42 || WHERE IS BARRA?
Silaunya sinar matahari yang menerobos jendela kaca memaksa ke-dua kelopak mata yang masih terpejam rapat itu untuk terbuka perlahan. Bersamaan dengan matanya benar-benar telah menyesuaikan dengan cahaya itu, nyawanya yang tadi masih berkelana juga telah kembali ke dalam raganya.
"Astaghfirullah."
Seseorang yang duduk di kursi tunggu membuatnya terkejut. Dada Alea berdegup kencang, masih shock menatap sosok yang saat ini tersenyum melihat keterkejutannya.
"Mahesa?! Kok kamu di sini?"
Ia gelagapan, bingung bagaimana bisa Mahesa tiba-tiba ada di ruangannya. Ia menatap ke sekitarnya, mencari-cari kemana perginya Barra. Semalam cowok itu masih terlelap mendekapnya. Subuh tadi pun dia masih beribadah bersamanya.
"S-sorry kalau lo terkejut," gagap laki-laki berkaos abu-abu, reflek berdiri untuk menjaga jarak dengan Alea yang langsung duduk menatapnya kaget.
"Maaf Alea, gue tadinya mau jengukin lo, tapi lo masih tidur. Jadi gue tungguin sampe lo bangun," papar Mahesa menjelaskan agar tak terjadi kesalahpahaman.
"Barra mana?" Mengingat hanya ada Mahesa di sana, itu berarti dialah satu-satunya orang yang kemungkinan tahu dimana Barra berada.
"Gue masuk tadi udah sepi, makanya gue tungguin lo sampe bangun."
Menengok jam di dinding, Alea reflek dibuat melotot lagi. Sudah pukul sepuluh pagi dan dia baru bangun. Bagaimana bisa dia tertidur sepulas itu?
"Gue boleh duduk lagi?" tanya Mahesa, lebih dulu meminta izin pada Alea. Barangkali perempuan itu tak nyaman jika mereka terlalu dekat sedangkan posisinya benar-benar hanya berdua.
Alea mengangguk canggung. "Boleh dong, duduk aja. Maaf ya Hes, harusnya kamu bangunin aja tadi nggak apa-apa. Lama nggak? Dateng jam berapa tadi?"
"Santai aja sih. Gue juga baru dateng, jam delapan tadi."
"Hah?!" Alea shock, dan Mahesa tertawa melihatnya. "Baru kamu bilang? Dua jam nungguin orang tidur, gabut banget," sambungnya.
Cowok itu terkekeh kecil. Ia kemudian meletakkan ponselnya di nakas, memfokuskan diri pada Alea yang tak lagi tertidur.
"Kamu sengaja ke sini apa gimana?" tanya Alea setelah menyandarkan tubuhnya di kepala brankar. Merasa lengket pada tubuhnya, ia ingin segera membersihkan diri. Tapi kemana perginya Barra? Dia butuh cowok itu.
"Tadi abis ambil medical check up mama gue, terus kemarin Alvino bilang lo lagi dirawat di sini. Jadilah gue mampir."
"Mama kamu sakit? Sakit apa?"
"Mama gue emang rutin check up tiap bulan sih Al. Ya maklum aja, udah berumur kan emang harus waspada. Takutnya ada penyakit yang serius."
Perempuan itu ber-oh ria seraya mengangguk-angguk. Ia baru tahu, rupanya kebanyakan orang memang melakukan itu. Setahunya, ayahnya juga rutin melakukan pemeriksaan serupa. Dari situ juga dia tahu ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung. Alasan itulah yang membuat Alea kadang harus berpikir dua kali untuk melimpahkan keresahannya pada ayahnya. Dia juga sebenarnya sangat ingin menumpahkan semua masalah dan keresahannya pada ayahnya, seperti permintaan pria itu kala ia menikah, namun dia takut hal itu akan menjadikan beban pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
