Tetap up meski target belum nyampe🤟
Gweh minta tolong bantu rekomendasiin ceritanya dong wkwk
15 || KEPUTUSAN
Setelah berhasil meyakinkan Alvino bahwa dia akan baik-baik saja, kini Alea bisa bicara empat mata bersama Barra, duduk berdampingan di kursi panjang yang tersedia di sepanjang koridor.
Keduanya sama-sama bungkam, tak ada yang buka suara. Alea yang gerah body berdekatan dengan Barra lama-lama tidak tahan. Ia menoleh ke samping dengan tampang kesal, menatap Barra yang hanya diam membisu.
"Jadi ngomong nggak sih?! Kamu itu ditungguin dari tadi gak sadar diri banget," sungut Alea, membuat Barra menoleh padanya.
Barra mengusap pelan kupingnya yang mendadak panas mendengar teriakan nyaring Alea. "Gue gak budeg, ngomong pelan-pelan bisa gak?" ucapnya datar. Alea membuang muka, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Gue bukan tanpa alasan minta kita nikah. Bukan gara-gara takut juga kalau lo bawa masalah ini ke pihak berwajib dan gue dipenjara."
"Terus?" tanya Alea tanpa menatap sang lawan bicara.
Terdengar helaan napas panjang dari Barra. Meski tak melihatnya secara langsung, Alea tahu Barra menunduk lesu.
"Percaya gak percaya, anak itu nyamperin gue di mimpi."
Baru berucap seperti itu, Alea sudah tertarik mendengar lebih lanjut. Ia yang semula menatap lurus ke depan seolah enggan merespon Barra, kini menoleh, melihat langsung bagaimana Barra ketika menunduk dan menghela napas berat.
"Dia ngatain gue pembunuh." Barra menyambung ceritanya, dan Alea dibuat ternganga. Perempuan itu terpaku, memegangi perutnya sendiri.
Tak mendengar respon Alea, Barra kemudian mendongakkan kepalanya. Ia menatap ke arah Alea, kemudian beralih pada sesuatu yang tengah dipegangi Alea. Perutnya.
"Gue .... "
Alea sedikit melebarkan pupil matanya, menanti Barra menyelesaikan kalimatnya. "apa?"
"Gue gak bisa dikatain pembunuh sama dia," ucapnya jujur, melirik perut Alea. Entah mengapa, perasaannya langsung terganggu setelah mengingat apa yang dikatakan anak itu di mimpinya. Seperti perasaan tidak rela.
Tangan Alea bergetar, bertengger di atas perutnya. Dia tak sepenuhnya percaya pada cerita berbau horor ini, namun ketika melihat bola mata Barra, terpancar kesungguhan di sorotnya.
"Kamu serius, mau nikah?" tanya Alea memastikan. Sejujurnya Alea tak yakin akan mengiyakan permintaan Barra atau tidak.
Gerak-gerik Barra yang masih ragu membuat Alea semakin ragu. Cowok itu saja ragu, tapi mau mengajak anak orang menikah.
"Hm," gumamnya seraya menatap dalam manik matanya. "Gue mau dia tahu kalau gue gak lepas tanggung jawab sama dia."
Alea meminyi-minyikan bibirnya, berniat mengejek Barra. "kemarin aja mau bunuh dia," cibirnya seraya mengelus perutnya dari luar seragam.
"Ck. Kan itu kemarin," elaknya, menyandarkan punggungnya di kursi. Ia lalu menghembuskan napas panjang. "Gue benci memohon sama orang lain, tapi kali ini gue mau," tekannya, menatap Alea dengan wajah datar seperti biasa. Alea yang kesal dengan itu bisa-bisa menonjoknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
Fiksi RemajaUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
