Gue tidak akan bosen ngingetin kalian buat jangan gumoh karena part ini panjang.
Kasih semangka di sini dulu baru boleh baca.
17 || BELANJA BULANAN PERTAMA
Alea memiliki kebiasaan yang cukup membuatnya bersyukur dan beruntung. Selarut apapun dia terlelap, dia tetap akan terbangun jam empat pagi. Kebiasaan itu membuatnya merasa sangat diuntungkan karena dia tidak akan ketinggalan melaksanakan ibadah solat subuh meski tidak ada yang membangunkan.
Setelah hanya diam mengumpulkan nyawanya, ia beranjak dari ranjang lalu mendekati Barra yang masih terlelap di sofa dengan posisi tidur yang sama seperti tadi malam. Mungkinkah Barra tidak bergerak sejak semalam?
"Bar bangun!"
Dengan setengah malas, Alea membangunkan Barra. Matanya setengah terpejam, lalu berjongkok di dekat kaki Barra. Tangannya terus menggoyangkan kaki Barra yang dipenuhi bulu.
"Barra!"
"Hmmh."
"Bangunn."
Barra bergerak, yang tadinya Alea pikir cowok itu hendak bangun, rupanya hanya berganti posisi tidur, membelakanginya.
"Bangun Bar sholatt!" kesal Alea terus menggoyangkan kaki Barra, tapi cowok itu tetap diam.
"Bar kamu sholat gak sih?!"
"Gak."
"Hah? Kenapa?" Mata Alea terbuka sempurna mendengar Barra yang terang-terangan mengaku tidak sholat.
"Kamu PMS? Cowok sekarang bisa PMS juga ya?"
"Bar!" Lantaran kesal hanya diabaikan, Alea berteriak tepat di telinga Barra, mengejutkan cowok itu hingga dia bangun dengan wajah ditekuk kesal.
"Apa sih?! Berisik banget!" sentaknya dengan mata terpejam. Ia berjalan malas meninggalkan Alea.
Berpikir Barra hendak mengambil wudhu, Alea mengikutinya dari belakang. Namun begitu melihat Barra justru ambruk di atas ranjang, Alea benar-benar merasa kesabarannya tengah diuji sekarang.
"Kok tidur lagi sih!"
Kehabisan kesabaran, Alea mencabut bulu-bulu yang menempel di kaki Barra sampai cowok itu spontan berteriak dan duduk dengan raut kesal.
"Apa sih! Rusuh tau gak lo?! Gue capek, mau tidur! Lo pikir enak tidur di sofa?!" bentak cowok itu, mengacak rambutnya frustasi.
"Udah pagi," tutur Alea pelan menunduk dalam seraya menautkan jari-jemarinya di bawah, membuat Barra semakin kesal.
"Buta mata lo?! Masih gelap! Tolol banget jadi orang. " Alea semakin menunduk mendengar respon Barra yang terdengar kasar. Tidak bisakah cowok itu berbicara baik-baik? Dia hanya berniat baik membangunkannya agar tak tertinggal melakukan kewajibannya, tapi respon Barra sangat mengecewakan.
Enggan mendengar lebih banyak kata-kata yang keluar dari mulut Barra yang kebanyakan membuat batinnya terguncang, Alea berjalan meninggalkannya dengan wajah tetap tertunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Novela JuvenilUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
