🍉 Apel dan Galeri Seni

18.9K 631 12
                                        

Song List: Ragu Semesta - Isyana Sarasvati
Ini jg lagunya sangad enakeun.

“Harapanku bersamamu, biarlah menjauh. Mungkin kita, kan bertemu. Lain waktu, di alam yang, baru.”

~ I S Y A N A~

27 || APEL DAN GALERI SENI

"Tolong bawa gue pergi dari sini," bisiknya lirih, menduselkan hidungnya di perpotongan leher Alea.

Dengan tetap mengusap dengan pelan punggung kokoh Barra, Alea dibuat tidak paham dengan kemauan cowok itu. Bukankah seharusnya mereka menginap?

"Kan kita nginep," ucapnya mencoba memberi pengertian. Barra mulai mengurai pelukan.

Alea harus mengakui kemahiran Barra menyembunyikan kondisinya yang sebenarnya. Barra tak terlihat habis menangis atau minimal bersedih. Dia tetap dengan ekspresi datarnya seperti biasa.

Namun, Alea tahu dimana ia bisa mendapatkan kondisi Barra yang sebenarnya tanpa ada bumbu kebohongan. Sorot mata laki-laki itu tak bisa membohonginya.

"Gue berubah pikiran."

"Iya udah kita pulang. Pamit dulu sama orang tua kamu. Kamu nggak mau jengukin Mama---"

"Nggak perlu. Kita nggak bakal dikasih izin kalau sampai ketahuan."

Alea mematung mendengar ucapan Barra. Arah pandangnya mengikuti Barra yang tiba-tiba berdiri lalu meraih jaket hitamnya.

"Kita kabur?" tanya Alea, terkejut.

Barra mengangguk, menatapnya dari pantulan cermin. "Di gerbang belakang ada pintu yang penjagaannya nggak seketat di depan."

Alea berdiri, menyusul Barra yang berdiri di dekat pintu. Ia ingin menagih penjelasan dari cowok itu. "Gimana kalau orang tua kamu nyariin?"

Barra tak menjawab, hanya tetap fokus memantau sekitarnya dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Tiba-tiba saja, telapak besar Barra menggenggam tangan kecilnya. Alea seperti tersengat sesuatu merasakan itu. Tubuhnya mendadak tak memiliki tenaga, hanya bisa mengikuti kemanapun Barra membawanya.

"Jangan nyusahin gue," pesan Barra semakin menggenggam erat telapaknya. Cowok itu mungkin takut pergerakannya terbatas karena ada Alea.

Perempuan itu mengangguk, tetap mengikuti Barra yang saat ini sudah sampai di tanah lapang belakang rumah. Beberapa meter lagi, ke-duanya akan sampai di pintu gerbang belakang. Dan sejauh ini, belum ada penjaga yang memergoki mereka.

"Lo manjat dulu, gue liatin."

Alea melotot mendengar perintah Barra yang ia anggap konyol. Memanjat? Dia mengenakan rok. Pergerakannya pasti terbatas. Dia juga tidak bisa percaya begitu saja pada Barra yang melihatnya dari bawah.

"Nggak mau! Nanti kamu ngintip. Aku aja pake rok, gimana mau manjat?" tolaknya kesal, membuat Barra menatapnya malas.

"Gak bakal. Ngapain juga sih gue ngintip. Gak nafsu," cecar Barra, mendorong bahu Alea hingga perempuan itu melangkah terpaksa dengan tidak ikhlas.

Alea menatap tembok pagar yang menjulang tinggi di hadapannya. Apa dia bisa?

"Bar kan aku lagi hamil. Nggak boleh tau manjat manjat gini. Lagian aku juga nggak bisa manjat."

Barra menghela napas berat begitu mendengar alasan Alea yang sejujurnya juga ia khawatirkan.
"Ck, belum-belum udah nyusahin," gerutunya kesal, harus kembali memutar otak untuk mencari cara bagaimana mereka bisa keluar dari sini.

ALEA'S Journey Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang