150 vote for next part .
44 || HOW DID HE TELL
"Apa ini juga nggak boleh aku tau?" tanya Alea lagi, menarik kesadaran Barra yang sempat melayang beberapa detik.
Barra tak lagi menahan pergerakan Alea yang menjauh darinya. Cowok itu masih diam membeku. Melihat gelagat Barra, saat itulah Alea tahu, apa yang tadi dia tanyakan memang benar, dan Barra sengaja menyembunyikan.
"Gapapa kalau nggak mau cerita," ucap Alea mendahului Barra. Ia duduk membenahi ikat rambutnya, hendak turun dari ranjang, namun lagi-lagi, Barra menahannya. Tangan cowok itu menarik pergelangannya hingga ia terjengkang ke belakang dan kembali jatuh di depan Barra.
"Iya dia saudara gue. Lo tau darimana?"
Raut Barra yang tegang membuat Alea berpikir yang tidak-tidak di dalam hati. Apa yang terjadi dengan mereka? Mengapa Mahesa justru berpihak pada Alvino, dan bukan pada Barra yang adalah saudaranya sendiri.
"Dari Hesa sendiri," ungkap Alea. Entah hanya perasaannya , Barra berubah murung setelah mendengar jawabannya. Cowok itu lalu tersenyum samar.
"Sejauh mana hubungan lo sama Mahesa?" tanyanya justru keluar dari topik yang dibahas.
"Yang pasti nggak sedekat kamu sama Amara."
Barra tertawa kecil mendengar itu. Alea dibuat kesal mendengarnya. Dia tidak sedang bercanda, tapi Barra menganggap ucapannya hanya gurauan semata.
"Gue sama Amara nggak ada libatin perasaan. Beda kalau lo sama dia. Suka kan lo sama dia?"
Alea tak menjawab. Ia memilih menatap ke arah lain. Melihat gerak-gerik Alea yang sengaja menghindari bertatapan dengannya, Barra mengambil kesimpulan bahwa pertanyaannya barusan memang benar.
"Nggak ada libatin perasaan?" ulang Alea dengan raut meragukan. "Itu kamu ke dia. Dia ke kamu gimana?"
"Ya itu urusan dia. Yang penting gue nggak. Gue nggak bisa ngelarang orang buat jatuh cinta ke siapapun."
Alea mengangguk, dalam hati membenarkan ucapan Barra. Apa yang dikatakannya memang benar. Tapi Alea tak sepenuhnya percaya jika yang Barra katakan benar terjadi padanya.
"Jadi? Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" tanya Alea kembali pada topik bahasan semula.
Barra menaikkan sebelah alisnya. "Ya lo nggak pernah tanya."
"Terus kenapa kamu jadi anak tunggal? Kenapa Mahesa nggak diakui?"
"Kenapa jadi lo yang ribet? Peduli banget lo sama dia," cibir Barra, lalu mengubah posisinya menjadi telentang, tak lagi menghadap Alea.
Alea menghela napas jengah. Justru di sini Barra lah yang menurutnya ribet. Apa susahnya langsung menjawab? Kenapa selalu berbelit.
"Tinggal jawab apa susahnya sih?"
Barra melirik sinis ke arah Alea. "Santai aja kali," gumamnya pelan, namun Alea mendengar.
"Ya nggak salah dong gue anak tunggal papa mama gue. Orang anak mereka cuma gue. Dia cuma anak bokap gue, bukan anak nyokap gue."
"Kenapa dia bilang kamu gak akan akui dia sebagai saudara? Jahat banget kamu ya. Gimanapun dia juga ---"
"Lo percaya gitu aja?" sela Barra cepat, lalu menatap Alea dengan raut heran sekaligus shock.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Teen FictionUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
