67 || BARRA VS JUNA
"Nah udah ganteng. Sekarang Juna turun ke bawah dulu ya, nanti mama nyusul."
Bocah yang sudah rapi dengan seragam sekolah barunya itu mengangguk semangat. Ia langsung berlarian keluar dari kamarnya.
Sementara itu, sosok lain berganti masuk ke dalam kamar yang berjejer almari kaca berisi pajangan mainan robot-robot serta koleksi mobil-mobilan dengan harga yang tak murah. Milik siapa lagi jika bukan putra tunggal mereka.
Barra masuk dengan wajah lesu ditekuk masam. Dasi yang belum terpasang tersampir di lehernya dengan berantakan. Bajunya juga tak dikancing dengan benar. Ia langsung nyelonong masuk, memeluk tubuh istrinya dengan brutal sampai perempuan itu hampir terhuyung ke belakang.
"Kamu dari tadi ngurusin Juna mulu," kesal Barra, mengadu di leher Alea. Ia terus menggesekkan hidung mancungnya di leher istrinya yang mengeluarkan aroma segar. Efek habis mandi.
Alea hanya menggeleng seraya tersenyum tipis menanggapinya. Hal itu tidak terjadi hanya sekali. Barra iri dan cemburu pada anaknya sendiri sudah ia hadapi selama setiap hari setelah hampir sebulan ia tinggal di rumah ini.
"Kamu ini diubah dong kebiasaannya. Masa sama anak sendiri cemburu," ucap Alea seraya menepuk pelan punggung lebar Barra. Cowok itu badannya saja segede kingkong, tapi mentalnya selalu hello kitty waktu ngambek.
Barra masih enggan beranjak dari posisinya. Ia malah semakin nyaman dengan elusan Alea di punggungnya. Tiba-tiba dia ngantuk.
"Ya udah sini aku pasangin dasinya. Nanti kamu telat ke kantornya. Juna juga harus sekolah—"
"Tuh kan Juna lagi." Barra memotong cepat ucapan Alea. Ia mengurai pelukan kemudian duduk di tepi ranjang putranya.
Kalau boleh jujur, Alea ingin teriak saja sekarang. Kelakuan Barra malah lebih parah dari Juna. Rewel dan manjanya melebihi Juna yang padahal masih bocah.
"Astaga Barr, please deh. Juna itu masih kecil. Masih harus dibantu keperluannya Barraa sayangkuu."
Tangan Alea terulur menyentuh kening suaminya. Pria itu nampak pucat, suaranya juga berbeda dari biasanya.
"Pantes," gumam Alea begitu merasakan suhu panas menyentuh telapaknya. Cowok itu berkali-kali lipat lebih manja dan tidak mau kalah ketika sakit.
"Pusingg," rengek cowok itu, tiba-tiba ambruk di ranjang Juna.
"Mau libur dulu ngantornya? Periksa ke dokter," tawar Alea.
Barra menggeleng, kembali duduk tegap. "Nggak masalah. Nanti juga baikan. Hari ini ada interview sekretaris baru. Aku mau seleksi langsung."
"Iya udah sini aku rapiin dasinya. Abis itu turun kita sarapan bareng, kasian anak kamu nungguin kelamaan."
"Juna tuh kita titipin ke tetangga aja nggak bisa ya?" gerutu Barra sembari Alea memasang dasinya.
"Mulaii," sindir Alea, segera menyelesaikan pekerjaannya. Di akhir, ia menarik kencang dasi Barra hingga cowok itu melotot tercekik.
"Ya kamu bantuin juga dong keperluannya Juna kalau nggak mau aku terus yang urus dia."
"Oke! Siapa takut? Mulai sekarang aku yang urus itu tuyul satu. Kamu urusin aku aja mulai sekarang," tantang Barra tanpa pikir panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
