60 || THE PROMISE
Barra menjadi semakin tak mengerti ketika melihat Alea tiba-tiba menangis di dalam pelukannya. Ia menatap ke arah ibunya, dan wanita itu hanya menggidikkan bahunya. Melalui kode mata, Firda meminta Barra untuk membawa Alea berbicara berdua di tempat pribadi. Dan beruntung, cowok itu memahami kode yang ibunya layangkan.
Ragu-ragu, Barra menyentuh pipi Alea. Ia membungkukkan sedikit badannya hingga wajahnya berhadapan langsung dengan wajah sembab Alea. Dengan senyum tulus yang terukir di bibirnya, Barra berbicara dengan perhatian pada Alea. "Mau bicara di dalem?" tanyanya.
Alea mengangguk, lantas menghapus air mata yang membasahi pipinya. Air mata haru yang muncul karena tak menyangka bahwa bisa menggapai hal yang semula ia anggap mustahil. Barra ada di hadapannya. Ia tak lagi dibuat panik serta khawatir dengan menghilangnya cowok itu.
Lalu saat Barra mundur untuk mempersilakan Alea lebih dulu berjalan di depannya, justru perempuan itu meraih tangannya. Barra membeku. Alea menggenggam tangannya begitu erat, yang justru membuat Barra semakin was-was. Sebenarnya apa yang ingin Alea bicarakan? Sikap perempuan itu sangat berbeda jauh dari terakhir mereka bertemu.
"Tunjukin tempatnya," pinta Alea. Bola matanya menatap dengan teduh pada ke-dua manik Barra, membuat laki-laki itu semakin deg-degan tak karuan.
Barra mengangguk kaku, lalu menuntun Alea menuju kamar pribadinya.
Begitu sampai di sebuah ruangan dengan pencahayaan minim namun berukuran sangat luas, Alea dibuat takut untuk beberapa saat, lantaran nuansa di dalamnya benar-benar hening. Ada ranjang yang meski terlihat kuno, tapi tetap terlihat elegan. Bed covernya tertata sangat rapi. Ada empat saka dari kayu bermotifkan ukiran-ukiran indah yang menjadi tiang di setiap sudut dipan, dilengkapi kain berwarna putih yang menjadi penutup ranjang.
"Duduk," titah Barra, menuntun Alea untuk duduk di ranjang. Sedangkan Barra berjongkok dengan satu lututnya yang menjadi tumpuan.
"Ada apa?" Barra mengerti dengan keresahan yang sedang Alea alami. Ia dengan setia memandangi perempuan itu dari bawah, menantinya dengan sabar.
Cukup lama Alea hanya diam. Bibirnya terlalu sulit untuk mengungkapkan apa yang ia mau.
"Aku nggak mau kamu pergi." Hanya itulah kalimat yang akhirnya mampu untuk ia ungkapkan.
Barra menunduk, tersenyum tipis lalu mengangguk perlahan. "Nggak Alea. Jangan khawatir. Aku nggak akan pergi sampai sidang perceraian kita."
Alea menggeleng dengan raut tak bersahabat. "Bukan cuma sampai sidang, tapi sampai kapanpun," bantahnya.
Alis Barra naik sebelah. Jika boleh jujur, selain bingung, ia juga mengharapkan hal lain dalam pembicaraan ini. Namun, lantaran tak mau kecewa di akhir jika harapannya tak menjadi nyata, Barra lalu membuang jauh-jauh harapan itu.
Saat melihat Alea tak lagi berbicara, tapi lagi-lagi menangis, Barra reflek berdiri, mengisi tempat di samping Alea. Ada sesuatu yang ingin Alea jelaskan, tapi perempuan itu tak mampu, hingga hanya tangisnya lah yang menjelaskan.
"Kenapa lagi? Hm?" Barra lelah menghadapi situasi seperti ini. Dia tak pernah mengalah dan harus membuang waktunya hanya untuk memahami keinginan seseorang yang bahkan tidak jelas apa maunya.
"Bicara, Alea," ucap Barra, menatap lurus ke depan sana, membiarkan Alea menunduk dengan tangisnya sendiri. Ia hanya ingin memberi Alea ruang untuk meluapkan emosinya. Jika ia ikut campur, ia takut Alea akan marah.
"Aku bukan Tuhan yang tau mau kamu kalau kamu nggak bicara," imbuhnya, lalu menghela napas berat. "Aku juga bingung, bukan cuma kamu," pungkasnya.
"Aku nggak mau cerai dari kamu!" Akhirnya, setelah hanya menangis dan begitu kesulitan mengatakan, Alea telah mampu mengungkapkan keinginannya. Ia berteriak, meluapkan keresahannya. Keresahan yang timbul jika Barra benar-benar akan menceraikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Fiksi RemajaUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
