kasar Barra melepaskannya dari pelukannya, kemudian hendak pergi meninggalkan perempuan itu. Dia hanya takut tidak bisa menahan emosi jika berlama-lama dengan Alea. Kemungkinan terburuknya, ia berujung melukai perempuan itu.
"Jangan pergi," cegah Alea, mencekal pergelangan tangan Barra yang bahkan menatapnya dengan tajam. Rahangnya mengeras, memunculkan urat-urat di sekitar lehernya.
Meski sebenarnya takut, Alea harus tetap menghadapi Barra dan segala emosinya. Ia percaya, laki-laki itu tak akan berani bertindak kasar dengannya.
"Duduk dulu. Kita bicarain ini baik-baik," pinta Alea seraya terus mengusap punggung tangan Barra yang ia genggam. Lewat tatapannya, perempuan itu memohon agar Barra jangan terburu-buru tersulut amarah.
Alea bersyukur, Barra tak menolak permintaannya, bahkan mendahuluinya duduk di ranjang dengan terburu-buru.
Dengan perasaan tak karuan, bahkan detak jantungnya sampai berpacu lebih cepat lantaran masih shock dengan situasi ini, mau tak mau Alea harus tetap berbicara. Semuanya sudah terbongkar.
"Sebelum kamu menghakimi aku karena ini, boleh aku tanya sesuatu dulu sama kamu?"
Barra menatap ke sembarang arah, tak mau bertemu pandang dengan Alea yang kelihatannya kecewa. Entah karena apa, Barra pun tak tahu. Ia rasa yang berhak kecewa di sini bukanlah Alea, tapi dia.
Ia kemudian mengangguk dengan napas yang masih terburu-buru.
"Enam bulan yang lalu, tepatnya waktu kamu pamit ke aku dan Juna kalau kamu mau pergi buat urus kerjaan, apa kamu bener-bener cuma ada urusan bisnis? Kamu nggak lagi sembunyiin apapun dari aku?"
Alea memperhatikan dengan jeli bagaimana respon Barra saat ia membahas tentang insiden enam bulan yang lalu. Ia rasa sebelum membahas hal ini lebih jauh, ia perlu mendengarnya sendiri dari Barra.
"Kamu nggak mau jujur, kan, Bar?" Alea tersenyum kecewa saat Barra masih saja tak mau jujur dengannya. Padahal sudah jelas semuanya sudah terbongkar.
"Kenapa kamu bohong ke aku? Kenapa kamu nggak jujur kalau kamu pergi buat operasi? Kenapa kamu nggak jujur kalau kamu punya penyakit itu?"
Barra menoleh kaku saat ia mendengar suara isakan Alea beberapa detik setelah perempuan itu memberinya banyak sekali pertanyaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
