Untuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan.
Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
Song List: I Will Go to You Like the First Snow - Ailee Lagunya enak sangad, kalian harus dengar seenggaknya sekali wkwk.
"Aku mulai menjadi serakah, Karena aku ingin hidup dan menjadi tua bersamamu, menggenggam tangan keriputmu, dan mengatakan betapa hangatnya hidupku bersamamu. Ini hanyalah satu berkat setelah pertemuan yang singkat ini."
~ A I L E E ~ on Indonesian meaning.
Up cepet karena lagi seneng ayang gweh ke Indonesia hshahahahah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
29 || PANTAI DAN HARAPAN
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tak terlalu ramai di hari yang terik ini. Seperti yang Alea minta, Barra benar-benar melajukan mobilnya menuju pantai. Dia sendiri tidak paham mengapa Alea memilih singgah ke pantai bukannya langsung kembali ke rumah dan istirahat.
Sebelum menuju pantai pun, perempuan itu memiliki permintaan lain pada Barra untuk mengantarnya ke sebuah toko bunga lalu membeli sebuket mawar merah yang masih segar dan tidak Barra ketahui hendak diapakan bunga tersebut.
Menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, ke-duanya akhirnya sampai di pantai yang pengunjungnya cukup ramai meski bukan hari libur.
Menunduk menatap tangannya yang menggenggam erat buket mawarnya, Alea berucap lirih tanpa menatap Barra. "aku mau di sini dulu. Makasih udah ngantar. Kalau kamu mau pulang, aku boleh minta tolong?"
Meski Barra belum menjawab dan hanya menatapnya, Alea tetap melanjutkan kalimatnya. "Tolong nanti pesanin taksi buat antar aku pulang. Aku nggak ada cash, kemarin habis buat belanja bulanan. Kamu belum kasih uang bulanan."
"Kenapa nggak minta?"
"Kamu kemarin sibuk sama planning pertunangan kamu. Aku nggak bisa ganggu."
Barra bungkam. Meski batinnya meronta untuk memprotes dan menyangkal ucapan Alea, nyatanya bibirnya tidak mampu melakukan. Dia ingin memberitahu Alea bahwa ia berhak untuk marah dan mengganggu pertunangannya. Alea sangat berhak untuk memintanya lebih fokus padanya dibanding dengan pertunangan itu. Namun akhirnya, dia hanya membiarkan. Entah sampai kapan mereka akan bertahan dengan ego masing-masing yang selalu menyepelekan masalah.
Setelah mengatakan itu, Alea keluar begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Sekedar berpamitan pun tidak. Barra bahkan tak sempat mengatakan hendak menemaninya.
Mungkin saja jika Barra pergi begitu saja. Toh, dia sudah menuruti kemauan Alea untuk mengantarnya ke pantai. Namun, dia sendiri tidak paham mengapa bersikap bodoh dengan menunggu Alea yang bahkan tidak dia tahu kapan akan kembali dari pantai.
Dari dalam mobil, ia dapat memperhatikan punggung Alea yang tak setegap biasanya. Sejauh ini, ia tidak pernah melihat perempuan itu berjalan menunduk tanpa memperlihatkan raut percaya dirinya. Tapi sekarang, Alea sepertinya benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya.